Monday, 11 December 2017

Tanggal 10 November telah ditetapkan oleh pemerintah kita sebagai Hari Pahlawan. Barangkali ada di antara kita yang bertanya: "Masih adakah pahlawan di Republik ini?" Saya kira, pertanyaan seperti itu tidak harus kita terima sebagai sebuah pertanyaan yang negatif. Boleh jadi, ada yang demikian, yang dengan sikap sinis dan apatis bertanya. Namun, saya yakin bahwa pertanyaan seperti itu dapat dilontarkan oleh seseorang yang tulus dan sungguh-sungguh. Pertanyaan yang sama dapat keluar dari orang-orang yang sangat prihatin melihat perjalanan Repulik Indonesia, negara yang kita cintai ini. Mengapa?

Jika kita mau dan berani jujur, bukankah hampir setiap hari kita membaca, mendengar dan menyaksikan, baik melalui media cetak, maupun elektronik akan tingkah dan perilaku yang jauh dari sikap seorang pahlawan? Jika dulu, ketika masih di Sekolah Dasar kita disuguhi kisah nyata tentang orang-orang yang berjuang, rela menderita dan mati demi kemerdekaan Republik, apakah yang kita saksikan pada saat ini? Barangkali, tidak berlebihan jika ada orang-orang yang mengatakan bahwa mereka telah muak, bahkan hampir muntah membaca dan mendengar segala macam berita yang dipertontonkan oleh banyak orang, khususnya para petinggi di Republik ini.

Barangkali kita semua sudah capek mendengar segala janji dan rencana yang muluk-muluk tentang terciptanya pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Namun, dalam kenyataannya, apa yang terjadi? Ketika banyak koruptor kelas kakap belum juga disentuh oleh hukum, bahkan mereka dengan bebas mempertontonkan gaya akrobatiknya, para koruptor baru telah bermunculan. Akibatnya, Republik ini terus dililit hutang, perbaikan ekonomi tidak kunjung tiba. Jutaan rakyat terus meluncur bebas dalam kehidupan penuh derita.

Demikian juga, banyak di antara kita yang telah jenuh mendengar dan membaca rencana dan janji muluk dari pemerintah, khususnya kepolisian tentang terciptanya rasa aman dan nyaman. Karena dalam kenyataannya? Berbagai macam kerusuhan serta terror dan sejenisnya masih saja bermunculan di sana sini. Bahkan di sebuah kota kecil seperti Poso, kita telah menyaksikan sekian banyak korban penembakan yang mengakibatkan maut: ada penegak hukum, pendeta dan ketua sinode.

Lalu apa yang mau kita katakan tentang kehidupan perbankan dengan berbagai tindakan penyelewengan yang berjumlah trilyunan rupiah? Apa yang mau kita katakan tentang dunia pendidikan dengan mutu pendidikan yang semakin merosot? Apa pula yang mau kita katakan tentang penegakan hukum dengan munculnya istilah mafia peradilan? Bagaimana dengan kondisi lingkungan hidup yang telah menyengsarakan sekian banyak penduduk? Apa dan bagaimana pula reaksi dan tindakan 'wakil rakyat' di Senayan serta mereka yang bertugas di Istana terhadap semua penderitaan dan kesulitan tersebut? Dengan sangat sedih kita dapat mengatakan bahwa apa yang sedang kita saksikan, sesungguhnya, tidak mencerminkan tindakan kepahlawanan.

Dalam perenungan hari pahlawan tahun ini, marilah kita semakin menyadari bahwa dalam kondisi bangsa dan negara kita yang sedemikian parah, kehadiran pahlawan semakin mendesak. Republik ini tidak dapat dipulihkan dan dibangun hanya dengan berwacana, berteori, betapa pun baiknya wacana dan teori tersebut. Penderitaan jutaan rakyat di Republik ini hanya dapat dikurangi dan dihilangkan dengan tindakan nyata. Kita sangat membutuhkan Pahlawan dalam arti yang sesungguhnya, yaitu yang berani melawan arus pembusukan yang sedang terjadi di sekitar kita, yang memperbaiki dan meningkatkan taraf kehidupan manusia sebagai ciptaan Allah yang sangat mulia, yang rela dan berani membayar harga demi sesama. Republik ini tidak hanya membutuhkan pahlawan yang berkwalitas, tapi juga kwantitas yang cukup untuk berjuang dalam segala bidang kehidupan.

Untuk itu, kita butuh teladan untuk diikuti. Karena itu, kita menyambut baik adanya Hari Pahlawan, yang kita peringati setiap tahun. Sekiranya lingkungan kita telah sedemikian rusak, sehingga kita kehilangan keteladanan, maka kita dapat kembali merenungkan kehidupan para pahlawan yang telah rela membayar harga, termasuk dengan nyawa.

Tentu saja, teladan yang sempurna adalah Tuhan Yesus sendiri. Dia yang tidak bercacat cela itu telah menyerahkan diriNya secara sempurna bagi seluruh umat manusia. Sejarah telah membuktikan bahwa dalam perjuanganNya di dunia ini, Dia tidak pernah memiliki ambisi dan niat terselubung yang tidak baik dan benar. Dia tidak pernah memperalat manusia demi diriNya. Sebaliknya, Dia 'memperalat' diriNya sendiri dan segala yang ada padaNya demi manusia, demi kebaikan kita bersama. Itulah sebabnya, ketika nyawaNya terancam, Dia tidak melarikan diri, sekalipun kelihatannya ada peluang untuk itu. Itulah sebabnya, ketika ada orang-orang yang kelihatannya ingin menyelamatkan diriNya, Dia malah berseru: "Sesungguhnya, jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika Ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah" (Yoh.12:24). Dengan penuh kesadaran dan keberanian Dia tekun menjalani visi hidupNya hingga selesai (Yoh.4:34 dan 19:30).-