Monday, 11 December 2017

Ada rekan yang pernah mengeluh terhadap kehidupan alumni Jakarta. Dia mengatakan bahwa kehidupan alumni saat ini semakin materialis, hedonis dan sekularis. Nampaknya, pernyataan itu ada benarnya. Namun, tidak berlaku bagi semua alumni. Mengapa? Karena mulai hari ini (Sabtu pagi hingga sore) ada sekelompok alumni Jakarta yang mengadakan satu hajatan besar, yaitu mengadakan sebuah seminar bergengsi dengan tema: Secret gospels and Jesus’ Inner Circle dan sub tema: Membongkar injil yang bukan PB dan Yesus yang bukan Kristus. Seminar tersebut diadakan tiga hari secara berturut-turut: hari pertama adalah untuk akademisi, hari kedua (Minggu) merupakan seminar untuk publik dan ahkirnya hari ketiga (Senin) adalah untuk para pendeta dan Penginjil.

Untuk membahas tema tersebut di atas, panitia tidak tanggung-tanggung. Mereka mengundang seorang pakar di bidang Perjanjian Baru, yaitu Prof. Ben Witherington III, Ph.D dari Asbury Theological Seminary, USA. Jika demikian, tentu biaya seminar akan sangat mahal? Nah ini yang menarik. Meski harus mengundang pembicara luar, panitia dengan berani memutuskan untuk tidak memungut bayaran. Alasannya sederhana: agar sebanyak mungkin jemaat, khususnya akademisi dan pendeta-pendeta dapat mengikutinya, termasuk dari luar Jakarta.

Sebuah Tema Penting

Tema tersebut di atas cukup menarik. Barangkali ada yang penasaran dan bertanya, “Apakah ada ‘injil’ yang sebenarnya bukan Injil?” Untuk itu kita menjawab dengan tegas: “ada”. Itulah yang pernah ditegaskan oleh rasul Paulus. “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus” (Galatia 1:6-7).

Jika kita mengamati teks tersebut dalam bahasa asli (Yunani), maka kita akan memperoleh pesan yang semakin jelas. Di dalam bahasa Yunani, kata “lain” bisa menggunakan “heteros” atau “allos”. Kata “heteros” berarti berbeda dalam arti beda jenis. Misalnya, ayam berbeda dengan kucing. Sedangkan kata “allos” adalah berbeda, tapi masih sejenis. Misalnya, ayam yang satu berbeda dengan ayam yang lain, walau sama-sama ayam. Ketika rasul Paulus menulis “mengikuti injil lain”, kata yang digunakan adalah heteros. Untuk menegaskan maksud dan makna perbedaan itu, kata yang digunakan selanjutnya adalah “ouk allos” (tidak sejenis). Jadi, benar-benar berbeda. Karena itu, Lembaga Alkitab menerjemahkannya dengan “sebenarnya bukan Injil”.

Apa yang ditegaskan oleh rasul Paulus tersebut di atas menjadi nyata dengan munculnya apa yang disebut dengan injil-injil Apokrif pada abad kedua dan ketiga. Disebut injil Apokrif (Inggris: hidden atau tersembunyi, rahasia) karena memang injil-injil tersebut disimpan atau disembunyikan, dalam arti tidak dibacakan secara umum di tempat-tempat ibadah sebagaimana Injil Kanonik, atau Injil yang secara resmi diterima oleh Gereja-Gereja, seperti Matius-Yohanes. Karya-karya yang kental dengan ajaran Gnostik itulah yang kemudian dihebohkan oleh sebagian orang, khususnya sejak naskah-naskah itu ditemukan di Nag Hammadi, Mesir pada tahun 1945.

Perlu ditegaskan di sini bahwa istilah Apokrif telah disalahgunakan oleh kelompok tertentu, yaitu mereka yang menerima injil-injil tersebut. Mereka mengatakan bahwa injil-injil itu disembunyikan karena adanya ketakutan dari bapak-bapak Gereja akan isinya yang dapat menggoncangkan iman Gereja, di mana di dalamnya terdapat ‘kebenaran’ yang tidak ditemukan di dalam Injil Kanonik.

Benarkah demikian? Para ahli tidak sependapat dengan pandangan itu. Itulah sebabnya, Prof. Ben Witherington dan kawan-kawan, termasuk Craig A. Evans, N.T. Wright, Darrell Bock dengan tegas menyatakan sikap mereka yang menolak injil Apokrif tersebut untuk disetarakan dengan Injil Kanonik. Sikap tersebut sejalan dengan sikap bapak-bapak Gereja yang menolak injil tersebut untuk dibacakan di hadapan jemaat. Alasannya jelas, karena ajarannya bertentangan dengan isi Injil Kanonik.

Sebagai contoh, di dalam Injil Kanonik kita membaca bahwa Yudas adalah seorang penghianat yang telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Namun di dalam Injil Yudas, kita dapat membaca bahwa Yesus memuji Yudas lebih dari rasul-rasul lainnya, karena dia telah menyerahkan Yesus untuk disalibkan: “Tetapi engkau akan lebih besar daripada mereka semua, karena engkau akan mengorbankan wujud manusia yang meragai diriku” (56-57). Ajaran tersebut mencerminkan ajaran Gnostik, yaitu kelompok yang mengajarkan bahwa materi itu jahat, sedangkan yang rohani/jiwa itu, baik. Itulah sebabnya, Klemens dari Alexandria, Tertulian, khususnya Ireneus dengan tegas melawan ajaran-ajaran yang bercorak Gnostik tersebut. Ireneus, seorang Uskup dari Lyons, sekitar tahun 180 menulis Adversus Haereses (Melawan Para Bidat), di mana di dalamnya banyak mengutip karya- karya Gnostik tersebut untuk menunjukkan ajarannya yang memang berbeda dan bertentangan dengan Injil Kanonik.

Kesetiaan bapak-bapak Gereja kepada ajaran Injil Kanonik itulah yang perlu diteladani oleh Gereja-gereja masa kini. Untuk itulah seminar tersebut di atas menjadi sangat penting dan relevan. Kiranya ribuan jemaat yang telah mendaftarkan diri mendapatkan banyak berkat dan menjadi berkat bagi jemaat lainnya.-