Monday, 11 December 2017

Tortor Batak - Bona Taon - Adat BatakSemangat kebersamaan dan gotong-royong kini menjadi "budaya baru" internasional. Buktinya? Lihat saja kasus Aceh. Demikian banyak bangsa tanpa pandang agama, bendera politik, bahasa, warna kulit, ras, atau golongan bersatu hati, sepikiran, dan seperasaan bahu-membahu menolong rakyat dan recovery daerah yang mengalami bencana gempa dan tsunami sekaligus. Betapa damainya dunia kalau hal itu terus berlangsung.

MANORTOR

Menari (manortor) salah satu bagian dari acara Pesta Bona Taon. Tapi sebenarnya, jauh sebelum kita salut akan hal itu, orang Batak sudah melaksanakannya. Bahkan, budaya gotong-royong menjadi falsafah hidup suku di Sumatera Utara ini.

Mendirikan rumah tetangga atau rumah saudara bersama-sama, mengelola ladang dan sawah bersama-sama, membangun fasilitas umum bersama-sama, menjadi kebiasaan hidup nenek moyang orang Batak.

Bahkan, orang Batak di perantauan tak sungkan menampung saudara atau tetangga dari kampung yang sama, di rumahnya, terutama bagi yang melanjutkan sekolah.

Masih ingat program marsipature hutana be atau biasa disingkat dengan Martabe? Ungkapan itu berasal dari bahasa Batak. Artinya, membangun desa/kampung masing-masing. Program itu mulai dicanangkan oleh mantan Gubernur Sumut, Raja Inal Siregar tanggal 24 Desember 1989.

Martabe terkesan mementingkan kampung halaman masing-masing. Namun intinya, gubernur kala itu ingin mengingatkan orang Batak yang tinggal di perantauan agar kembali pada sifat kegotongroyongan membangun kampung bersama-sama. Sebab, belakangan orang Batak seperti tanaman semangka, berakar di kampung halaman, namun berbuah di kampung orang lain.

Berbeda Cara

Sesungguhnya, meski orang Batak pernah dicap lupa membangun kampung halaman, barang kali karena sifat kegotongroyongan itu kini telah bergeser ke perantauan. Bagi masyarakat Batak perantauan, semangat gotong-royong masih terus dilanjutkan, walau caranya saja berbeda.

Kalau dulu yang dibangun benar-benar fisik, yaitu kampung yang tertinggal, namun kini bagi warga Batak yang ada di rantau, lebih kepada psikis, yaitu membangun kebersamaan dan melestarikan budaya leluhur.

Wujud nyata kebersamaan itu pada intinya adalah saling memperhatikan dan membantu bila diperlukan, sekaligus mendata perkembangan populasi dari setiap clan atau marga.

Ada pertemua rutin setiap bulan dan bentuk doa bersama (partangiangan). Dalam setiap pertemuan, akan diinformasikan pertambahan keluarga baru (pernikahan), kelahiran bayi, yang sakit, atau juga pengurangan karena ada yang pergi menghadap Ilahi.

Menurut Ir Mangapul Sagala, pengamat masalah budaya Batak yang tinggal di kawasan Cinere, semangat kebersamaan itu diwujudkan dalam perkumpulan marga-marga. Setiap marga Batak Toba, seperti Simanullang, Sagala, Sihombing, Tobing, Pakpahan, Tambunan, Hutapea, Sinaga, dan lain-lain, memiliki perkumpulan masing-masing. Bahkan, sub-sub marga, atau satu garis keturunan, bisa melakukan perkumpulan sendiri karena populasi yang cukup banyak.

Biasanya, pertemuan besar se-Jabodetabek dilaksanakan sedikit-dikitnya sekali setahun, yakni awal tahun. Biasanya, waktu itu dianggap saat yang terbaik untuk berkumpul dan berpesta. Pesta itu disebut Pesta Bona Taon (Pesta Awal Tahun).

Tempat pesta pun tak tanggung-tanggung. Bisa di gedung yang biasanya digunakan untuk pesta pernikahan. Bahkan di kawasan Gelora Bung Karno, di Senayan, yang tentu lebih lapang dan mudah dijangkau dari segala penjuru Jabodetabek.

Biaya yang dibutuhkan bisa mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta, yang terkumpul secara gotong royong. Musik tradisional Gondang Batak tak ketinggalan. Sebab umumnya, pesta diwarnai dengan manortor (menari) bersama.

Sebelum pesta dimulai, kata Sagala, pertama-tama diadakan acara ibadah syukur karena sudah melewati tahun yang lalu dengan baik. Dalam doa syafaat, pendeta dan seluruh yang hadir memohon pasu-pasu (berkat) dari Tuhan agar seluruh keluarga besar yang berkumpul pada saat itu, maupun keluarga yang ada di kampung halaman, mampu menjalani kehidupan di tahun yang baru dan dijauhkan dari mala petaka.

"Terus terang, pengaruh ke-Kristenan dalam masyarakat Batak Toba memang sangat besar. Jadi, setiap acara selalu didahului dengan ibadah atau doa," katanya.

Pesta Bona Taon itu sendiri, kata Mangapul Sagala, juga sebagai sarana kangen-kangenan karena sepanjang tahun tidak bertemu, kenalan bagi keluarga yang baru, atau mengucapkan salam Natal bagi yang tidak sempat saling berkunjung.

"Agak campur-aduk antara life style, Natal, dan awal tahun," katanya pula. Bagi warga Batak rantau, apalagi yang menikah dengan suku atau bangsa lain, sarana inilah yang menjadi ajang mengenal dan menyayangi budaya leluhur.

"Bukan maksudnya membangun semangat primordial, tapi justru melestarikan sifat-sifat yang baik dari budaya itu, seperti gotong royong dan saling membantu," kata E Tambunan.

Menurut karyawan swasta yang sudah lebih dari 30 tahun tinggal di Jakarta itu, bagi anak-anak maupun remaja, acara Pesta Bona Taon bisa sebagai tempat belajar untuk mengetahui silsilah keluarga dan adanya keterkaitan kekeluargaan (martarombo atau martutur).

Dengan demikian, setiap anak mengenal lebih dekat siapa sepupunya, namboru (tante) atau amangboru (om), serta saudara lainnya dari pihak ayah atau ibu.

Selain kebaktian dan kangen-kangenan, sudah pasti acara dilanjutkan dengan makan. Biasanya, disediakan makanan khusus untuk parsubang, yakni makanan bagi mereka yang tidak bisa memakan makanan tertentu karena larangan agama. "Dalam masyarakat Batak, toleransi beragama juga sangat dihargai," kata Sagala.

Seusai makan, acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan, nasihat, dan hiburan. Dalam pesta itu pun praktis akan terlihat peran dari tiga unsur dalam adat Batak, Dalihan Natolu, yakni hula-hula, dongan tubu, dan boru.

Jadi, tak terlihat batas antara sikaya dan si miskin. Sebab, posisi seseorang ditentukan oleh tingkatan dalam Dalihan Natolu tersebut.

Dalam acara yang formal biasanya diisi pula dengan mangulosi (memberi ulos). Misalnya kepada pengantin baru, anggota yang baru kehilangan sanak terdekat, anggota yang memiliki masalah, dan sebagainya.

Tujuannya, agar semua tetap diberkati Tuhan. Jangan ada anggota keluarga besar itu yang masih menyimpan tangis (tarilu-ilu) di tengah pesta itu oleh berbagai masalah hidup.

Acara terakhir saat ini sering pula ditambah dengan hiburan nyanyi lagu-lagu Batak. Penyanyinya, artis Batak Ibukota yang namanya populer atau siapa saja yang hadir mau bernyanyi.

Biasanya jarang yang malu-malu. Maklum, orang Batak yang nada bicaranya keras itu juga sangat dikenal dengan suaranya yang merdu. Tak hanya pandai marende (bernyanyi) tapi juga sambil manortor yang diiringi musik gondang.* (Pembaruan/Rina Ginting)

Sumber: Suara Pembaruan, Sabtu, 29 Januari 2005