Wednesday, 17 January 2018

Dalam ilmu theologia dikenal istilah “Theodicy”, yaitu berasal dari dua kata Yunani: “Theos” (Allah) dan “dikaios” (adil/benar). Istilah tsb pertama kali digunakan oleh Leibniz[1] pada thn 1710. Theodicy dikaitkan dengan usaha kita memahami keadilan dan kebenaran Allah, khususnya dalam masalah dan penderitaan-penderitaan yang terjadi. Pemahaman terhadap “Theodicy” berupaya untuk melihat bahwa di dalam segala kesulitan dan penderitaan yang terjadi, Allah tetap dipercayai sebagai Allah yang baik dan penuh kasih.

Dalam kondisi bangsa kita yang terus menerus dilanda berbagai bencana dan masalah yang mengakibatkan berbagai macam penderitaan, judul artikel tsb di atas merupakan pertanyaan yang sangat relevan dan penting untuk dibahas. Barangkali, beberapa dari dari daftar pertanyaan berikut pernah kita dengar. Atau, malah kita tanyakan, baik secara langsung atau tidak langsung, disadari atau tidak. “Kalau Allah baik, mengapa saya menderita seperti ini?” “Kalau Allah baik, mengapa anak laki-laki saya satu-satunya meninggal dunia?” “Kalau Allah baik, mengapa Dia memanggil pasangan saya begitu cepat?” “Kalau Allah baik, mengapa Dia membiarkan kakak saya kecelakaan dan mengalami kelumpuhan?” “Kalau Allah baik, mengapa Dia membiarkan ayah saya terus menerus sekarat di rumah sakit, hingga kami hidup menderita begini?” Dan di tengah-tengah meningkatnya tuntutan hidup, barangkali banyak orang muda yang bertanya: “Kalau Allah baik, mengapa saya selama bertahun tahun terus jadi pengangguran?” Sedangkan yang lainnya bertanya, “Kalau Allah baik, mengapa doa saya tidak dijawab dan hingga sekarang tidak mendapatkan jodoh?”

Bagaimana kita menjawab pertanyaan tersebut di atas? Apakah Allah sungguh-sunguh baik? Saya kira, semua yang beriman kepada Allah dapat menjawab pertanyaan tersebut di atas dengan tegas: Allah memang baik, sungguh amat baik. Sifat Allah yang sangat baik itu dapat ditemukan dalam lembaran-lembaran Kitab Suci agama manapun.

Satu hal yang pasti.

Ada satu kalimat bijak yang mengatakan, “Apa yang jelas kamu lihat di dalam terang, jangan ragukan, ketika kamu hidup di dalam kegelapan”. Saya kira, nasehat seperti itu sangat tepat diberikan kepada semua orang yang mengalami kesulitan hidup. Kadangkala, masalah kehidupan dapat sedemikian kelam, sehingga kehadiran Allah diragukan, tidak lagi dilihat atau dialami.

Dalam kondisi seperti itu, maka cara yang terbaik adalah mendengar firmanNya. Alkitab, mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru menyaksikan satu hal dengan sangat pasti, yaitu kasih dan kebaikan Allah. Kasih dan kebaikan Allah itu dapat dilihat sejak lembar pertama Alkitab, yaitu kisah penciptaan (Kejadian 1). Ketika membaca bagian tersebut, seorang Rabi Yahudi pernah bertanya: “Mengapa Allah repot-repot menciptakan dunia dan segala isinya? Mengapa Dia bersusah-susah menciptakannya sampai berhari-hari, selama enam hari? Apakah Dia tidak sangguh menciptakannya hanya dalam waktu singkat?” Rabi tersebut menjawab, bahwa sesungguhnya, Allah mampu melakukannya. Tapi hal itu sengaja Dia lakukan di dalam rahmat dan kasihNya yang besar, agar kita semua tidak merusak ciptaanNya, namun semakin menghargainya.

Memang benar, jika kita memperhatikan kisah penciptaan, maka jelas terlihat bahwa “Allah repot-repot”, bukan karena Dia harus menciptakan dunia dan segala isinya, dalam arti ada kewajiban bagiNya. Juga bukan karena ada seorang pribadi yang memaksaNya. Alasan penciptaan adalah diri Allah sendiri yang penuh kasih. Sebagaimana seorang teolog menegaskan: “The reality of creation is the extension of God’s love”. Allah yang penuh kasih itulah yang sangat jelas digambarkan oleh Alkitab. “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh.4:16).

Selanjutnya, jika kita mengamati manusia yang diciptakan Allah tersebut, kita juga melihat bagaimana baiknya Allah terhadap manusia. Allah menempatkan manusia di sebuah taman yang sangat indah, yang dikenal sebagai taman Eden. Taman itu bukan saja indah dan segar karena ditanami dengan berbagai-bagai pohon yang menarik, tetapi juga sejuk karena sekitarnya dialiri oleh aliran-aliran sungai (Kej.2). Bukan saja demikian, Allah yang baik tersebut menyerahkan semua, ya segala ciptaanNya: ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, segala jenis ternak di darat (Mazmur 8) untuk kita nikmati secara GRATIS! Tidak membayar satu sen pun.

Setelah manusia diciptakan, kita membaca, “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka... berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung burung di udara dan atas segala binatang...(Kej.1:28). “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas” (Kej.2:16). Bukankah firman tersebut di atas sungguh menunjukkan betapa baiknya Allah itu? Dengan mengetahui serta menghayati semua itu, sewajarnyalah kita bersyukur kepadaNya. Atau, jika penderitaan sudah sedemikian rupa sehingga membuat kita sulit untuk bersyukur, setidaknya kita tidak lagi mempertanyakan Allah atas segala penderitaan tersebut. Kita tidak lagi menimpakan segala permasalahan yang terjadi dalam diri kita kepadaNya. Sebaliknya, dengan berani mencari permasalahan di dalam diri dan sekitar kita sendiri.- (bersambung).

[1] Seorang ahli filsafat dan matematik dari Jerman (1646-1716).

Mengapa Ada Penderitaan? (2)

Jika kita telah yakin bahwa Allah sungguh-sungguh baik dan penuh kasih, maka pertanyaan yang muncul adalah, bagaimana kita menjelaskan masalah penderitaan dan kejahatan yang ada di sekitar kita? Bagaimanakah manusia memahami kasih dan kebaikan Allah dalam setiap bencana dan penderitaan yang kita alami? Sesungguhnya, theodicy merupakan pertanyaan klasik yang terus menerus dipertanyakan di setiap abad dan tempat. Masalah theodicy sungguh tidak mudah dijelaskan. Kita dapat kembali ke abad mula-mula dan memperhatikan pandangan bapak-bapak Gereja seperti Thomas Aquinas, Augustinus, dll yang terus bergumul dengan tema tsb.

Demikian juga, theolog-theolog besar abad lalu seperti Karl Barth mengakui kesulitan dalam menjelaskan hal tsb. Seorang teolog skeptik yang bernama David Hume memberikan pernyataan sbb: “Apakah Allah ingin mencegah kejahatan tapi Dia tidak sanggup melakukannya? Jika demikian, Dia tidak maha kuasa. Atau, Dia sebenarnya sanggup melakukannya tetapi tidak menghendakinya? Jika demikian, Allah itu jahat. Atau Allah itu memiliki keduanya, Allah sanggup mencegah kejahatan dan penderitaan dan juga berkeinginan untuk melakukannya. Jika demikian, mengapa ada penderitaan?”[1]

Berbagai pandangan tentang theodicy

Di tengah berbagai macam kesulitan dan penderitaan yang ada di sekitar kita, adalah baik untuk mengetahui berbagai pemahaman yang diberikan untuk menjelaskan hal tsb.

Pertama. Menolak kemahakuasaan Allah. Salah satu cara yang dianggap dapat menyelesaikan masalah penderitaan/kejahatan tsb di atas adalah pandangan yang sangat berbau filsafat, yang disebut dengan “Finitisme”, yaitu pandangan yang menolak kemahakuasaan Allah. Menurut pandangan ini, Allah memang berkehendak untuk mencegah segala macam kejahatan dan penderitaan, di mana hal itu secara jelas telah dinyatakan bertentangan dengan kehendakNya. Namun demikian, adanya kejahatan dan penderitaan di dunia ini menunjukkan bahwa memang Allah tidak mahakuasa. Edgar S. Brightman, seorang professor dalam bidang filsafat dari Universitas Boston mengembangkan konsep Allah yang terbatas tsb sebagai jawaban terhadap masalah kejahatan.[2] Menurut Brightman, Allah bekerja dalam “a given context”, atau konteks yang sudah dari “sono” nya. Apa yang disebutnya dengan “uncreated laws of reason –logic, mathematical relations, and the Platonic Ideas” merupakan bagian dari kekekalan. Karena itu, dalam “a given context” tsb ditemukan dua kriteria berikut. Pertama, segala unsur dan elemen dalam konteks tsb bersifat kekal yang berada di dalam pengalaman Allah. Kedua, semua elemen tsb bukan merupakan produk dari sebuah kehendak atau aktivitas yang menciptakannya. Brightman mengatakan: “... we should speak of a God whose will is finite”.[3]

Kedua, pandangan yang mirip dengan pandangan tsb di atas adalah paham dualisme, seperti yang dianut oleh Zoroastrianisme dan Manichaenisme. Menurut pandangan ini, alam dan dunia semesta tidak dikendalikan oleh satu kekuatan besar, tetapi mereka melihat adanya dua “ultimate principles”: kuasa kebaikan dan kuasa kejahatan. Dengan demikian, di dunia ini sedang berjalan dua kerajaan, di mana keduanya berjalan bersama-sama. Tentu saja Allah bertarung dengan kuasa kejahatan tsb. Namun tidak ada kepastian akan hasil yang akan dicapai. Menurut paham ini, Allah memang berusaha untuk menaklukkan kejahatan, dan Dia akan melakukannya sekiranya Dia sanggup. Tapi sayang, dalam kenyataannya, Allah tidak mampu.

Ketiga, ada yang mencoba menyelesaikan masalah kejahatan dengan menyangkali adanya fakta kejahatan itu sendiri. Sebagai contoh, filsuf Benedict Spinoza menegaskan bahwa hanya ada satu substansi dalam alam semesta, yaitu substansi Allah. Segala sesuatu terjadi sebagai akibat dari substansi Allah tsb. Allah telah dan sedang mengendalikan segala sesuatu yang berakhir kepada kesempurnaan.[4] Demikian juga, Mary Baker Eddy, yaitu pemimpin aliran Christian Science berpendapat bahwa hanya ada satu realitas, yaitu Allah, yang disebutnya sebagai “the infinite mind”. Dia menegaskan: “Spirit atau Roh itu bersifat nyata dan kekal; sedangkan materi bersifat tidak nyata dan sementara”.[5] Menurut Mary, sebenarnya kejahatan tsb tidak ada. Dia menulis: “It has no reality. It is neither person, place nor thing, but simply a belief, an illusion of material sense”.[6]

Logika yang diberikan oleh Mary adalah, jika Allah adalah sumber dan penyebab segala sesuatu, maka hal itu pasti baik. Lalu dari mana asalnya kejahatan itu? Dia sendiri menjawab pertanyaan tsb dengan mengatakan: “It never originated or existed as an entity. It is but a false belief”.[7] Itulah sebabnya, menurut pandangan ini, jika seseorang itu sakit, tidak perlu pergi ke dokter untuk mencari kesembuhannya. Pandangan ini menganjurkan untuk mencari jawaban di dalam pengenalan akan kebenaran, yaitu menyadari bahwa penyakit itu sebenarnya tdk ada, itu hanyalah sebuah khayalan. Jika penyakit itu dilihat sebagai sesuatu khayalan, tidak nyata, maka sebenarnya tidak ada pengaruhnya yang secara nyata bagi kita –tidak lagi dirasakan, atau hilang rasa sakit tsb. Bahkan kematian itu pun dianggap sebagai satu ilusi, di mana menurut mereka, Alkitab menegaskan bahwa kematianpun akan ditiadakan dan dihancurkan.- (bersambung).

Mengapa Ada Penderitaan? (3)

Ada juga yang mencoba menyelesaikan masalah kejahatan dengan menanyakan defenisi tentang “kebaikan Allah”. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, pada umumnya orang Kristen menerima ajaran tentang Allah yang baik. Hal itu sesuai dengan penegasan Alkitab itu sendiri. “Sebab Tuhan itu baik, kasih setiaNya untuk selama-lamanya, dan kesetiaanNya tetap turun temurun” (Maz.100:5), demikian bunyi sebuah Mazmur yang sangat terkenal. Karena itu, jika ada masalah yang terjadi yang kemudian meragukan sifat Allah yang baik tsb, hal itu bukan masalah kebaikan Allah, tetapi ada yang salah dalam pemahaman kita tentang konsep “kebaikan” tsb.

Gordon H. Clark, seorang teolog Calvinist yang sangat menonjol, menegaskan bahwa segala sesuatu terjadi di bawah kendali Allah. Tidak ada satupun di dunia ini terjadi di luar kehendak Allah.[1] Tidak ada satupun yang mutlak bersifat independen yang tidak tergantung kepada Allah. Hanya Allah sendiri yang mutlak. Lalu bagaimana dengan keberadaan dosa? Sekalipun pandangan ini tidak mengatakan bahwa Allah sebagai pencipta dosa, namun dengan tegas Clark mengatakan bahwa, “God is the ultimate cause of sin, not the immediate cause of it”. Clark membedakan dua hal dalam hubungannya dengan kehendak Allah. Pertama, “preceptive” will of God dan kedua, “decretive” will of God. Kehendak Allah yang pertama, yaitu “preceptive” will, merupakan kehendak Allah yang dinyatakanNya secara jelas dalam perintahNya. Misalnya, perintah 10 hukum Taurat yang harus dilaksanakan oleh umatNya. Sedangkan yang kedua, “decretive” will, adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi yang tidak secara langsung diperintahkan oleh Allah. Sebagai contoh, Allah tidak pernah berbuat dosa, manusialah yang berdosa, tetapi itu terjadi di dalam “decretive” will of God. Demikian juga, bukan Allah yang menyalibkan Yesus, tetapi Yudas yang menyerahkanNya ke tangan orang2 jahat. Karena itu, Yudas harus bertanggung jawab atas penyaliban Yesus. Namun demikian, Allah telah menetapkan sejak kekekalan bahwa itu pasti akan terjadi.

Mari kita perhatikan syllogisme Clark berikut:

- Whatever happens is caused by God
- Whatever is caused by God is good.
- Whatever happens is good.

Apa yang bisa kita pelajari dari syllogisme tsb?

Penderitaan adalah akibat dari hukuman Allah

Salah satu teori yang dominan dan umum dikenal dan dianut oleh sebagian orang adalah memahami bencana tsb sebagai peringatan atau hukuman Allah. Jika demikian halnya, maka tindakan yang paling tepat untuk meresponi bencana yang demikian adalah, merenung, memeriksa diri dan bertobat dari segala pelanggaran dan dosa-dosa. Barangkali, hal itulah yang seringkali membuat banyak orang tiba-tiba menjadi sedemikian religious ketika bencana menimpanya.

Barangkali kita masih ingat peristiwa Tsunami yang sangat dahsyat pada waktu yang lalu. Akibat dari peristiwa yang mengerikan dan menakutkan itu, sebuah TV swasta menayangkan nyanyian Ebit. G. Ade dan Bimbo, Berlian Hutauruk, Sherina, secara berulang-ulang, di mana syair-syair lagunya sedemikian religious dan menyentuh perasaaan. Inti dari nyanyian tsb adalah memohon pengampunan kepada Allah, di mana murkaNya telah turun: “... kuabaikan peringatanMu... tanganMu menghempas di ujung Banda”, demikian kira-kira syair lagu Sherina.

Alkitab memang pernah mencatat adanya penderitaan massal umat manusia sebagai akibat dari kejahatan dan dosa-dosanya. Kita dapat membaca dalam Perjanjian Lama bahwa peristiwa matinya seluruh manusia di zaman Nuh serta bencana besar Sodom dan Gomora erat hubungannya dengan dosa manusia (Kejadian 6,7,19). Hal itu memang merupakan peringatan dan hukuman dari Allah bagi umat ciptaanNya ketika itu. Tetapi, apakah Alkitab mengajarkan bahwa setiap penderitaan yang terjadi adalah akibat dosa dan hukuman Allah?

Penderitaan dilihat sebagai kejadian alam

Bagi yang ingin membela sifat Allah yang baik itu, ada yang tidak setuju dengan pendapat bahwa penderitaan massal tsb (baca Tsunami) dan penderitaan lainnya, merupakan hukuman Allah. Mereka mempertanyakan apakah Allah yang dikenal sedemikian kasih dan baik dapat bertindak sedemikian kejam? Apakah Allah tidak punya cara lain untuk memperingatkan umatNya? Karena itu mereka mengatakan bahwa bencana yang demikian, pasti bukan dari Allah.

Lalu bagaimana kita memahami bencana tsb? Mereka menjelaskan bahwa bencana alam adalah murni bencana alam. Jadi hal itu tidak perlu dihubungkan dengan agama atau dosa, cukuplah dijelaskan secara ilmiah. Jadi, secara sederhana para ilmuwan menjelaskan bahwa bencana yang mengakibatkan Tsunami pada waktu yang lalu, terjadi karena ada sesuatu yang terjadi di bawah lautan sana (adanya lempengan-lempengan bumi yang bergerak) yang mengakibatkan gempa dan gelombang Tsunami. Karena itu, terjadilah bencana besar yang mengakibatkan korban jiwa.

Bagi sebagian orang, nampaknya penjelasan tersebut di atas cukup masuk akal. Selain itu, pendekatan tersebut juga dianggap berhasil melepaskan Allah dari tuduhan seolah-olah Dia adalah pribadi yang kejam. Namun demikian, teori ini tetap memiliki kelemahan yang sulit dijelaskan. Apakah Allah benar-benar terlibat dalam kehidupan umatNya? Jika ya, sejauh mana keterlibatan tersebut? Bukankah Allah mengendalikan ciptaanNya, termasuk lempengan-lempengan bumi tersebut? (bersambung)

[1] Gordon H. Clark, Religion, Reason, and Revelation (Philadelphia: Presbyterian and Reformed, 1961), 221.