Monday, 11 December 2017

Teolog besar abad 16, John Calvin telah mewariskan banyak hal bagi manusia di zamannya dan setelah itu. Selain menulis buku yang berjudul “Institutio” yang terkenal itu, dia juga telah menulis buku tafsiran dari seluruh kitab Perjanjian Baru. Sungguh merupakan sebuah karya besar, yang hanya sanggup dilakukan oleh segelintir orang. Karena itu, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tidak ada orang yang dapat memperhitungkan berapa besar pengaruh John Calvin di zamannya, juga di abad-abad sesudahnya, termasuk di abad ini.

Mengapa Calvin dapat memiliki karya dan pengaruh sebesar itu? Barangkali, hal itu erat sekali dengan pemahaman teologinya yang sedemikian kuat tentang kedaulatan Allah (the sovereignty of God). Maksudnya, Allah memiliki kehendak tertinggi dalam semesta alam. Segala sesuatu akan terjadi menurut kehendakNya. Itulah sebabnya, ketika seseorang bingung tentang makna keadilan, Calvin memberikan sebuah defenisi yang menarik: Keadilan berarti, jika itu sesuai dengan kehendak Allah. Calvin menyerukan agar seluruh mahluk, khususnya orang percaya menjadikan kehendak Allah jadi ambisi tertinggi dalam kehidupannya.

Sebenarnya, seruan tersebut di atas merupakan seruan firman Tuhan yang ditangkap dan digemakan ulang oleh Calvin. “Sebab itu, janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Efesus 5:17). Firman Tuhan tersebut sungguh sangat indah untuk kita hayati secara sungguh-sungguh dalam menjalani hari-hari yang masih panjang di tahun ini. Mari kita camkan hal ini: kesuksesan yang akan kita capai tahun ini tidak tergantung pada berapa banyak uang yang kita kumpulkan, atau berapa besar karya-karya yang akan kita capai. Juga bukan terletak pada berapa banyak pekerjaan yang kita lakukan, atau berapa tingginya posisi yang kita miliki. Kesuksesan kita diukur dari seberapa jauh kita mengerti kehendak Tuhan dalam hidup kita dan bagaimana sikap kita melaksanakannya. Seorang pernah berkata, “Who you are is much more important than what you are”. Firman Tuhan menegaskan: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol.3:23). Jadi, di dalam Tuhan, hal yang dianggap kecil, sebenarnya merupakan hal besar.

Apakah kehendakNya bagi kita?

Saya setuju dengan pernyataan bahwa kehendak Tuhan itu merupakan sesuatu yang sangat tinggi dan penuh rahasia. Karena itu, jangan ada orang yang terlalu mudah mengatakan bahwa apa yang dikerjakannya adalah kehendak Tuhan. Misalnya, soal pindah kerja, atau pindah rumah ke tempat yang lebih menyenangkan. Barangkali, hal itu adalah keinginan diri sendiri. Bagaimana dengan pindah agama, soal bercerai dan menikah lagi? Hal-hal itu sudah jelas bukan perintah Alkitab.

Perkenankan saya menyebut beberapa hal lain yang ditegaskan Alkitab, yang merupakan kehendak Tuhan bagi kita. Hal itulah yang diuraikan rasul Paulus setelah menyerukan untuk mengerti kehendak Tuhan tersebut.

Pertama, Tuhan menghendaki agar kita makin mengenal dan mengasihi Dia, serta semakin dewasa seperti Kristus (Efesus 4:13; 5:21). Hal itu juga yang ditegaskan oleh Allah melalui nabi Yeremia: “... Barangsiapa mau bermegah, baiklah bermegah karena yang berikut, ‘bahwa Ia memahami dan mengenal Aku” (9:24). Seruan itu telah menjadi kerinduan dan ambisi rasul Paulus: “Yang kukehendaki adalah mengenal Dia” (Fil.3:10). Karena itu, betapapun sibuknya Saudara/i sekalian, jangan melalaikan hubungan pribadi dengan Tuhan (HPDT). Pelihara dan tingkatkan kwalitas saat teduh saudara sekalian.

Kedua, Tuhan menghendaki agar kita membangun keluarga yang berpusatkan Kristus (Efesus 5:21-6:4). Untuk itu, kita harus membangun keluarga yang rohani, yang beribadah kepada Allah. Hal itu juga yang diserukan oleh nabi Yosua pada akhir hidupnya: “Sebab itu, takutlah akan Tuhan dan beribadahlah kepadaNya dengan tulus ikhlas dan setia... tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan” (24:14a, 15c). Kiranya kita serius terhadap seruan firman Tuhan tersebut di atas. Dengan demikian, kita tidak pernah melalaikan keluarga kita. Konkritnya, betapapun sibuknya kita, jangan abaikan ibadah keluarga. “The family that prays together, stays together”, demikian bunyi sebuah sticker. Saya sangat menyetujui kalimat tsb. Saya menyadari adanya pekerjaan Allah yang terjadi secara rahasia ketika kita beribadah. Kiranya hubungan suami dan istri, orang tua dan anak, semakin baik di tahun ini, karena kita mengalami rahasia pemeliharaan Allah di dalam keluarga kita masing-masing.

Akhirnya, Tuhan menghendaki agar kita membangun pekerjaan dan pelayanan yang sungguh-sungguh berkenan kepadaNya. Itu berarti, kita tidak bekerja atau melayani secara sembarangan, atau mengambil muka kepada pimpinan (Ef.6:6), tetapi “dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan, bukan manusia” (7). Kiranya Tuhan sendiri menolong dan memberkati kita untuk mewujudkan ketiga hal tersebut di tahun ini. Soli Deo gloria.-