Tuesday, 20 November 2018

Neo Orthodoxy muncul sebagai reaksi terhadap teologia liberal, yang mendominasi pemikiran para ahli teologia pada akhir abad 19 hingga awal abad 20. Nama “Neo Orthodoxy” dikenal di Amerika Utara, sedangkan gerakan yang sama di Eropah disebut “dialectical theology”.

Pada edisi sebelumnya, kita sudah membahas bangkitnya gerakan liberalisme di Jerman dengan tokoh-tokoh penting, seperti Ferdinand Christian Baur, David F. Strauss, Albert Ritschl, dan Julius Wellhausen. Jika teologia liberal berusaha meninggalkan pandangan atau ajaran yang telah dianut oleh Gereja selama berabad-abad, seperti otoritas Alkitab, ajaran Kekristenan yang bersifat supra natural, keTuhanan Yesus, maka Neo Orthodoxy justru menolak pandangan teolog-teolog liberal dan berusaha kembali ke pemahaman orthodoxy.

Itulah sebabnya, sebagian ahli menyebut aliran Neo Orthodoxy sebagai “double negative,” yaitu sebuah reaksi negatif terhadap teologia liberal yang negatif terhadap ajaran tradisional orthodoxy. Namun Neo Orthodoxy tidak sepenuhnya kembali kepada ajaran dan pemahaman orthodoxy. Karena itu, dia disebutkan Neo Orthodoxy, atau orthodoxy dalam bentuknya yang baru.

Tokoh utama gerakan Neo Orthodoxy adalah teolog yang sangat terkenal di Eropah bahkan di seluruh dunia, yaitu Karl Barth (1886-1968). Tokoh lainnya adalah Emil Brunner (1889-1966), dan Reinhold Niebuhr (1892- 1071). Ketiga teolog tersebut telah memberikan pengaruh yang sangat besar di zamannya, bahkan juga pada abad-abad kemudian. Perjuangan mereka melawan pemikiran teolog-teolog liberal dapat terlihat dari buku-buku yang mereka terbitkan ketika itu. Karya besar Barth dapat dinikmati melalui bukunya yang sangat terkenal dan monumental, yaitu serial buku dogmatika: Church Dogmatics. Pengakuan dan penghargaan Barth terhadap otoritas Alkitab telah mendorongnya untuk menulis buku tafsiran: The Epistle to the Romans. Sebagaimana Barth, Emil Brunner juga menghasilkan buku serial dogmatika: Dogmatics. Pemenerimaan Brunner akan karya Kristus dituangkannya dalam bukunya The Mediator. Di pihak lain, Niehbur dalam bukunya The Nature and Destiny of Man menegaskan ajaran tentang doktrin manusia dengan kembali kepada ajaran Alkitab.

KARL BARTH DAN KEGAGALAN TEOLOGIA LIBERAL

Sebenarnya, Barth belajar dalam pengaruh teologia yang liberal yang sangat kuat. Selain di Berne dan Berlin, Barth studi teologia di Universitas Tubingen, sebuah universitas yang terkenal sebagai gudangnya teolog-teolog liberal. Karena itu, Barth mendapat kesempatan untuk belajar langsung dari para pakar teolog liberal, seperti Harnack dan Hermann, dosen yang sangat menonjol ketika itu.

Apakah teologia liberal berhasil mempengaruhi pemikiran Barth? Semula ya, tapi kemudian, tidak. Dia berhasil sebatas teologia tersebut sekadar pengetahuan di otak. Akan tetapi, ketika tiba waktunya ajaran teologia liberal dipraktekkan dalam hidup berjemaat, dia mengamati sesuatu respon yang aneh. Setiap kali dia berkhotbah, dia mengamati jemaat tidak bergairah, bahkan sebagian tertidur. Itulah sebabnya, Barth menyimpulkan bahwa pasti ada sesuatu yang salah dengan teologia yang dipelajari dan dianutnya. Sebab jika Allah adalah pribadi yang hidup dan Mahakuasa, maka seharusnya jemaat akan disegarkan dan dibangunkan ketika mendengar FirmanNya, dan bukan sebaliknya, mengantuk dan tertidur! Hal itu sejajar dengan kitab Roma yang kemudian ditafsir dan diterbitkannya. Kepada jemaat di Roma, Rasul Paulus menegaskan “Sebab aku mempunya keyakinan yang kokoh dalam Injil” (Ro.1:16a). Secara harfiah, kalimat itu seharusnya diterjemahkan dengan “Sebab aku tidak malu kepada Injil”. Selanjutnya, rasul Paulus menegaskan alasannya: “...karena Injil adalah kekuatan Allah (Yunani: dunamis) yang menyelamatkan setiap orang percaya (Ro.1:16b).

Sehubungan dengan kegagalan tersebut di atas, berlaku ungkapan yang terkenal: “Pengalaman adalah guru yang sangat baik”. Pengalaman kegagalan berjemaat tersebut, telah memaksa Barth membaca Alkitab dengan sikap yang baru. Allah tidak lagi dijadikannya sebagai sekadar objek untuk diselidiki, sebagaimana para scientist menyelidiki benda di bawah mikroskop. Filsuf terkenal S.A. Kierkegaard pernah menyerukan bahwa Allah bukanlah objek diskusi, tetapi Dia adalah pribadi yang harus disembah.

Dengan sikap demikian, akhirnya Barth kembali menemukan Alkitab yang selama ini hilang. Jikalau para teolog liberal merasa berhasil dan bangga akan metode historis kritis yang mereka terapkan kepada Alkitab, tidak demikian dengan Barth. Jikalau para teolog liberal mencoba membangun teologia tanpa Alkitab, sebaliknya dengan Barth. Karl Barth, Brunner, Niehbur menegaskan bahwa teologia harus bersumber kepada Alkitab. Itulah yang diserukan Barth dengan seruannya yang terkenal: “When the Bible is silent, we must be silent” (Ketika Alkitab diam, kita pun harus diam). Dengan demikian, Barth menolak segala usaha spekulasi teologia yang terlepas dari Alkitab. Sejalan dengan itu, ketika kepadanya ditanyakan akan inti berita Alkitab, dengan tegas Barth menjawab: “Jesus loves me this I know, for the Bible tells me so.” Pernyataan penting tersebut telah dikumandangkan oleh seluruh umat di bawah kolong langit, termasuk kita dan anak-anak sekolah Minggu di Indonesia melalui lagu pujian: “Yesus kasih padaku, Alkitab mengatakan...” Kiranya seperti Barth, kita juga menikmati Alkitab, harta Gereja yang sangat berharga tsb.-