Monday, 11 December 2017

Mengapa ada orang yang hidup jahat dan semakin jahat, hidup egois, serakah, menipu dan tidak perduli dengan sesamanya? Mengapa ada orang yang tega membunuh sesamanya, memotong-motongnya bagaikan memotong seekor ayam dan memasukkannya ke dalam karung atau koper, sebagaimana terjadi beberapa hari yang lalu? Barangkali benar juga kata seseorang bahwa penyebabnya adalah karena banyak orang yang tidak menyadari atau bahkan menyangkali adanya Neraka.

Prof. Donald Bloesch, seorang ahli Teologia Sistematika memang pernah menegaskan bahwa konsep dan pemahaman tentang Neraka telah hilang dalam pemikiran banyak orang, termasuk teolog. Dia menulis: “If anything has disappeared from modern thought, it is the belief in a supernatural heaven and hell” (Essentials of Evangelical Theol, vol.2. hal. 211). Ada yang beranggapan bahwa Neraka bukanlah sebuah tempat, tetapi hanya menyatakan suasana atau kondisi pikiran (a state of mind) yang membuat orang sangat menderita dan ‘kepanasan’ seperti neraka. Origen sendiri yang hidup di abad keempat, menolak adanya neraka sebagai tempat penghukuman bagi umat. Origen mengatakan bahwa kasih Allah sedemikian dahsyat sehingga tidak akan ada seorang pun yang masuk ke sana. Setan pun akhirnya, akan masuk surga.

Lalu bagaimana dengan pandangan Alkitab? Alkitab, Perjanjian Lama dan Baru menegaskan tentang adanya neraka. Neraka bukan sekedar kondisi pikiran atau keadaan susah, tapi suatu tempat tertentu yang digambarkan Alkitab sebagai tempat yang sangat mengerikan. Neraka dan Surga adalah suatu realita yang bersifat supernatural, berada di luar atau melampaui ruang dan waktu di mana kita berada sekarang ini. Adanya neraka menunjukkan bahwa orang mati tidak akan berhenti bereksistensi, tetapi berada di tempat lain yang merupakan tempat penghukuman bagi orang-orang yang patut menerimanya. Hal itulah juga yang ditegaskan oleh nabi Daniel: “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal” (Dan.12:2).

Tuhan Yesus juga menegaskan tentang fakta neraka (adanya kebinasaan), baik pada fasa awal, Khotbah di bukit (Mat.5-7), mau pun pada menjelang akhir (khotbah tentang akhir zaman, Mat.25:46). “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya." (Mat.7:13-14). Rasul-rasul juga menegaskan tentang fakta neraka, penghukuman dan penghakiman terakhir: Rasul Yohanes (Yoh.3:18; 8:24. juga Why.20:14-15), Rasul Petrus (2Pet.2:4; 3:9), Rasul Paulus (Ro.2:6-8; 2 Kor.4:3-4). Pada bagian akhir dari kitab Wahyu, yang merupakan kitab penutup, diberikan satu gambaran yang mengerikan. “Lalu maut dan kerajaan maut itu dilemparkanlah ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua: lautan api. Dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam kitab kehidupan itu, ia dilemparkan ke dalam lautan api itu”. (Why.20:14-15).

Gambaran Neraka

Alkitab memberikan tiga istilah penting untuk neraka. Pertama adalah Sheol. Istilah ini dimengerti sebagai satu tempat yang dalam; tempat yang gelap gulita (Ayub 10:22), tempat orang mati. (Yehez.32:17-32). Literatur Yahudi juga menjelaskan tentang adanya Sheol, yaitu tempat bagi orang-orang jahat (Enoch 22:1-14; 2 Esdras 7:36). Kedua, Hades. Di dalam Perjanjian Baru, kata ini sejajar dengan kata Sheol. Ini dimengerti sebagai tempat yang sangat dalam, dunia orang mati dan menjadi tempat bagi orang kaya yang tidak benar yang dikisahkan oleh Tuhan Yesus (Luk.16:23). Ketiga, Gehenna. Kata ini juga mengacu kepada lembah Hinnom yang berada di luar Yerusalem. Di tempat ini, anak-anak dikorbankan untuk dipersembahkan kepada dewa Molokh. “Ia membakar juga korban di Lebak Ben-Hinom dan membakar anak-anaknya sebagai korban dalam api, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalaukan TUHAN dari depan orang Israel” ((2 Taw.28:3). Tuhan Yesus menggambarkan Gehenna sebagai tempat perapian yang menyala-nyala, yang tidak akan pernah padam, tetapi menyala selama-lamanya; api kekal (Mat.18:8).

Melihat semuanya itu, terlihat gambaran tentang neraka yang sungguh sangat mengerikan. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menyerukan pertobatan sejati. “Jika tanganmu atau kakimu menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu masuk ke dalam hidup dengan tangan kudung atau timpang dari pada dengan utuh kedua tangan dan kedua kakimu dicampakkan ke dalam api kekal (Mat.18:8). Demikian juga, Rasul Paulus memberi peringatan kepada jemaat di Roma dengan fakta tsb. “Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya…murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman” (Ro.2:6-8).

Semua orang yang benar-benar menyadari adanya murka dan neraka tersebut, pasti ingin terlepas dari padanya. Siapakah yang dapat terluput? Alkitab memberikan jawaban yang jelas dan tegas. Setiap orang yang percaya kepada Yesus dan hidup sesuai kehendakNya, pasti akan terluput dari murka Allah yang akan datang ( Yoh.3:16. 1 Tes.1:10).-