Monday, 19 November 2018

Ada satu pertanyaan penting dan yang terus menerus menggelisahkan saya, yaitu, apakah kita benar-benar serius dalam memperbaiki pendidikan di Republik Indonesia tercinta? Jika benar, apa indikasi yang dapat dilihat?

Bicara soal pendidikan, maka sesungguhnya, tidak dapat dilepaskan dari moralitas. Pendidikan yang baik, terdiri dari moralitas yang baik. Barangkali, hal itulah yang disadari oleh para pendidik tempo dulu. Karena itu, pelajaran budi pekerti menjadi salah satu pelajaran utama.

Apa yang terjadi kini? Nampaknya, bagi sebagian orang, pendidikan hanyalah sebuah teori tanpa tindakan, simbol tanpa makna. Mari kita ambil contoh konkrit. Saya tidak tahu berapa banyak di antara pembaca yang menyaksikan tayangan sebuah TV swasta tentang jalannya pendidikan di IPDN, yaitu lembaga yang mencetak calon-calon pemimpin. Salah satu adegan yang ditunjukkan adalah ketika mahasiswa senior ingin 'mendidik' mahasiswa junior yang dianggap bersalah. Dengan posisi berdiri berhadap-hadapan dengan mahasiswa junior, mahasiswa senior mundur ke belakang, mengatur posisi dan berlari cepat sambil menerjang mahasiswa tsb! Akibatnya, mahasiswa tersebut terlempar dan terjerembab ke belakang dengan penuh kesakitan. Tidak heran, jika puluhan siswa meninggal dunia, korban 'pendidikan' yang tidak bermoral itu. Ironis memang, di mana tindakan tersebut di atas dilakukan dengan mengenakan pakaian seragam, lengkap dengan pangkat dari praja tsb. Perilaku seperti apakah yang dapat diharapkan dari alumni yang dididik seperti itu?

Selanjutnya, mari kita melihat Ujian Nasional (UN) sebagai cerminan pendidikan kita. Apa yang terjadi di sana? Tahun lalu, beberapa harian ibu kota telah melaporkan adanya berbagai kecurangan dan kebohongan. Seorang guru di wilayah Bogor juga telah melaporkan adanya pertemuan para guru dengan seorang pejabat tertentu di daerahnya. Dalam pertemuan tersebut diinstruksikan agar semua guru dan pengawas menolong siswa-siswa ketika mengikuti UN. Meresponi berbagai kecurangan tsb, berbagai wacana dimunculkan.

Akan tetapi, setelah melakukan hal itu, kita patut bertanya: apakah wacana tersebut benar-benar ditindaklanjuti? Apakah petinggi pendidikan di republik ini dan setiap pihak terkait telah menyatakan perang terhadap semua tindakan penyelewengan dengan segala hukuman yang mengikutinya?

Fakta Yang Sangat Menyedihkan

Apa yang terjadi pada Ujian Nasional tahun ini? Sejak dimulainya UN di hari pertama, kita kembali kecewa membaca laporan berbagai media akan adanya berbagai kecurangan dalam pelaksanaan UN tsb. Sebuah media ibu kota melaporkan adanya kelompok di Medan, yaitu "Kelompok Air Mata Guru" membongkar adanya kecurangan-kecurangan pelaksanaan UN di rayon Medan. Hal itu dilakukan secara terencana dan sistematis, dan telah dilakukan selama tiga tahun. Karena itu, kelompok yang dikoordinir oleh Deni Boy Saragih tsb menuntut agar UN diulang.

Kelompok tersebut, tentu saja tidak dapat diabaikan, seolah-olah mereka hanya menyebar fitnah. Mengapa? Karena kelompok yang berjumlah 36 pendidik tersebut terdiri dari 18 pengawas, seorang kepala sekolah dan 17 guru yang bertugas mengawasi jalannya ujian nasional di daerah tsb. Dengan perkataan lain, mereka adalah pelaksana langsung dari UN tsb.

Bagaimana reaksi kita membaca berita tsb? Di satu sisi, kita bersyukur karena ternyata masih ada orang-orang yang berani buka suara membongkar segala bentuk kejahatan, khususnya di bidang pendidikan yang merupakan salah satu tiang pancang dan penopang bagi republik ini. Untuk itu, mereka rela membayar harga. Mari kita simak kalimat mereka berikut: "Kami semua siap dipecat sebagai guru maupun pegawai negeri sipil". Dan memang, salah satu dari anggota kelompok tsb, yaitu Muri Manik, seorang guru Matematika telah dirumahkan karena menolak permintaan kepala sekolah untuk membuat kunci jawaban bagi siswa yang akan ujian. Selanjutnya, mari kita amati apa yang menjadi keperdulian utama mereka: "Kecurangan yang dilakukan oleh para guru dan pengawas ini bukan hanya membodohi siswa, tetapi juga mendidik mereka tidak jujur, dan itu artinya pendidikan yang kami berikan tidak ada artinya sama sekali".

Di sisi lain, kita sangat sedih menyaksikan bagaimana para pendidik mendemonstrasikan sesuatu yang sungguh bertentangan dengan esensi pendidikan itu sendiri. Mereka secara sadar, terencana dan terus menerus selama tiga tahun, telah melakukan sesuatu kecurangan, kebohongan yang merupakan pelanggaran hukum. Yang lebih menyedihkan adalah, hal itu mereka lakukan sendiri di depan murid-murid mereka, yang selama bertahun- tahun telah mereka didik. Dengan demikian, mengakhiri perjuangan mereka di hadapan murid-murid dengan suatu tindakan yang tidak bermoral! TANPA KETELADANAN. Rupanya, banyak pendidik di republik ini lupa bahwa mendidik murid yang masih murni dan polos itu, tidak cukup hanya di otak, tapi terutama di dalam hati. Pendidikan yang sesungguhnya, tidak hanya menghasilkan orang pintar, tetapi terutama menghasilkan siswa yang bermoral. Itulah seruan Alkitab, yaitu agar kita semua "mengajar dan mendidik orang dalam kebenaran" (2Tim.3:16).-