Monday, 19 November 2018

Pdt. Mangapul Sagala

Beragama adalah hak asasi manusia yang sangat mendasar. Itulah sebabnya, setiap pemerintah yang benar dan bertanggung jawab akan melindungi rakyatnya agar memiliki kebebasan dan rasa aman dalam beragama. Kita bersyukur karena negara kita menjamin kebebasan beragama tersebut.

Hal itu telah tertuang dalam Pasal 29 Ayat 2 UUD 45, yang berbunyi: "Negara menjamin kemerdekaan penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu."

Dengan adanya undang-undang seperti di atas, jelaslah bahwa segala pembatasan dan larangan untuk beribadah, serta adanya tindakan perusakan tempat-tempat ibadah merupakan penyimpangan. Oleh karena itu, pemerintah harus berusaha keras dan dengan segala upaya menjaga bagaimana UUD tersebut dapat dilaksanakan dengan semaksimal mungkin. Di pihak lain, undang-undang tersebut juga membuka peluang bari orang-orang tertentu untuk pindah agama.

Berbagai Alasan

Dalam beberapa groups atau mailing list yang penulis ikuti, ada diskusi yang cukup serius tentang berpindahnya seorang yang beragama Kristen ke agama lain. Berbagai pemikiran dan pandangan yang bersifat pro dan kontra diberikan atas peristiwa yang dianggap cukup "menghebohkan" tersebut. Di antaranya ada yang mempertanyakan mengapa orang tersebut pindah agama.
Dari apa yang penulis amati, tidak ada alasan yang seragam mengapa seseorang itu pindah agama.
Kita akan menyebut beberapa alasan yang umum ditemukan.

Pertama, sikap cuek atau masa bodoh terhadap agama. Dengan perkataan lain, bagi orang tersebut, agama hanyalah suatu "persyaratan" yang diharuskan oleh negara, di mana dalam kolom KTP hal itu harus dituliskan. "Dari pada dituduh komunis, apa salahnya memilih agama tertentu? Kita bisa memilih agama lain sesuai selera kita", demikian kira-kira alasan yang diberikan terhadap perpindahan agama tersebut.

Kedua, ada juga yang memilih pindah agama untuk menyesuaikan diri demi suatu keuntungan tertentu. Bisa jadi keuntungan itu dalam hal pekerjaan, soal jodoh, atau soal lain. Di sebuah negara yang penulis kunjungi, ada laporan yang mengatakan bahwa di tempat itu beberapa orang Indonesia telah mengganti nama dan agamanya. Mengapa? Menurut orang tersebut, di tempat itu lowongan pekerjaan akan lebih mudah dari agama tertentu.

"Hidup ini telah cukup sulit dijalani. Mencari pekerjaan sulit, mencari tempat kos pun sulit. Mengapa harus mempersulit diri dengan sikap fanatisme?" demikian keluh seorang lain lagi. Yang "menarik" adalah ketika orang-orang tersebut kembali ke Indonesia, ternyata mereka kembali kepada agama mereka semula. Tampaknya, bagi mereka itu agama telah dijadikan seperti baju yang dapat dilepas, diganti, dan dipakai kapan saja mereka menginginkannya.

Ketiga, ada juga yang pindah agama bukan karena cuek dan juga bukan karena pertimbangan untung rugi. Menurut orang ini, pada dasarnya semua agama sama, yaitu mengajarkan kebaikan. "Tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Semua agama melarang orang untuk mencuri, korupsi, membunuh, dan sejenisnya" demikian penegasan yang diberikan.

Kata Alkitab

Tampaknya dengan pemahaman seperti di atas, agama telah kehilangan makna yang sesungguhnya. Agama yang sedemikian luhur dan mulia telah dijadikan tidak berarti apa-apa. Atau telah terjadi penyesatan makna, di mana agama telah dijadikan alat yang dapat dikendalikan semau gue (I-it relationship).

Dengan perkataan lain, agama telah dipahami sebagai urusan dagang, di mana yang dipersoalkan adalah untung rugi semata. Agama juga telah dimaknai sebagai urusan horizontal semata, di mana yang penting adalah berbuat baik kepada sesama. Akibatnya, dapat timbul banyak masalah, termasuk apa dan bagaimana memahami nilai dan definisi kebaikan.

Dengan pemahaman seperti di atas, agama telah kehilangan unsur yang sangat penting dan sangat mendasar, yaitu unsur vertikalnya, yaitu relasi antara manusia dan Tuhan (I-Thou relationship).
Sesungguhnya, hal inilah yang sangat menonjol di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama, maupun Perjanjian Baru. Dalam pemahaman seperti ini, satu hal sangat penting untuk sungguh-sungguh dihayati, yaitu manusia bukan menjadi subjek, tetapi Allah sendiri.

Artinya, agama bukanlah sekadar kumpulan dalil-dalil atau teori tentang Tuhan yang harus dikuasai oleh manusia. Sebaliknya, manusia menjadi objek, di mana Allah yang menyatakan diri serta kehendakNya kepada manusia tersebut untuk ditaatinya dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (baca Markus 12:30).

Tapi jangan lupa, Alkitab juga menegaskan bahwa manusia menjadi objek kasih Allah. Kehadiran Yesus Kristus di dunia ini, mulai dari lahir di Betlehem hingga mati di Golgota adalah demi dan untuk keselamatan atau hidup kekal manusia (Yoh 3:16). Itulah sebabnya, apa pun yang terjadi dalam kehidupan ini, kesulitan, ancaman, bahkan maut sekali pun, Alkitab menyerukan agar kita tetap bertekun (baca Ibrani 10:32-34).

"Janganlah kamu melepaskan kepercayaanmu, karena besar upah yang menantinya" (Ibr 10:35). Konkretnya, demi hidup kekal Anda, jangan pernah meninggalkan Yesus.

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0610/07/opi04.html