Monday, 11 December 2017

Peristiwa pernikahan kedua kalinya seorang kiayi ternama pada minggu yang lalu, rupanya cukup mengagetkan banyak orang. Seorang rekan berespon, “Apa? Dai kondang tersebut menikah lagi? Ah masa sih?” Rekan lain juga menunjukkan reaksi yang hampir sama.

Mengapa rekan tersebut bereaksi negatif? Apakah karena dia ketepatan beragama Kristen? Ternyata tidak. Karena jika kita mengamati berbagai media cetak mau pun elektronik, banyak juga yang non Kristen menentang hal itu. Sebuah harian di ibu kota memberi judul di halaman pertama: “78 organisasi perempuan tolak poligami”. Selain itu, ada puluhan ibu-ibu di kota tertentu siap melakukan demo kepada sang kiayi karena masalah poligami tersebut.

Niat untuk berdemo tsb memang tidak jadi dilaksanakan. Alasannya? Karena menurut sebuah info, istri pertama sudah ‘menerima’ madunya tsb.

Selain sikap yang kontra poligami, ternyata ada juga yang pro. Itu terdengar dari hasil dialog interaktif pada sebuah radio swasta di Jakarta. Tentu saja, bagi mereka yang mempraktekkan atau setuju dengan poligami, mereka akan mencari pembenaran diri. Salah satu alasan yang diberikan adalah, “Yang penting, suami mampu bersikap adil terhadap istri-istri”. Karena itu, pendengar lain berespon: “Adil? Mana mungkin? Istri pertama menerima?”

Dua alasan penting

Bagaimanakah pandangan Alkitab terhadap poligami? Ada orang yang berpandangan bahwa hal itu tidak masalah. Alasannya adalah karena menurut hasil pengamatan mereka, tokoh-tokoh Perjanjian Lama seperti Yakub, Daud, Salomo juga memiliki lebih dari satu istri. Namun demikian, kita tidak boleh mendasarkan pandangan kita dari fakta adanya contoh poligami tsb. Kita harus membedakan antara apa yang diperintahkan dalam Alkitab dan kegagalan umat atau pemimpin. Mari kita lihat contoh sederhana berikut. Suatu kali, ada sekelompok orang yang mencoba membenarkan perceraian dengan mengutip kitab Musa yang seolah-olah mengizinkan perceraian asal dengan surat cerai (Ul.24:1-4; Mat.19:7). Bagaimanakah respon Tuhan Yesus? Baiklah kita simak: “Karena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian” (Mat.19:8).

Jika kita menghayati wahyu Allah yang bersifat progressive, semakin lengkap dan berkelanjutan, maka kita perlu mengamati pengajaran Perjanjian Baru. Dan jangan heran jika ternyata di sana kita menemukan penegasan akan praktek monogami tsb: “... penilik jemaat haruslah seorang yang tak bercacat, suami dari satu istri, dapat menahan diri...” (1Tim.3:2).

Dari kutipan ayat di atas, terlihat dengan sangat jelas makna yang tersirat dari monogami (satu istri) tersebut. Mari kita perhatikan kedua persyaratan yang mengapit persyaratan “suami dari istri” tersebut. Pertama adalah “seorang yang tak bercacat” dan kedua adalah “dapat menahan diri”. Dengan perkataan lain, mereka yang menerapkan monogami adalah termasuk dalam kategori “tak bercacat” dan “dapat menahan diri”.

Barangkali ada yang berkata: “Tapi, itu kan merupakan persyaratan bagi pemimpin jemaat, dan tidak harus diberlakukan kepada setiap orang, seperti jemaat biasa?” Jawab saya adalah, jika itu baik untuk pemimpin jemaat, seperti penilik atau bishop/ephorus, pendeta dan majelis, tentu hal itu juga baik untuk jemaat. Jika demikian halnya, tidakkah kita seharusnya memperhatikan pengajaran tersebut dengan serius?

Jadi bagi setiap orang yang ingin mentaati firman Tuhan tsb di atas, maka seharusnya menjauhkan diri dari praktek poligami. Jika demikian, maka poligami harus dibasmi, bukan hanya di dalam praktek dan tindakan nyata, tapi sebelum itu: dibasmi dari hati dan pikiran. Artinya, jangan pernah mulai memikirkan praktek poligami. Jangan juga pernah berniat melakukannya.

Selain alasan di atas, Alkitab juga memerintahkan agar suami mengasihi istri, demikian juga agar istri menghormati dan menaati suami (Efesus 5:22,25). Apa artinya perintah mengasihi istri tsb bagi setiap suami? Sangat disayangkan, seringkali makna kata kasih telah bergeser dan berubah. Kasih seringkali dimengerti sebagai hawa nafsu. Hal itulah yang sering kita lihat di sekitar kita atau kita tonton di dalam film atau sinetron. Itulah sebabnya, ketika seorang pemuda mengatakan kepada pemudi, “I love you”, seringkali itu berlanjut kepada tindakan yang menjurus kepada pelampiasan hawa nafsu.

Sesungguhnya, bicara mengenai kasih, maka minimal ada dua hal penting yang perlu kita sebut di sini, di mana hal itu cukup sering dilupakan. Pertama, kasih menuntut kesucian. Artinya, kasih kepada istri (demikian juga kepada suami) seharusnya mencegah terjadinya perselingkuhan. Kedua, kasih menuntut kesetiaan. Artinya, suami atau istri tidak hanya mengasihi partnernya ketika masih muda, cantik atau ganteng. Tapi Alkitab menegaskan agar kasih tersebut dipelihara sampai akhir hidup (Ro.7:2).

Jika kedua hal tersebut dijaga dan dipelihara dengan segala doa dan kekuatan, maka niscaya hubungan suami istri akan semakin kuat. Monogami akan diteguhkan. Jika tidak? Maka poligami akan mengancam. Jadi mengapa tidak berpoligami? Karena kita ingin mentaati firmanNya. Selain itu, karena kita ingin mengasihi istri atau suami dengan kesucian dan kesetiaan.-