Monday, 11 December 2017

Kembalinya seorang artis (Nur Afni) kepada agama lamanya, cukup mengejutkan sebagian umat Tuhan. Betapa tidak? Artis tersebut sudah cukup dikenal dalam kalangan Gereja melalui kesaksian-kesaksian yang diucapkan serta lagu puji-pujian yang dikumandangkannya. Itulah sebabnya, berbagai respons muncul terhadap tindakannya tersebut, mulai dari yang bernada sinis sampai kepada yang bernada teologis. “Ya, sudahlah, buat apa dipusingin, emang dia itu dari dulu tukang kawin kok”, kata seseorang. “Wajar dong, dia kan kawinnya dengan orang kaya. Enak...” kata yang lain lagi.

Sementara yang memberikan pandangan yang agak teologis mengatakan: “Itulah jika seseorang tidak sungguh-sungguh dipredestinasikan oleh Allah. Biar katanya sibuk dan aktif menyanyi di Gereja-gereja, tapi jika belum sungguh-sungguh menjadi umat Allah, pasti hilang juga”.

Ajaran predestinasi, yang dianggap merupakan warisan dari John Calvin (abad 16) merupakan salah satu topik yang kontroversial sepanjang sejarah Gereja. Itulah sebabnya, sebagian orang menghindari membicarakan topik tersebut. Istilah tersebut berasal dari dua kata yaitu “pre” (sebelumnya) dan “destine” (menetapkan, menakdirkan). Jadi, isitilah itu dipahami sebagai keselamatan yang dialami seseorang akibat penetapan Allah sebelumnya, jauh sebelum seseorang itu percaya kepadaNya.

Sekali pun sebagian orang, termasuk orang tersebut di atas menerima dan meyakini ajaran pemilihan (predestinasi), namun berbagai pandangan dimunculkan ke permukaan. Pertama, ada yang menolak ajaran tersebut dengan alasan tidak sesuai ajaran Alkitab. Seorang menulis “Jika Allah telah menetapkan sebelumnya segala sesuatu yang akan terjadi, apakah ada bedanya apa yang diperbuat oleh manusia?” Jacobus Armenianus keluar dari Calvinisme karena akhirnya dia menolak doktrin pilihan. Demikian juga dengan teolog besar, Karl Barth. Menurut Barth, Allah tidak pernah memilih siapapun, juga tidak pernah menolak siapapun. Allah hanya pernah menolak dan memilih Yesus. Sehubungan dengan itu, Barth memberikan sebuah pernyataan yang menarik: “Jesus is the rejected God and the rejecting God. Jesus is the elected God and the electing God.”

Adakah dasarnya?

Ada sebagian orang yang menerima ajaran Predestinasi berdasarkan sifat kemahatahuan Allah (foreknowledge of God), di mana Allah telah mengetahui sebelumnya siapa yang akan menerima dan menolakNya. Jadi, Allah memilih orang yang akan menerimaNya dan menolak yang akan menolakNya. Nampaknya, ajaran ini cukup logis. Namun, memiliki kelemahan. Mengapa?
Alkitab mengajarkan bahwa semua manusia sudah berdosa dan diperbudak oleh dosa. Karena itu, manusia yang telah diperbudak oleh dosa -dari dirinya sendiri- tidak akan pernah mampu memilih Allah. Ketika rasul Paulus membahas kondisi manusia pada umumnya, maka dia menegaskan: “...semua ada di bawah kuasa dosa... tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Semua orang telah menyeleweng” (Roma 3:9,11-12).

Apakah benar bahwa doktrin predestinasi tidak berdasarkan Alkitab? Sebenarnya, Alkitab banyak mengajarkan hal itu. Itulah sebabnya, John Stott menegaskan bahwa semua orang yang percaya kepada Alkitab harus menerimanya. Dia menulis: ”No Biblical Christian can ignore it” . John Calvin sendiri yang dianggap sebagai ‘pemilik’ doktrin ini menulis ”Sekali pun kita tidak dapat sepenuhnya memahami ajaran tersebut, tetapi kita mengetahui dan menerimanya dari pernyataanNya melalui kitab Suci” .

Dengan memahami hal tersebut, Alkitab menjelaskan bahwa doktrin Predestinasi didasarkan pada beberapa hal penting. Pertama, predestinasi merupakan anugerah Allah semata. Hal ini didasarkan kepada sifat Allah yang penuh kasih dan rahmat (Ef.2:4,8; Ro.9:16). Ini menegaskan bahwa tidak ada sesuatu kebaikan dalam diri manusia yang membuatnya layak untuk dipilih Allah. Kedua, predestinasi didasarkan kepada kedaulatan Allah. Ini berarti bahwa Allah yang mahakasih dan mahakuasa memiliki kebebasan penuh untuk bertindak. Hal itulah yang ditegaskan Allah kepada nabi Musa: “Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang kuberi karunia” (Kel.33:19; Ro.9:15). Tapi ini tidak berarti bahwa Allah bertindak sewenang-wenang, tanpa dasar kebenaran. Allah sendiri adalah kebenaran. Ketiga, predestinasi bersifat kekal. Di dalam Alkitab Perjanjian Baru, khususnya Injil Yohanes, Tuhan Yesus berkali-kali menegaskan bahwa semua yang diberikan Allah Bapa kepadaNya akan dipelihara sampai kepada kesudahannya. “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama- lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tanganKu” (Yoh.10:28).

Jika demikian halnya, apakah makna doktrin predestinasi? Doktrin tersebut memberikan kepastian keselamatan yang sangat teguh bagi setiap orang yang sungguh-sungguh mengalaminya. “Once saved, forever saved”. Sekali diselamatkan, selamanya diselamatkan, demikian motto yang diberikan. Alasannya adalah bahwa keselamatan yang dimiliki oleh seseorang tidak tergantung kepada kemampuan atau kesetiaannya, tetapi tergantung kepada kemampuan dan kesetiaan Allah yang memberikan keselamatan tersebut. Lalu, bagaimana jika ada kasus seperti artis tersebut di atas? Kemungkinan, artis tersebut memang belum sungguh-sungguh mengalami keselamatan. Atau, jika orang tersebut sudah sungguh- sungguh mengalaminya, apa yang terjadi sekarang dilihat sebagai ketidaktaatan sementara, di mana dengan caraNya sendiri orang tersebut pasti akan kembali kepadaNya.-