Monday, 11 December 2017

Pertama sekali perlu ditegaskan bahwa judul tersebut di atas tidak bermaksud memprovokasi pembaca untuk bersikap negatif terhadap peran PGI (Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia) selama ini. Sejujurnya, penulis tidak bermaksud mengecilkan peran PGI, apalagi meniadakannya. Karena memang, perannya jelas ada dan besar. Adanya peran yang besar itu, sebagian dapat dibaca dari dua tulisan terdahulu yang dimuat dalam harian ini secara berturut-turut. Pertama, ditulis oleh Sekretatis Umum PGI, Richard Daulay (Mengesa dan jadi Berkat bagi Bangsa, 26.5.07), dan kedua, ditulis oleh petinggi PGI lainnya, Weinata Sairin, seorang penulis yang produktif (PGI: 57 Tahun Keesaan Gereja. 2.6.07)

Namun di tengah-tengah peran yang demikian, memang ada beberapa peristiwa yang membuat anggota jemaat mengajukan pertanyaan tsb di atas.

Pertama, pertanyaan tersebut dimunculkan secara spontan di zaman Orde Baru, di masa Suharto. Ketika itu, negara ini dilanda berbagai macam krisis, termasuk krisis ekonomi. Akibatnya, tentu saja juga dirasakan oleh rakyat. Sebagian besar rakyat di republik ini hidup sangat menderita. Dalam kondisi yang demikian, penulis tidak tahu apakah pembaca masih ingat ketika ketua PGI mendadak muncul di TV. Untuk apa? Untuk memberi pesan penggembalaan yang menguatkan umat? Harapan kita memang demikian. Tapi ternyata, bukan itu yang dilakukannya. Tapi dia muncul untuk menghimbau anggota jemaat untuk mendukung negara mengatasi krisis tersebut dengan cara: menyumbang emas! Menanggapi seruan tersebut, seorang anggota jemaat berseru: “Apa? Menyumbang emas buat negara? Astaga! Apa tidak salah tuh? Bukannya sebaliknya yang harus terjadi? Apakah beliau ini tidak mengenal anggota jemaatnya yang sedemikian menderita? ...Quo Vadis PGI? Mau ke mana sih PGI?”

Sebenarnya, semua orang tahu bahwa berbagai krisis yang terjadi di republik ini, bukanlah karena kondisi alam yang miskin. Sesungguhnya, kita bersyukur karena tinggal di negara dengan berbagai kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Lalu di mana masalahnya? Manusianya. Masalah kepemimpinan yang kurang atau tidak bermoral. Hidup tidak jujur, korupsi meraja lela di mana-mana. Itulah yang terjadi sampai sekarang. Karena itu, trilyunan rupiah uang negara bisa parkir di sembarang tempat. Dalam kondisi seperti itu, maka sesungguhnya kehadiran PGI sangat diharapkan untuk menyuarakan suara kebenaran, suara kenabian. Tapi, lagi-lagi kita kecewa. Yang terjadi bukan suara kenabian, malah seruan mengumpulkan emas. Kita dapat mengerti jika George Aditjondro pernah menegaskan bahwa Lembaga Kristen tidak jelas suara kenabiannya. Di pihak lain, almarhum Pdt Dr. Eka Darmaputera pernah mengatakan bahwa PGI tidak mampu menyikapi kondisi yang terjadi dalam bangsa Indonesia.

PENTINGNYA KETELADANAN

Lama setelah peristiwa tersebut di atas, pertanyaan Quo Vadis PGI terdengar kembali. Lagi-lagi berhubungan dengan masalah kepemimpinan yang dianggap tidak beres. Rupanya, masalah sudah sedemikian dan tidak dapat ditolerir. Karena itu, harus segera diadakan Sidang Istimewa PGI. Maka jadilah Sidang Raya ke-14, yang merupakan sidang yang dipercepat. Ada apa? Konon, hal itu juga disebabkan oleh perilaku pimpinan yang dianggap tidak pantas. Issunya tidak tanggung-tanggung; ada gonjang-ganjing bahwa pemimpin berselingkuh. “Astaga! Pemimpin Gereja berselingkuh? Jika pemimpinnya demikian, mau kemana PGI dibawa?” demikian seorang anggota Gereja setengah berteriak.

Demikian juga, beberapa orang yang mengasihi organisasi Gereja yang sangat besar dan strategis itu, turut bersuara keras. Tidak kalah, bahkan seorang tokoh nasional yang sangat dihormati, Prof. J.E. Sahetapy, juga memberikan reaksi yang sangat keras. Memang sebagian orang menampik issu itu karena dianggap tidak ada bukti. Namun demikian, Prof. Sahetapy menegaskan: “Pembuktian soal perselingkuhan itu tidak mudah. Tapi, bagi saya, dia pergi ke berbagai tempat selalu dengan perempuan yang bukan muhrimnya tidak memberikan contoh yang baik...kalau seorang keluar ke mana-mana dengan perempuan berkali-kali, saya rasa indikasi tidak bermoral. Itu tidak pantas, kecuali bagi anak-anak yang sudah begitu permisif” (Narwastu Pembaruan, edisi Februari 2005).

Kita setuju dengan etika dan keteladanan yang diserukan oleh Sahetapy tsb. Hal seperti itu dituntut dari semua umat Tuhan, khususnya yang berada di posisi kepemimpinan. Bukankah Kitab Suci kita juga banyak bicara mengenai keteladanan, dan bukan hanya ngomong doang? Tuhan Yesus menyerukan: “Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu” (Yohanes 13:15). Demikian juga, Rasul Paulus pernah menegaskan: “Turutilah teladanku” (1Korintus 4:16; Fil.3:17).

Saya kira, kita semua setuju bahwa di usianya yang ke 57, di tengah-tengah kondisi dan permasalahan Gereja dan bangsa yang sedemikian kompleks, banyak hal dituntut dari PGI. Tetapi, yang terutama adalah masalah KETELADANAN HIDUP. Hal itu khususnya dituntut dari jajaran pemimpin.

Secara pribadi, penulis beberapa kali bertemu dengan almarhum Letjen (purn) TNI T.B. Simatupang dan sangat terkesan dengan keteladanannya. Saya setuju dengan pernyataan seseorang: “Saya amati bahwa di bawah kepemimpinan pak Simatupang, PGI amat disegani di tengah Gereja dan bangsa. Meskipun ia seorang jenderal, tapi Pak Sim tak memakai senjata untuk memimpin PGI. Tapi dia memakai hati untuk mengurus PGI dan berkomunikasi dari hati yang dalam”. Kita doakan agar di masa bakti Pdt. Dr. A.A. Yewangoe dan seluruh timnya, PGI semakin memiliki arah yang jelas: MENJADI BERKAT DAN TELADAN bagi seluruh umat khususnya, dan bangsa Indonesia pada umumnya.-