Wednesday, 17 January 2018

Oleh
Pdt Mangapul Sagala

Pada waktu yang lalu, ada sebuah diskusi yang cukup seru dalam sebuah mailing list. Topik yang dibahas ketika itu adalah mengenai tempat yang tepat untuk menyekolahkan anak.
Dari diskusi tersebut dapat disimpulkan bahwa ternyata, hal menyekolahkan anak bukanlah hal yang sederhana, sebagaimana dipikirkan oleh sebagian orang. Ada yang berpandangan bahwa anak merupakan masa depan sekaligus menyatakan identitas orang tua. Oleh karena itu, alangkah bijaksana bila menyekolahkan anak ke tempat yang terbaik dan berkualitas.

Tapi masalahnya adalah ketika seorang netter mempertanyakan, "Bagaimana jika kemampuan orang tua terbatas? Bukankah sekolah bermutu dengan berbagai sarana dan prasana yang dimilikinya, biasanya sangat mahal?"

Di pihak lain, ada sebagian orang yang tidak hanya melihat soal mutu pendidikan, tetapi juga melihat pentingnya keseimbangan antara pendidikan yang tinggi dan moral serta kerohanian yang baik. Tentu saja, pilihan seperti ini merupakan hal yang ideal. Namun, alangkah sukarnya mencari sekolah yang memiliki kualitas seperti itu. Kalau pun ada, tentu akan sangat terbatas daya tampungnya.
Jadi, orang tua harus realistis. Seorang netter mempertanyakan bagaimana sekiranya kita dipaksa memilih salah satu saja. Pilihan mana yang mendapat prioritas?

Untuk itu, para peserta diskusi juga tidak memiliki jawaban yang sama. Di satu pihak, ada yang mengatakan akan tetap menekankan mutu pendidikan, walau lingkungan sekolah tersebut kurang baik. Alasannya adalah, "Kita para orang tua dapat mengisi moral dan kerohanian anak tersebut di rumah". Dengan perkataan lain, menurut kelompok tersebut, sekolah bukanlah tempat mendidik hal moral dan kerohanian. Yang penting adalah adanya mutu pendidikan yang melampaui sekolah-sekolah lain.

Di pihak lain, ada kelompok yang sangat menganjurkan agar moral dan kerohanian anak sungguh-sungguh diperhatikan sebelum memasukkan anak ke sekolah tertentu. Oleh karena itu, seorang netter bertanya: "Apa gunanya anak kita pintar, tetapi ujung-ujungnya mereka tidak memiliki moral dan kerohanian yang baik?"

Selanjutnya, dapat dipahami bahwa dengan penekanan seperti di atas, dia menegaskan bahwa kalau toh harus memilih antara mutu pendidikan dan kerohanian, dia akan memilih yang kedua. Secara konsekuen dia mengatakan bahwa dia memang menjadikan sekolah Kristen menjadi pilihannya untuk menyekolahkan anak-anaknya. Dan lagi, menurut orang tersebut, selain mendapatkan jaminan dan penekanan dalam hal moral dan kerohanian, dalam kenyataannya ada juga sekolah-sekolah Kristen yang memiliki mutu pendidikan yang baik.

Bagaimana Faktanya?

Kelompok Air Mata Guru dari Medan melaporkan adanya kecurangan pada Ujian Nasional yang lalu. Yang menyedihkan, laporan tersebut bukan hanya menyatakan adanya kecurangan ketika ujian di berbagai sekolah, seperti adanya guru membacakan lembar jawaban, tetapi yang lebih menyedihkan adalah bahwa dari nama-nama sekolah yang disebut sebagai pelaku kecurangan tersebut, cukup banyak yang menyandang nama-nama Kristen!

Astaga! Apa alasannya? Apakah sekolah Kristen tersebut telah kehilangan visi? Demikian barangkali pertanyaan seseorang.

Menurut kelompok Air Mata Guru tersebut di atas, alasan mereka sederhana: "Sekolah-sekolah lain juga melakukan hal yang sama. Mengapa harus lain sendiri dan menanggung kerugian dengan nilai murid yang lebih rendah dibandingkan sekolah lain yang terbukti telah melakukan kecurangan?"
Memang, alasan tersebut kelihatannya logis. Kadangkala, ada yang mengatakan bahwa tindakan tersebut bagaikan memakan buah simalakama; dimakan, maupun tidak dimakan, sama-sama menanggung risiko besar.

Namun, jika kita kembali kepada visi pendidikan sekolah Kristen yang berdasarkan Alkitab, hal tersebut di atas menjadi batu ujian. Ya, ujian bagi sekolah Kristen: kepala sekolah, guru, dan juga bagi murid. Mengapa?

Karena dalam kenyataan hidup sehari-hari, kita juga akan menemukan berbagai ujian terhadap iman Kristen. Oleh karena itu, ujian tersebut seharusnya tidak menjadi batu sandungan, yang membuat guru atau murid terjatuh dan gagal.

Kondisi seperti itu sebaiknya justru dijadikan batu loncatan yang membuat guru dan murid semakin tangguh dan tahan uji menghadapi hari-hari esok yang kelihatannya semakin sulit.
Dan lagi, jika kepada saya ditanya, "Mengapa harus lain sendiri? Mengapa harus berbeda?" Maka jawab saya adalah sangat jelas dan tegas. Sesungguh-sungguhnya, kita orang Kristen, memang dipanggil untuk berbeda.

Demikianlah penegasan Rasul Paulus: "Janganlah menjadi serupa dengan dunia ini" (Roma 12:2). Lebih lagi, Tuhan Yesus juga menyerukan: "Kamu adalah terang dunia" (Mat 5:14). Perhatikan kata "adalah" (bukan "jadilah"), yang berarti menyatakan identitas Kristen yang sejati.
Terang memang berbeda dengan gelap. Terang tidak boleh berubah menjadi gelap. Akan tetapi, terang harus menghalaukan kegelapan (Yoh 1:5).

Karena itu, di mana ada terang, di sana kegelapan tidak akan bertahan! Dengan perkataan lain, hanya orang Kristen palsu: murid, guru, kepala sekolah, dan orang tua yang tidak memiliki terang, yang memelihara kegelapan tersebut.

Penulis adalah alumnus Trinity Theological College, Singapura, melayani di Persekutuan Antar Universitas (Perkantas).

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0705/12/opi03.html"Quo Vadis" Sekolah Kristen?