Monday, 11 December 2017

Pdt. Mangapul Sagala

Ada yang mengatakan bahwa kita sedang hidup dalam sebuah zaman modern dengan gaya hidup hedonis. Maksudnya, sebuah gaya hidup di mana kesenangan dan kenikmatan menjadi tujuan. Benarkah demikian? Jika benar, maka kita harus sadar bahwa dengan gaya hidup seperti itu, jangan bicara soal kebenaran. Juga jangan bicara soal agama dan Tuhan. Mengapa? Karena di dalam kehidupan seperti ini, Tuhan tidak ada; kalaupun ada, dianggap tidak ada. Lalu apa yang menjadi Tuhan mereka? Jawabnya, kenikmatan dan kesenangan itu sendiri. Jika demikian halnya, maka manusia yang hidup di zaman ini tentulah hidup nikmat dan bahagia, bukan? Nah, di situlah masalahnya. Karena dalam kenyataan hidup sehari-hari, kita menyaksikan bahwa manusia di sekitar kita jauh dari ciri-ciri hidup bahagia.

Demikian juga, apa yang kita saksikan dalam berbagai media cetak dan elektronik adalah manusia yang hidup tertekan, frustrasi, hidup dengan berbagai macam bentuk kekerasan dan kekejaman. Singkat kata, kita menyaksikan orang-orang dengan berbagai macam masalah hidup.

Barangkali ada yang bertanya: "Apa sebenarnya yang menjadi masalah hidup manusia yang sesungguhnya?" Pertanyaan yang sama pernah diberikan kepada seorang ahli ilmu jiwa. What is the real problem of man? Menarik sekali menyimak jawaban ahli tersebut. "The real problem of man is the REAL itself". (Masalah manusia yang sesungguhnya adalah REAL itu sendiri). Setelah mengamati pasien-pasien yang datang ke kliniknya selama puluhan tahun, maka orang tersebut menyebut empat hal yang menjadi masalah manusia pada umumnya. Pertama, Restless. Manusia hidup tidak tenang, gelisah. Kedua, Emptiness. Manusia hidup dalam kekosongan jiwa. Ketiga, Aimless. Manusia hidup tanpa tujuan hidup yang jelas. Dan keempat, Loneliness. Manusia hidup dalam kesepian.

Berbagai upaya untuk mengatasinya
Apakah pembaca sekalian setuju dengan pengamatan ahli ilmu jiwa tersebut diatas? Kelihatannya, hal itu sulit kita sangkali. Itulah sebabnya, untuk mengatasi kehidupan tersebut di atas, berbagai usaha dicoba untuk dilakukan. Baik dengan cara yang kelihatannya positif, maupun yang negatif. Sebagai contoh, seorang yang mengalami kegelisahan hidup, akan melakukan berbagai kegiatan walaupun sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan. Orang tersebut melakukannya hanya untuk melarikan diri dari kegelisahan. Lalu bagaimana dengan hati dan jiwa kosong? Juga harus dicari solusinya. Di dalam pelajaran Fisika, kita mengenal apa yang disebut dengan hukum keseimbangan. Hukum ini mengajarkan bahwa alam menentang ruang hampa. Karena itu, jika kita memompa angin keluar dari sebuah ruangan, jika ruang itu tidak ditutup dengan rapat, angin akan masuk kembali untuk mengisi ruang tersebut. Demikian juga dengan hati yang kosong. Ia harus segera diisi. Ada yang mencoba mengisinya dengan mencari harta sebanyak-banyaknya. Yang lain dengan mempraktekkan gaya hidup bebas, gaya hidup hedonis sebagaimana disebutkan di atas. Itulah sebabnya kita dapat menyaksikan di sekitar kita adanya orang-orang yang menganut cinta bebas (free love), sex bebas (free sex) serta mengkonsumsi narkotik dan obat-obat terlarang lainnya. Walau orang-orang itu telah melihat sendiri akibat dari perbuatan tersebut, termasuk hilangnya nyawa, namun demi sebuah kesenangan dan kenikmatan hidup, mereka tetap saja nekad melakukannya.

Setelah melakukan hal tersebut di atas, apakah hasilnya? Apakah mereka hidup tenang dan puas? Jika mereka mau jujur, maka sesungguhnya mereka akan menjawab dengan, "Tidak". Hasilnya, nol besar, bahkan minus, karena dengan semua itu, masalah hidup semakin besar. Lalu mengapa setelah melakukan berbagai macam hal tersebut di atas, mereka tetap saja tidak bahagia? Alkitab memberikan jawaban yang jelas dan tegas.

Jawaban yang pasti
Perlu kita ingat bahwa gaya hidup seperti di atas bukan hanya terjadi dizaman modern ini. Alkitab menjelaskan bahwa hal itu telah terjadi sejak ribuan tahun yang lalu. Jadi, gaya hidup hedonis bukanlah gaya hidup modern, tetapi gaya hidup orang berdosa dan diperbudak oleh dosa. Itulah sebabnya perempuan Samaria yang menganut gaya hidup seperti itu mempraktekkan sex bebas dengan cara gonta-ganti suami sampai setengah lusin! Ketika Tuhan Yesus bertemu dengan perempuan tersebut di pinggir sumur Yakub, kita membaca satu pernyataanNya yang sangat penting: "Barangsiapa minum air ini akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus sampai selama-lamanya. Sebaliknya, air yang kuberikan kepadanya akan menjadi mata air di dalam dirinya yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh.4:13-14).

Dari pernyataan Tuhan Yesus tersebut, kita menemukan dua hal yang sangat penting. Pertama, apapun yang kita peroleh dalam dunia ini tidak akan pernah dapat memuaskan hati kita untuk selamanya. Kepuasan sesaat, barangkali dapat ditemukan, tapi itu adalah kepuasan yang palsu, bukan kepuasan yang sejati. Berulang kali Alkitab menegaskan bahwa manusia yang hidup dalam dosa, tidak akan pernah menikmati kebahagiaan hidup yang sejati. Dosa memperbudak manusia melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya dan akan berakhir pada kondisi yang mempermalukan dan membinasakan! (Baca Roma 6:20-21). Lalu bagaimana dengan materi atau harta yang berkelimpahan? Bukankah seharusnya itu memberi kebahagiaan? Ternyata tidak. Menarik sekali menyimak pernyataan Raja Salomo, seorang yang sangat kaya di zamannya. "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas denga penghasilannya. Ini pun sia-sia" (Pengkh.5:9).

Kedua, kepuasan yang sejati ditemukan di dalam Yesus. Para ahli mengetahui bahwa Injil Yohanes sarat dengan bahasa teologis yang sangat dalam, namun diungkapkan dengan sederhana dan dengan simbol-simbol. Itulah sebabnya, kita melihat bahwa dalam kisah tersebut Tuhan Yesus beralih dari air yang diperoleh dari sumur Yakub kepada air hidup yang akan diberikan olehNya. Dengan perkataan lain, Tuhan Yesus beralih dari kebutuhan jasmani kepada kebutuhan rohani. Di sana terlihat satu kenyataan hidup yang sesungguhnya yang sedang dialami oleh perempuan tersebut. Itulah kehidupan yang hampa, yang telah diisi dengan berbagai macam cara, namun tidak pernah penuh atau puas, sebagaimana seseorang harus bolak balik ke sumur Yakub untuk mengisi tempayannya.

Jika kita mengamati dan merenungkan pernyataan Yesus tersebut di atas, kita menemukan satu pernyataan yang sangat berani dan bersifat absolut, di mana tidak sembarang orang dapat mengatakannya. Mengapa? Karena dalam pernyataan tersebut Tuhan Yesus menjanjikan kepuasan dan kebahagiaan hidup yang pasti. Dan kepuasan hidup tersebut bukanlah kepuasan sesaat, sebab Dia menegaskan, "Barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya". Satu lagi, kepuasan hidup tersebut bukan hanya untuk dinikmati sendiri, menjadikan hidup semakin egois. Tidak! Sebab selanjutnya kita membaca bahwa air hidup yang diberikanNya akan memancar keluar, terus menerus mengalir sehingga dapat dinikmati oleh orang-orang di sekitarnya.

Akhir kata, Alkitab menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah dapat menikmati kepuasan dan kebahagiaan hidup di luar persekutuan dengan Allah, Sang Penciptanya. Agustinus, bapak Gereja pernah menulis: "Ya Tuhan, Engkau telah menciptakan aku di dalam persekutuan denganMu. Jiwaku tidak akan pernah puas, sampai dia mendapat perhentian di dalam Engkau". Ribuan tahun yang lalu, Agustinus telah menemukan rahasia kebahagiaan hidup di dalam Tuhan. Kiranya Anda semua juga mengalami hal yang sama, khususnya ditengah-tengah kehidupan yang semakin sulit dan keras ini.-