Monday, 11 December 2017

Ada banyak hal yang sangat berkesan ketika kami Tim PA Simpruk ( 16 orang) melakukan pelayanan atau yang disebut dengan mission trip ke Ambarita, Samosir, pada hari Jumat s/d Minggu, 26-28 Oktober ’07 yang lalu. Salah satu yang sangat berkesan bagi saya adalah percakapan antara ibu Sinuhaji br Sembiring (sekitar 60 tahun) dengan istri saya, Junicke Sagala. Hal itu terjadi setelah acara perpisahan, di mana pendeta dan majelis Gereja HKBP Ambarita mengadakan acara jamuan makan pada hari Minggu siang. Pada saat itu, sambil bersalaman, dengan wajah yang sangat ceria, ibu tersebut berkata: “Sampai ketemu di sorga”. Agak kaget mendengar kalimat itu, ibu Junicke menjawab: “Ah, tante, seperti sudah mau meninggal saja. Kita toh masih akan ketemu di Siantar.”

(Kota di mana ibu Sinuhaji dan ayah mertua saya berdomisili). Kemudian, ibu Sinuhaji berkata: “Maksud saya, jika tidak lagi ketemu di dunia ini, kita pasti akan ketemu di sorga”. Selanjutnya, kami berangkat menuju Siantar dengan kendaraan yang berbeda.

Baru saja kami tiba di rumah sekitar 5 menit, kami menerima telpon bahwa ibu Sinuhaji telah dipanggil pulang ke rumah Bapa di sorga! Beliau meninggal di Siantar, pada saat berjalan hendak hendak menuju rumahnya. Nampaknya, beliau mengidap penyakit jantung.“Ah masak sih? Lho kok tadi ibu tersebut dengan sangat yakin mengatakan ‘sampai ketemu di sorga?’” seru ibu Junicke.

Apa Dasarnya?

Apakah pengharapan tentang sorga merupakan impian orang sederhana, seperti anak-anak sekolah Minggu yang tidak berdasar sama sekali? Jawabnya, tentu saja, tidak. Orang-orang pintar dan berpengalaman pun banyak yang percaya akan keberadaan sorga. Sebagai contoh, N.T. Wright, seorang yang sangat ahli dalam Perjanjian Baru, memiliki reputasi internasional, dan pernah menjadi guru besar di universitas bergengsi, seperti Universitas Cambridge dan Oxford juga menegaskan akan keberadaan sorga sebagai tujuan akhir semua orang percaya. Di dalam buku yang berjudul The Meaning of Jesus, dia mengacu kepada 1Kor.15, sebuah pasal besar di dalam Perjanjian Baru yang berbicara tentang akhir hidup orang percaya. Tom Wright menulis: “Inilah inti pengajaran 1 Kor.15, bahwa semua akan diubahkan. Pada hari terakhir, sangkakala Allah akan berbunyi dan orang mati akan dibangkitkan....Kematian akan dikalahkan oleh kemenangan Allah. (hal.202). Demikian juga, Prof. Donald G. Bloesch dalam bukunya Essentials of Evangelical Theology menegaskan bahwa sorga bukan sekedar suasana pikiran atau hati, atau lingkungan yang semakin baik. Dia menuliskan bahwa sorga adalah sebuah realitas, “not merely states of mind but time- space dimensions beyond our space and time” (vol.2, hal.212).

Alkitab memang banyak berbicara tentang sorga dan hidup kekal sebagai tujuan akhir dari orang-orang yang mengalami karya penebusan Tuhan Yesus. Hal itu terlihat dengan jelas, baik di dalam Perjanjian Lama (Ibrani, sorga = samayim. Aramik, semayin), mau pun di dalam Perjanjian Baru (Yunani, ouranos). Nabi Daniel menulis: “Dan banyak dari antara orang-orang yang telah tidur di dalam debu tanah, akan bangun, sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian lagi mengalami kengerian yang kekal” (Dan.12:2). Rasul Yohanes juga menulis: “...supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yoh.3:16). Bahkan di dalam doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus, yang setiap Minggu diucapkan oleh umat di Gereja, dengan jelas menyebut sorga (Mat.6:9). Lukas mencatat bahwa ke sana lah Tuhan Yesus terangkat setelah menyelesaikan tugasNya di dunia ini (Luk.24:51). Itu juga yang menjadi tujuan akhir dari setiap orang percaya, sebagaimana nyata dari janji Tuhan Yesus: “...Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempatKu, supaya di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yoh.14:3).

Seorang Pastor Katolik yang sangat terkenal, Henri J. Nouen, menggaris bawahi betapa banyak nyanyian Kristen yang berbicara tentang sorga dalam Ibadah setiap Minggu. Karena itu, tidak seharusnya orang-orang beriman takut terhadap kematian. Sekali pun orang-orang beriman hidup di dalam berbagai kesulitan, penderitaan dan aniaya yang mengancam nyawa, namun pengharapan akan sorga tidak boleh pudar. Sebab ke sanalah pikiran dan hati terus menerus diarahkan, sebagaimana diperintahkan oleh Firman Tuhan (Kol.3.1-2). Hal itulah yang rupanya dialami oleh almarhumah, Ibu Sinuhaji br Sembiring tsb di atas. Itu jugalah yang menjadi pengharapan kita yang teguh dan pasti. Sorga bukan sekedar impian. Tapi dia juga sebuah kenyataan. Sorga itu, tidak ternilai harganya dan tidak dapat dibayar oleh apa pun, selain oleh darah Tuhan Yesus yang sangat mahal (1Pet.1:19). Wah, betapa bahagianya menjadi orang percaya. “Selamat jalan ibu Sinuhaji ke rumah Bapa di sorga. Terimakasih telah mengingatkan kami akan kepastian sorga.” Kiranya Tuhan mengaruniakan kepada kita semua iman, sukacita dan kepastian yang sama. Dengan demikian, kita tidak mengakhiri hidup dengan sia-sia.-