Monday, 11 December 2017

Oleh: Pdt. Mangapul Sagala

Billy Graham, penginjil Amerika yang sangat terkenal itu pernah mengatakan satu pernyataan yang sangat tidak mengenakkan di telinga jemaatnya. Saya yakin pernyataan itu juga tidak enak di telinga kita, namun perlu. Mari kita simak pernyataan berikut: "Sesungguhnya, banyak di antara kita hanya semakin tua, tetapi tidak semakin dewasa." Maksudnya, usia terus bertambah, tapi sayangnya, hal itu tidak diikuti dengan pertumbuhan rohani.

Bagaimana pendapat Anda terhadap pernyataan tsb? Sulit disangkal, bukan? Jika kita berani jujur, maka kita juga mengamati hal yang sama. Kita tidak perlu repot-repot mencari contohnya dalam diri orang lain, karena bisa jadi, diri kita sendiri pun bisa dijadikan contoh. Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, ratusan, bahkan ribuan kali kita telah pergi beribadah. Tapi pertanyaan besar adalah apakah kehidupan rohani kita menunjukkan ciri-ciri pertumbuhan rohani? Apakah pengenalan kita kepada Yesus Kristus semakin dalam? Jika ya, apakah pengenalan tersebut membuat kasih kita semakin bertumbuh kepadaNya? Jika demikian, apakah kasih itu membawa kita semakin setia kepadaNya?

Lalu bagaimana sikap kita dengan Alkitab? Seiring dengan bertambahnya usia kita, sejauh mana kita mencintai Firman Allah tersebut? Apakah pemahaman kita akan Alkitab semakin meningkat dari waktu ke waktu? Kelihatannya, jawaban terhadap pertanyaan tersebut bersifat negatif. Dalam beberapa kali kegiatan pembinaan, penulis menemukan kenyataan yang menyedihkan. Cukup banyak anggota jemaat, termasuk yang telah mencapai usia lanjut mengalami kesulitan untuk menemukan dimana Kitab-kitab tertentu. Karena itu, ketika harus membaca kitab tertentu, penulis harus menyebut pada halaman berapa kitab tersebut ditemukan.

Pertumbuhan rohani dan akibatnya
Seharusnya, kita semua bertumbuh dalam kerohanian kita. Mengapa? Karena sesungguhnya, itulah ciri dari kehidupan. Semua yang hidup pasti bertumbuh. Orang sakit pun bertumbuh, walau pertumbuhannya kelihatan lambat. Hanya mayat yang tidak bertumbuh. Mayat memang tidak mungkin bertumbuh. Sebaliknya, akan membusuk! Demikian juga dengan kerohanian kita. Jika kita mengaku bahwa kita telah mengalami kelahiran kembali atau ciptaan baru dan sejenisnya, maka kita harus bertumbuh. Jadi sebenarnya, yang kita perlukan bukan sekedar pernyataan bibir bahwa kita ini telah bertobat atau telah menjadi manusia rohani, tapi kenyataan dari pertobatan tersebut.

Sesungguh-sungguhnya, pertumbuhan itu sangat penting dan semakin mendesak untuk kita alami. Karena dengan pertumbuhan, kita dapat bertahan dalam kehidupan yang penuh kesulitan, tantangan dan godaan. Disadari atau tidak, kita semua sedang mengarungi samudera kehidupan yang penuh badai dan topan. Tanpa adanya pertumbuhan, maka kita akan hanyut, tenggelam dan hilang tanpa bekas. Sehubungan dengan itu, kita mengerti jika Alkitab memerintahkan agar kita semua bertumbuh, dan menjadi dewasa. Ya, dewasa penuh seperti Kristus. Allah tidak menghendaki kita seperti anak-anak (Baca Efesus 4:13-14).

Ketika kita telah mencapai pertumbuhan dan kedewasaan iman, saat itulah kita sanggup melawan berbagai angin pengajaran yang timbul di sekitar kita. Barangkali ada yang bertanya: "Bukankah semua ajaran adalah sama sama dari Alkitab? Buat apa takut? Jangan menghakimi, akh!" Jika ini yang menjadi pertanyaan pembaca, maka perlu kita menyimak firman Tuhan berikut: "Sehingga kita bukan lagi anak-anak yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan" (Ef.4:14). Dari sini jelas, penyesat memang ada. Ajaran sesat juga ada. Hal itu telah kita saksikan sepanjang sejarah Gereja. Karena itu, kita harus waspada, jangan percaya sembarang pengajar, juga hati-hati terhadap ajarannya.

Bagaimana membedakan ajaran yang benar dan sesat? Jawabnya, dengan jalan bertumbuh dan menjadi dewasa, sehingga mampu "berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih" (Ef.4:15). Sesungguhnya, tanpa pertumbuhan dan kedewasaan kerohanian, apa yang dapat kita harapkan dari seseorang? Menang melawan berbagai pencobaan, godaan dan kenikmatan? Apa dasarnya untuk melawan dan menolak hal-hal yang kelihatannya sangat membahagiakan itu? Tidak ada! Itulah sebabnya, tanpa kedewasaan, misalnya, kita akan melihat siswa dan mahasiswa dengan mudah melakukan korupsi kecil-kecilan alias menyontek. Dan kelak, ketika menjadi pejabat, orang seperti ini akan siap melakukan korupsi besar-besaran. Jadi, kita tidak perlu heran ketika seseorang dengan mudah menjual imannya demi materi, ketenaran, jabatan, suami, istri dan sejenisnya. Karena hal itu menceriminkan imannya. "Pohon dikenal dari buahnya", demikian penegasan Tuhan Yesus.

Sebaliknya, orang seperti B. Singh di India dengan tegas menolak untuk dimahkotai jadi pemimpin karena harus melepaskan imannya kepada Yesus. Itulah yang dilakukan Rasul Petrus ketika dia menolak menyangkali Yesus dan siap jadi martyr. Dan inilah seruan dari sang martyr tersebut"Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh" (1Pet.2:2). Di akhir suratnya kembali dia menyerukan: "...bertumbuhlah...dalam pengenalan akan Tuhan kita Yesus Kristus" (2 Pet.3:18). -