Monday, 11 December 2017

Banyak hal yang membuat kita senang atau bahagia dalam hidup ini. Tentu hal itu belum tentu sama dalam setiap orang. Bagi saya, hal yang sungguh membahagiakan adalah ketika merasakan kebenaran dan penggenapan firman Tuhan terus bergema dalam hidup sehari-hari. Karena itu saya akan mensharingkan beberapa hal, sebagai 'oleh-oleh' setelah enam bulan (Maret-Agustus 03) mengadakan research dan mengumpulkan bahan untuk disertasi di Cambridge-Inggris,:

Pertama, selama di sana, saya teringat firman Tuhan yang mengatakan bahwa kita harus bekerja selagi siang, karena akan datang malam di mana tidak seorangpun dapat bekerja (Yoh.9:4). Saya bersyukur bahwa hampir setiap akhir pekan saya mendapat kesempatan melayani ke berbagai kota lain di Inggris dan beribadah di berbagai gereja. Betapa menyedihkan kondisi kekristenan yang saya lihat disana, khususnya kaum muda. Bangunan gereja memang besar dan memiliki arsitektur yang megah. Namun, pengunjungnya tidak banyak. Karena itu, tidak heran kalau di gereja yang besar dan megah itu hanya mengadakan satu kali kebaktian, bahkan beberapa gereja siap untuk dijual. Sedih menyaksikan kenyataan orang-orang berkerumun memasuki gereja, tapi bukan untuk beribadah dan berdoa, tetapi melihat keindahan arsitekturnya. Menurut sebuah hasil penelitian, orang Kristen di Cambridge yang beribadah rutin tiap hari Minggu hanya sekitar 5 %!" Melihat kenyataan itu, saya sangat bersyukur untuk Indonesia. Saya melihat betapa Indonesia dikaruniai Tuhan hati untuk beribadah dan rindu mendengar firmanNya dan di mana-mana kita melihat gereja dipenuhi oleh mereka yang rindu berdoa, mendengar firman dan beribadah menyembah Tuhan. Beberapa gereja malah mengadakan kebaktian hingga 4-5 kali dalam hari Minggu! Demikian juga di Perkantas, pembinaan-pembinaan yang dipersiapkan dengan baik, umumnya diikuti oleh banyak orang. Sungguh sangat bersyukur melihat kenyataan itu. Namun demikian, timbul pertanyaan dalam hati: "Sampai kapan masa emas ini demikian?" Karena itulah, firman tsb di atas sungguh berbicara: Bekerjalah selagi siang. Ya, kita semua: staff, pengurus dan pendukung harus secara serius meresponi firman Tuhan tersebut. Kita manfaatkan kesempatan emas ini dengan baik. Marilah kita membina siswa, mahasiswa (juga alumni) dengan lebih sungguh selama mereka masih terbuka untuk dibina. Kiranya kita tidak menyesal bila kelak kesempatan emas ini berlalu, dan kita tidak berbuat apa-apa. Atau berbuat juga, akan tetapi setengah-setengah hati.

Kedua, saya juga teringat firman Tuhan yang mengatakan bahwa apa yg ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. (Gal.6:7). Suatu ketika-ditengah kesedihan melihat kenyataan kekristenan di Inggris, seseorang menginformasikan kepada saya tentang gereja Saint Andrew the Great (StAG) di Cambridge yang katanya bagus. Segera saya mencari gereja tersebut dan menemukannya. Memang benar, gereja tersebut bagus dan dihadiri oleh +/- 500 orang, penuh di ruang bawah dan di balkon Gereja yang mengadakan kebaktian 3 kali dalam hari Minggu itu dihadiri banyak mahasiwa dari Universitas Cambridge. Saya merasakan suasana kehangatan dan adanya kuasa rohani. Lagu Puji-pujian dinyanyikan dengan sungguh-sungguh; serasa sedang mengikuti kebaktian kebangunan rohani. Secara jujur saya mengatakan bahwa suasana pujian sangat menyegarkan kami yang seminggu sebelumnya lelah secara rohani akibat research yang cukup berat. Sungguh bersyukur bahwa ternyata di Cambridge, tempatnya the best students in the world, yang menghasilkan jagoan2 dunia seperti mantan PM Singapura, Lee Kwan Yu, ada gereja seperti itu. Melihat banyaknya mahasiswa yang hadir, membuat saya mencari tahu apa rahasianya. Perlu saya beritahukan bahwa di area tsb, setidaknya ditemukan enam gereja yang berdekatan satu dengan lainnya, namun gereja StAG memiliki jemaat terbesar, khususnya dari mahasiwa Cambridge. Dari apa yang saya dengar, saya menyimpulkan bahwa mereka telah melakukan segala macam cara untuk membangun jemaat mereka. Mereka bukan saja sungguh-sungguh dalam doa dan usaha, tetapi juga menggunakan berbagai macam metode yang baik.Dari segi usaha,mereka tidak hanya menunggu jemaat datang ke gereja. Tetapi ternyata, mereka memiliki beberapa staff khusus secara full time yang melayani di berbagai College di Cambridge. Mereka bahkan mengadakan pembinaan rutin di sebuah Café dekat kampus, dimana mahasiswa dengan mudah menjangkaunya. Bagi mahasiswa yang pertama sekali hadir di gereja, mendapat kartu ucapan selamat datang. Mereka juga akan menerima surat ucapan selamat yang dikirimkan ke tempat tinggal mereka. Tidak hanya itu, mereka juga akan diajak mengikuti "International Student Meeting"(dengan topik-topik yang menarik dan relevan).

Akhirnya, firman Tuhan yang kembali bergema adalah, "Hendaklah engkau setia sampai mati." (Why.2:10). Firman tersebut muncul ketika menyaksikan Dr John Stott berkhotbah di All Souls Church, London Diusianya yang sudah melewati 80-an, dengan suara melemah dan cara jalannya menuju mimbar kelihatan agak loyo. Namun demikian, kami dapat menyaksikan kesungguhannya memberitakan ayat-ayat yang barangkali sudah ratusan atau ribuan kali dikhotbahkannya dalam kurun waktu lebih dari 50 tahun! Betapa bahagianya ketika mendengar beliau berkhotbah tentang kasih dan pengorbanan Kristus yang merupakan serial khotbah yang dibawakannya dari Filipi 2. Saya juga sangat bersyukur ketika pada suatu saat setelah kebaktian, beliau mengajak saya makan siang bersama dengan orang-orang dekatnya serta menikmati percakapan dengannya. Sekalipun tenaganya sudah melemah, namun semangatnya untuk sharing sungguh luar biasa. Secara bergantian beliau mengajak kami berbicara secara intim. Saya sendiri sungguh terdorong untuk melakukan yang terbaik dalam research dan pelayanan saya. Setelah makan siang selesai, dalam perjalanan pulang, muncul kesan yang sangat mendalam terhadap beliau. Firman Tuhan tersebut di atas bergema di telinga saya, seakan-akan Allah sendiri bersabda. "Hendaklah engkau setia sampai akhir". Dalam hati saya berdoa: "Ya Tuhan, buatlah saya dan seluruh rekan2 di Perkantas seluruh Indonesia, setia sampai akhir untuk melayani Engkau".

Pdt. Ir. Mangapul Sagala, M.Th