Monday, 11 December 2017

Pdt. Mangapul Sagala.

(staf senior Perkantas Jakarta)

Kita bersyukur memiliki kitab Wahyu, khususnya surat kepada ketujuh jemaat. Sesungguhnya, jemaat Tuhan di mana saja dan kapan saja baik sekali membaca, menggali dan merenungkan bagian itu sesering mungkin. Belajar dari surat kepada ketujuh jemaat tersebut, kita semua disadarkan untuk tidak berpuas diri dengan kondisi kita, dimanapun kita berada dan apapun yang telah diraih. Gereja memang seharusnya tidak menilai dirinya sendiri dan berpuas diri dengan sistim nilai yang ditaruhnya sendiri. Biarlah Tuhan sendiri yang memberi penilaian kepada diri kita.

Dari penilaian Tuhan Yesus kepada jemaat tersebut, kita menemukan bahwa FIRST LOVE, atau kasih semula, merupakan hal yang sangat penting. Hal inilah yang ditegaskan oleh Tuhan Yesus kepada jemaat di Efesus. Tuhan, Sang Pemilik Gereja tersebut mengenal benar kondisi Gereja di Efesus. Karena itu, kita membaca penegasan Tuhan dengan mengatakan: “Aku tahu” (Wahyu 2:4). Tuhan menggarisbawahi KASIH SEMULA sebagai hal yang sangat penting, melebihi segala pencapaian jemaat Efesus. Jika kita amati kondisi jemaat Efesus, maka ‘pantas’ dan ‘wajar’lah mereka jika mereka menepuk dada dan berpuas diri. Mengapa? Karena mereka telah mencapai banyak hal yang baik untuk disyukuri dan dibanggakan. Hal itu pun dinyatakan Tuhan Yesus secara eksplisit. Kita melihat tujuh hal yang menjadi kehebatan jemaat di Efesus, yang barangkali tidak dimiliki oleh banyak jemaat, termasuk kita (Wahyu 2:2-3). Mari kita perhatikan ketujuh hal penting berikut. Pertama, Tuhan menunjuk kepada pekerjaan mereka: “Aku tahu segala Pekerjaanmu”. Kedua, jemaat itu tidak hanya bekerja, tapi bekerja keras: “Aku tahu segala jerih payahmu (Yunani: kopon)”. Ketiga, kerja keras seperti itu tidak dilakukan dengan semangat ‘angin2an’ atau ‘hangat2 tahi ayam’, karena jemaat Efesus dipuji sebagai jemaat yang memiliki ketekunan (hupomonen). Keempat, secara moral mereka juga benar, karena itu mereka tidak dapat sabar terhadap penjahat-penjahat. Kelima, mereka juga tegas terhadap mereka yang mengaku diri rohaniwan tapi hidupnya tidak sesuai dengan itu. Karena itu, Tuhan menilai mereka: “Mencobai rasul-rasul palsu dan menemukan bahwa mereka adalah pendusta”. Keenam, dalam kehidupan berjemaat, ternyata perjalanan mereka tidak mulus. Namun demikian, menurut Tuhan Yesus, mereka “Bertekun dan menderita (menanggung beban) karena namaKu, dan tidak mengenal lelah”. Akhirnya, jemaat Efesus juga dipuji karena keteguhannya kepada etika dan ajaran yang tidak mengikuti kelompok Nikolaus (Wahyu 2:6,15).

Mengamati ketujuh hal tersebut di atas, maka jantung kita dapat berdetak lebih cepat karena kagum dengan kondisi jemaat tersebut. Namun demikian, sebagaimana telah saya sebutkan di atas, Tuhan Yesus menjadikan FIRST LOVE menjadi hal yang terutama yang seharusnya terus menerus dimiliki jemaat. Itulah sebabnya, ketika itu tidak dimiliki oleh jemaat Efesus, terlepas dari segala kehebatan tersebut di atas, Tuhan menegur mereka dengan sangat keras: “Tetapi aku mencela engkau karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula” (first love) (4). Selanjutnya, kita melihat bahwa ketiadaan kasih yang semula tersebut digambarkan sebagai sesuatu kejatuhan. Karena itu, pada ayat 5 kita mengamati tiga perintah Yesus: 1). “Sebab itu, ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! 2). “Bertobatlah...” Kata yang digunakan dalam bahasa Yunani adalah “metanoeson” (aorist, imperative). Ini merupakan perintah yang menuntut tindakan segera. 3). “Lakukan lagi apa yang semula engkau lakukan”. Kata “poieson” (aor, imp) juga merupakan perintah yang menuntut tindakan segera. Lakukan segera hal-hal yang baik yang dulu dilakukan di dalam first love. Robert Mounce menafsir ayat ini dengan menulis: “Bear in mind the loving relationship you once enjoyed and make a clean break with your present manner of life”.

Bagaimana dengan kita semua, khususnya alumni yang hidup sedemikian sibuk dengan berbagai macam godaan? Apakah masih memiliki first love dengan Yesus dan terus memelihara kasih tersebut? Kasih semula tersebut memang penting. Sungguh sangat penting, melebihi semuanya yang dapat kita raih bagi Yesus. Apakah masih ingat bagaimana kasih semula tersebut menampakkan dirinya? Kasih tersebut adalah kasih yang murni, tidak campur aduk dengan yang lain. Karena itu, dia juga hangat, menggetarkan serta bersifat spontan, jauh dari sikap pura-pura atau rekayasa. First love tersebut juga takut menyakiti serta rela berkorban –tanpa merasa berkorban-, mempersembahkan apa saja demi yang dikasihinya. Tindakan seperti inilah yang kita amati dilakukan perempuan yang menumpahkan minyak narwastu yang sangat mahal harganya dan meminyaki Yesus (Mark. 14:3-9). Kasih seperti inilah yang dialami oleh pencipta lagu dengan syair berikut: “Jesus, Jesus, Jesus. Never have I heard a name that thrill my soul like Thine. Jesus, Jesus, Jesus. O what wondrous grace that links that lovely name with mine”. Jika kasih seperti ini masih terus kita miliki, betapa bahagianya hidup kita, karena dengan demikian kita telah memperkenankan hati Yesus.

Kasih seperti di ataslah yang membuat alumni tetap rela dan mencari-cari kesempatan untuk melayani, sekalipun dia sebenarnya sangat sibuk. Suatu kali, saya melihat seorang alumni bersandar di sebuah dinding kantor Perkantas karena kelelahan. Setelah dia terbangun, dia menjelaskan kepada saya bahwa dia tertidur. Sebenarnya dia hanya ingin istirahat sejenak menunggu teman-teman yang akan rapat dalam sebuah kepanitiaan. Dalam kondisi kelelahan seperti itu, dia tetap rindu untuk terlibat dalam pelayanan, memberi yang terbaik kepada Tuhannya. Kasih seperti itu jugalah yang membuat sepasang suami istri berani memilih gaya hidup yang sangat sederhana. Dengan demikian, mereka dapat mendukung pekerjaan Tuhan dengan memberi lebih banyak. Saya yakin, first love seperti itu jugalah yang membuat mantan dosen saya di TTC, alm. Prof. Dr. Alan Cole, seorang ahli Biblika dunia, yang walaupun memiliki honorarium yang sangat tinggi, namun selalu tampil sangat sederhana. Ketika seorang mahasiswa memberanikan diri bertanya mengenai prinsip hidupnya, maka dia menjawab: “Saya berusaha menikmati sesedikit mungkin dari seluruh penghasilan saya, dan mempersembahkan sebanyak mungkin kepadaNya”. Kesaksian itu benar. Kami sendiri telah menyaksikannya. Itulah sebabnya, di tengah-tengah gaya hidup banyak orang yang sedemikian gemerlapan dan hidup materialis di Singapura, dia mampu hidup tanpa memiliki kendaraan. Lalu bagaimana dia melakukan pelayanannya yang sedemikian sibuk? Dengan BMW. Alias Bus, MRT dan Walk! Alan Cole telah meninggal tahun 2003 yang lalu. Saya kira, walau dia adalah salah seorang dosen termiskin ketika itu di TTC, Singapura, sekarang dia adalah salah seorang terkaya di rumah Bapa di surga. Doa dan kerinduan hati saya, ribuan bahkan jutaan di antara kita, khususnya alumni yang mampu hidup seperti Prof Alan Cole tersebut. Tentu, tidak harus persis sama. Tapi mari kita ungkapkan kasih kita kepadaNya, semakin tekun dan semakin sungguh. Mari kita camkan kenyataan ini: jika suatu kali kita akan meninggalkan dunia ini dan bersama Alan Cole dan banyak orang lainnya, hanya buah kasih seperti itulah yang bisa kita bawa ke ‘sana’ kelak. Karena itulah yang kekal.-