Monday, 11 December 2017

Entah karena sedang kebingungan, seseorang bertanya: “Sebenarnya, masih ada nggak sih yang namanya penyembuhan dengan mukjizat? Jangan-jangan semua itu adalah rekayasa orang-orang tertentu”.

Untuk itu, saya akan menjawab dengan tegas: “masih ada”. Saya menyaksikan hal itu terjadi kepada orang tertentu. Selain itu, mohon izin menyampaikan fakta berikut ini. Ketika salah seorang bere saya (ponakan) mengalami penyakit yang sangat menakutkan, yang membuat ibunya terus menerus menangis dalam perjalanan ke RS, seorang hamba Tuhan berdoa dan berseru kepada Tuhan. Syukur, seketika itu juga terjadi mukjizat. Itu sebabnya, ketika tiba di RS St Carolus untuk memastikan kondisi anak itu, maka si ibu merasa sangat lega ketika dokter mengatakan tidak ada apa-apa.

Bagi kita anak-anak Tuhan, tentu saja hal itu bukan sesuatu yang mengherankan. Jika kita membaca Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, kita dapat melihat bahwa Allah dapat melakukan penyembuhan secara langsung, tanpa melalui pelayanan medis, baik melalui hamba-hambaNya (nabi ataupun rasul), juga secara langsung oleh Tuhan Yesus. Jadi, kita tidak perlu ragu akan adanya penyembuhan melalui mukjizat.

Jika demikian, apakah itu berarti bahwa setiap ada orang sakit, kita berdoa saja, atau bawa kepada hamba Tuhan untuk didoakan dan memohon mukjizat? Buat apa kita repot-repot jika Allah kita sanggup menyembuhkan? Dan lagi, bukankah Dia telah berjanji akan memberikan apa saja kepada mereka yang meminta dengan iman? Apakah seseorang yang pergi kepada dokter atau ke RS untuk penyembuhan, berarti mencerminkan kurang beriman? Tentu saja tidak demikian. Karena Tuhan Yesus dengan jelas mengatakan bahwa orang sakit memerlukan tabib (Mark.2:17; Mat.9:12; Luk.5:31). Artinya, kita harus bersyukur bahwa Dia telah mengaruniakan kepada anak-anakNya karunia sebagai dokter untuk mengobati mereka yang sakit. Dengan perkataan lain, kita seharusnya melihat bahwa dokter merupakan perpanjangan tangan Tuhan untuk menjamah dan menyembuhkan orang-orang sakit. Tentu, kita tidak boleh mengandalkan dokter, kita tetap mengandalkan Tuhan dalam tindakan tersebut. Itulah sebabnya, setiap anak-anak Tuhan yang berprofesi sebagai dokter, mereka bersyukur kepada Tuhan atas setiap keberhasilan pengobatan yang mereka lakukan. Setelah bapa mertua saya selesai dan dengan sukses dalam operasi besar, yaitu by pass jantung, maka saya mengatakan terimakasih kepada dokter tsb. Dengan cepat dokter itu mengatakan: “Jangan berterimakasih kepada saya, berterimakasihlah kepada Allah”. Benar, Dialah sumber kesehatan, sumber ilmu kedokteran, dan juga satu-satunya yang berkuasa memberi kesembuhan”.

Namun demikian, dalam kondisi-kondisi tertentu, memang Allah mau mengintervensi langsung orang sakit tersebut melalui adanya mukjizat. Itu telah menjadi pengalaman banyak anak-anak Tuhan di berbagai tempat.

Lalu bagaimana dengan karunia penyembuhan yang ditegaskan oleh Alkitab? (1Kor.12:9). Hal itu ada di Perjanjian Lama, juga ada di Perjanjian Baru, yang kita kita yakini juga masih ada sampai sekarang (1.Kor.12:9). Jika kita bicara soal penyembuhan sebagai karunia (gift), maka kita harus bersikap hati-hati dan benar terhadap karunia itu.

Artinya, itu adalah sebuah pemberian, yang akan dimiliki oleh sipenerima ketika diberikan, tapi ketika tidak diberikan, hal itu tidak akan dimilikinya. Lebih tegasnya, tidak ada jaminan bahwa seseorang itu pasti dapat menyembuhkan seseorang, SEKALIPUN DIA TELAH MEMILIKI KARUNIA PENYEMBUHAN ITU. Di dalam buku saya yang berjudul ROH KUDUS DAN KARUNIA-KARUNIA ROH saya mengutip pandangan theolog D.L. Baker, (yang pernah mengajar di STT Jakarta dan sekarang sebagai deputy warden di Tyndale House, Cambridge). Beliau menegaskan bahwa rasul Paulus sendiri, yang jelas memiliki karunia menyembuhkan (Kis.19:11-12), namun demikian, dia sendiri mengalami penyakit yang disebutnya “duri dalam daging” (2Kor.12:7-9).

Sehubungan dengan ini, saya menyetujui apa yang pernah dituliskan oleh Pdt David Cho Yonggi dari Yudo Church Seoul Korea, sebuah Gereja yang sangat besar, atau barangkali terbesar di seluruh Korea. Dalam satu bulletin, beliau mengisahkan bahwa beliau pernah kecewa kepada Tuhan karena memerintahkan orang lumpuh untuk segera berjalan dan orang buta segera melihat. Namun hasilnya, tidak bisa. Mukjizat tidak ada. Melihat itu, dia merasa dipermalukan Tuhan. Kemudian, David Cho Yonggi mengisahkan: “Saya kembali ke hotel dengan sangat sedih dan juga bercampur perasaan marah. Dalam doa, saya berkata: ‘Tuhan, Engkau telah mempermalukan saya’.” Selanjutnya, dalam pergumulan itu, David Cho menjelaskan bahwa dia kemudian menyadari kesalahannya bahwa bukan Tuhan yang telah mempermalukan Davi Cho, tapi sebaliknya, David lah yang telah mempermalukan Tuhan. Mengapa? Menurut pengakuannya, dia salah dalam menggunakan karunia itu, di mana tidak selamanya karunia penyembuhan dapat dipraktekkan. Itu hanya terjadi jika BENAR-BENAR ALLAH MEMERINTAHKAN.

Lalu bagaimana dengan IBADAH PENYEMBUHAN yang kelihatannya mulai marak di Indonesia? (Di luar negeri, hal itu sudah biasa dilakukan, bahkan menurut seorang teman, mereka bosan dengan berbagai rekayasa, penipuan yang dilakukan oleh pengkhotbah-pengkhotbah tertentu). Lalu bagaimana dengan IBADAH PENYEMBUHAN YANG DILAKUKAN OLEH BENNY HINN?

Untuk menjawab pertanyaan ini, perkenankan saya untuk mengatakan pergumulan saya selama puluhan tahun. Pada tahun 1989, saya telah mendengar sebuah pernyataan yang cukup mengejutkan saya. Hal itu diberikan pada sebuah public lecture (kuliah umum) di chapel Trinity Theological College, Singapura. Pernyataan yang membuat saya bergumul tersebut keluar dari mulut seorang ahli Perjanjian Baru kenamaan di dunia. Beliau mengatakan begini: “Perhatikanlah dan simaklah baik-baik Alkitab anda. Bacalah khususnya Perjanjian Baru. Di sana TIDAK ADA PELAYANAN KESEMBUKAN. JESUS NEVER PERFORMS THE HEALING MINISTRY”. Wah, tentu saja saya kaget, juga tidak setuju dengan pernyataan itu; karena menurut saya, Tuhan Yesus pernah menyembuhkan orang-orang sakit (Contoh, Mark.1:34).

Namun seiring dengan berjalannya waktu, khususnya setelah saya mendalami Perjanjian Baru, maka saya semakin diyakinkan oleh pernyataan itu. Saya memang tidak pernah menemukan di seluruh Perjanjian Baru, satu kalipun, Tuhan Yesus mengadakan IBADAH PENYEMBUHAN. Demikian juga, hal itu tidak pernah dilakukan oleh rasul-rasul. Apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus? Dia datang ke berbagai desa dan kota untuk satu hal: UNTUK MEMBERITAKAN INJIL.

Menarik sekali mengamati hal ini, setelah ada orang-orang yang MEMBAWA orang sakit kepada Yesus (JADI BUKAN IBADAH PENYEMBUHAN) dan menyembuhkan mereka (Mark.1:34), kita dapat membaca penegasan YESUS berikut: “Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga AKU MEMBERITAKAN INJIL, karena UNTUK ITULAH AKU TELAH DATANG” (Mark.1:38). Mari kita perhatikan, kalimat di atas muncul ketika semakin banyak orang yang mencari Yesus, yang barangkali adalah karena ingin disembuhkan juga. “Semua orang mencari Engkau”, demikian kata rasul Petrus kepada Yesus, dan diresponi dengan kalimat di atas. Dengan perkataan lain, setelah kisah penyembuhan yang sukses pada Mark. 1:34 –yang nota bene bukan karena Yesus mengundang mereka untuk ibadah penyembuhan, tapi mereka sendiri yang datang- Penginjil Markus menegaskan FOKUS TUHAN YESUS: MEMBERITAKAN INJIL, BUKAN UNTUK MELANJUTKAN KISAH SUKSES PENYEMBUHAN ORANG SAKIT”.

Kembali kepada Benny Hinn, ketika saya membaca berita Benny Hinn datang ke Jakarta, dan pada acara talk show di Radio Pelita Kasih diberitakan tentang penyembuhan itu, maka saya memutuskan untuk datang. Sebagaimana kita tahu, iklan atau jingle berbagai media cetak dan elektronik sangat menekankan tentang penyembuhan. Saya ingin menyaksikan sendiri apa sebenarnya yang terjadi, siapa sebenarnya Benny Hinn, sejauh mana Benny Hinn setia memberitakan Injil Tuhan, sejauh mana penyembuhan dapat terjadi? Saya bersyukur dapat tiba di area ibadah tersebut, jauh sebelum Benny Hinn diberikan kesempatan untuk berkhotbah. Karena itu, saya dapat mendengar dan menyaksikannya dengan telinga dan mata saya sendiri.

Secara jujur saya mengatakan betapa sukacitanya hati saya memuji nama Tuhan, menyatu dengan ratusan ribu manusia di sekitar pantai Karnaval Ancol. Saya juga bersyukur dan menikmati suasana ketika Benny Hinn maju ke mimbar dengan menyanyikan lagu-lagu yang bersifat penyembahan. Saya juga sangat bersyukur ketika paduan suara menyanyikan lagu-lagu indah, dan bersama dengan seorang solist, temannya Benny Hinn (John Stott?) mereka menyanyikan: “Because He lives I can face tomorrow). Saya juga bersyukur ketika mendengar lagu “The Holy City” oleh solist tersebut. Lagu itu memang megah. Sementara menyanyikan refrennya, Jerusalem, Jerusalem... sepertinya sedikit mencicipi suasana Jerusalem yang baru, sorga yang akan datang.

Lalu, di mana masalahnya?

Bagi saya, di sinilah masalahnya. Setelah lebih dari satu jam mike diserahkan kepada Benny Hinn, beliau tidak kunjung memberitakan firman Tuhan. Sebaliknya, beliau seolah-olah mengulur ulur waktu untuk memanggil orang-orang tertentu maju ke mimbar untuk berbicara, termasuk gubernur Setyoso. Dalam hati saya bertanya: “Bukankah kesempatan malam itu adalah kesempatan emas untuk memberitakan kabar baik kepada lautan manusia tersebut?”

Menurut saya, tidak ada penggalian Firman Tuhan yang cukup berarti untuk dijadikan pegangan pada malam itu. Setelah lebih dari satu jam, beliau hanya mengutip ayat-ayat Firman Tuhan dari memorynya (dihafal), berpindah dari satu teks ke teks lain yang isinya semua bicara soal penyembuhan. Di tengah tengah kutipan teks tsb, dia mengucapkan kalimat-kalimat dengan yakin, yang menjanjikan penyembuhan. Tentu saja, saya segera melihat orang-orang sakit di sekitar saya. Hasilnya, tidak ada. Mereka tetap tergeletak, lemah dan tidak berdaya.

Kelihatannya, kritikan banyak orang di berbagai media, jurnal, situs, dll bahwa Benny Hinn tidak memiliki pengajaran yang benar, memang ada benarnya. Saya memang tidak/belum menuduh Benny Hinn sebagai bidat (sebuah sekte sesat). Tapi dari khotbahnya saya mengamati bahwa memang Benny Hinn tidak memiliki theologia yang baik. Hal itu terlihat dari ayat-ayat yang dikutip, comot sana comot sini, tanpa memberi penggalian yang memadai pada satu ayat pun. Yang menyedihkan lagi, ada satu pernyataannya yang jelas salah, yaitu ketika dia mengatakan bahwa PENGAMPUNAN DAN PENYEMBUHAN ADALAH BERKAT KEMBAR DARI INJIL. Allah tidak hanya mengampuni, tapi juga menyembuhkan. Jadi, perhatikan, Benny Hinn tidak cukup menegaskan janji pengampunan, tapi justru penekanannya pada penyembuhan. Dalam hati saya bertanya, apakah Benny Hinn tidak sanggup (cukup) mengkhotbahkan pengampunan Allah tanpa menyebut dan memberi pengharapan pada pendengarnya tentang penyembuhan? Dalam kenyataannya, dalam perjalanan pulang, saya mengamati barisan kereta dorong dengan orang-orang sakit yang kondisi parah. Saya menduga, orang-orang sakit itu bukan saja tidak sembuh, tapi akan semakin parah mengingat ibadah yang sedemikian lama, hingga sampai jam 23.00 malam dan diadakan di tempat terbuka di tepi pantai!

Bagaimana meresponi fakta ketidaksembuhan tersebut? Salah besar jika ada yang mengatakan bahwa itu terjadi karena mereka tidak beriman. Untuk apa mereka datang bersusah payah, jauh-jauh, berlomba dengan kerumunan massa ke lokasi tsb jika mereka tidak memiliki iman dan pengharapan untuk sembuh?

Barangkali banyak jawaban yang pro dan kontra dapat diberikan akan fakta ketidaksembuhan tersebut. Salah satu jawaban yang pasti adalah KARENA ALLAH MEMANG TIDAK BERKENAN MENYEMBUHKAN. Karena itu, ALLAH YANG BERDAULAT PENUH, TIDAK DAPAT DAN TIDAK BISA DIPAKSA ATAU DIBUJUK OLEH SIAPAPUN UNTUK MENYEMBUHKAN SESEORANG. Kita melihat di dalam Alkitab, semua kisah penyembuhan, terjadi SEPENUHNYA ATAS KEHENDAK DAN KEMAUAN ALLAH YANG BEBAS DAN SUCI.

Karena itu, Benny Hinn (juga David Cho Yonggi sebagaimana saya sebut di atas) tidak dapat memaksa dan membujuk Allah. Karena itu, sekalipun Benny Hinn berulang-ulang mengutip teks di mana Yesus menyembuhkan orang-orang, dan dilanjutkan oleh Benny Hinn dengan pernyataan, “Yesus juga akan menyembuhkanmu secara total, secara penuh, saat ini juga”, maka hal itu tidak membuat Allah/Yesus untuk tergerak, jika memang Dia tidak menghendaki hal itu terjadi.

Barangkali mereka yang membawa orang-orang sakit akan bertanya: “Jika demikian halnya, mengapa panitia mempropagandakan PENYEMBUHAN dan MEMBERIKAN PENGHARAPAN SEOLAH-OLAH MEREKA AKAN SEMBUH?” Jika demikian halnya, sama saja dengan ibadah biasa, yang rutin diikuti di Gereja-gereja, di mana Pendeta juga berdoa untuk banyak hal, termasuk untuk penyembuhan. Barangkali juga ada yang Tuhan jawab, sehingga mereka langsung sembuh di rumah atau di rumah sakit.

Memang di situlah kesalahan Benny Hinn dan panitia pelaksana. Sebagaimana saya sebutkan di atas, Tuhan Yesus tidak pernah melakukan IBADAH PENYEMBUHAN, rasul-rasul juga tidak. MENGAPA BENNY HINN MELAKUKANNYA?

Entahlah. Dia sendiri yang tahu jawabannya secara pasti.

Di sebuah milis ada yang menulis, “Jika tidak ada iklan atau propaganda seperti itu, apakah lautan manusia masih mau datang bersusah-susah ke pantai Karnaval, Ancol? Bukankah dengan cara yang demikian, Benny Hinn dan panitia telah berhasil mengumpulkan massa?”.

Saya kira, pernyataan di atas ada benarnya. Secara jujur saya harus mengakui bahwa dari segi marketing, panitia dan Benny Hinn telah meraih sukses besar. Tapi pergumulan saya yang hingga saat ini terus menggelisahkan hati saya adalah bagaimana dari segi KEMURNIAN INJIL? Bagaimana dari segi KESETIAAN MEMBERITAKAN INJIL YANG TERSALIB? Bagaimana dari segi PEMBINAAN UMAT? Apakah umat dididik untuk menghargai Firman Tuhan di atas segalanya? Untuk itu, kita semua dapat menjawabnya.

Saya ingin mengakhiri artikel ini dengan pergumulan rasul Paulus di zamannya. Ketika itu ada dua kelompok ekstrim, yaitu kelompok Yunani yang sangat menekankan filsafat dan hikmat manusia; di pihak lain adalah kelompok orang-orang Yahudi yang menuntut mukjizat. Dalam tekanan seperti itu, mari kita perhatian seruan rasul Paulus berikut:

‘Orang-orang Yahudi menghendaki TANDA (MUKJIZAT) dan orang-orang Yunani mencari hikmat (baca: the secret knowledge, ilmu pengetahuan yang bersifat rahasia), tetapi KAMI MEMBERITAKAN KRISTUS YANG DISALIBKAN” (1 Kor.1: 22-23).

Kiranya Dia, Allah yang kita puji dan sembah memberkati artikel ini dan menolong jemaat yang sedang bergumul (atau malah kecewa?) tentang IBADAH-IBADAH PENYEMBUHAN, termasuk yang dilakukan hari Jumat-Minggu yang lalu di Ancol.

Salam kasih,
Pdt. Mangapul Sagala