Monday, 11 December 2017

SEKILAS TENTANG INJIL YUDAS
Oleh:Pdt. Mangapul Sagala

"Injil Yudas? Injil apa lagi ini? Bikin heboh saja!" demikian keluh seorang anggota jemaat. Di pihak lain, seorang menulis: "Injil Yudas akan menggoncangkan Kekristenan masa kini, di mana mereka terlanjur percaya kepada Injil tradisional".

Bagaimana sesungguhnya? Benarkah Injil Yudas bikin heboh? Benarkah itu menggoncangkan kekristenan? Saya akan menjawab dengan sederhana: tergantung orangnya. Bagi orang tertentu, barangkali munculnya artikel dan buku-buku tentang Injil Yudas tersebut cukup menghebohkan dan menggoncangkan.

Bukankah hal yang sama juga telah terjadi dengan buku ngawur, yang penuh dengan spekulasi, namun terkenal, yaitu Da Vinci Code (DVC) itu? Kita dapat membaca dan mendengar bahwa sebagian orang telah tergoncang imannya setelah membaca buku DVC, yang ditulis oleh Dan Brown tsb. Tapi, banyak yang mengatakan: "Ah, tenang saja. Namanya saja fiksi. UUD: Ujung-Ujungnya Duit, bukan? Yang penting, kita tetap berpegang kepada apa yang telah diajarkan dan kita yakini selama ini".

Entah apa tujuannya, pada tahun ini PT Gramedia, Jakarta telah menerbitkan buku yang berjudul "The Gospel of Judas". Jika kita amati, maka versi bahasa Inggris juga terbit pada tahun yang sama. Jadi, sungguh merupakan sebuah prestasi tersendiri. Injil Yudas tersebut secara tidak sengaja ditemukan pertama kali di Mesir Tengah sekitar tahun 1978. Melalui sejarah yang panjang, gulungan yang disebut Kodeks Tchacos berbahasa Koptik (dengan dialek Sahidik, dialek di Mesir) tersebut beberapa kali berpindah tangan dan akhirnya gulungan itu dimiliki oleh sebuah Yayasan yang bernama: Maecenas Foundation. Jadi, setelah dua puluh delapan tahun kemudian, tahun 2006, baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.

Sebenarnya, gulungan atau Kodeks Tchacos yang terdiri dari 33 lembar (66 halaman) tersebut terdiri dari empat bagian yang berbeda, yaitu "Surat Petrus kepada Filipus" (halaman 1-9), "Jakobus" (10-32), "Injil Yudas" (33-58) dan kitab "Allogenes" (59-66). Namun demikian, gulungan tersebut menjadi 'terkenal' karena adanya Injil Yudas tersebut. Lalu mengapa Injil Yudas tersebut dikatakan dapat "menggoncangkan kekristenan?" Karena Injil tersebut mengandung banyak pengajaran yang berbeda dibandingkan dengan kitab-kitab Injil yang telah dimiliki sebelumnya (Mat-Yoh). Hal ini terutama berhubungan dengan makna kematian Yesus di kayu salib, serta siapa Yudas sesungguhnya. Dalam ruang yang terbatas ini, kita akan menyoroti beberapa hal saja. Pertama dan terutama adalah mengenai makna kematian Yesus. Injil Yudas mengajarkan bahwa kematian Yesus bukanlah untuk menebus manusia dari dosa-dosanya sebagaimana diajarkan oleh Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, khususnya keempat Injil (Mat-Yoh). (Bandingkan Yes.53:4-6; Mark 10:45). Kematian Yesus merupakan satu peristiwa yang melepaskan Yesus dari wujud jasmaniNya yang telah mengungkungNya selama ini. Selain itu, Yesus juga digambarkan sebagai pribadi yang suka tertawa dan mentertawakan murid-murid (Yudas 44 dan 54). Kedua, sehubungan dengan hal di atas, Yudas digambarkan sebagai pribadi yang istimewa, hebat, memiliki penglihatan yang luar biasa dan sangat dekat dengan Tuhan Yesus. Kedekatan Yudas kepada Yesus melebihi seluruh murid-murid lainnya. Itulah sebabnya, jika keempat Injil menggambarkan Yudas sebagai penghianat yang telah menyerahkan guruNya untuk disalibkan, tidak demikian dengan Injil Yudas. Sebaliknya, di dalam Injil Yudas Yesus bersabda: "Tetapi engkau akan lebih besar daripada mereka semua, karena engkau akan mengorbankan wujud manusia yang meragai diriku" (Yudas 55-56). Ketiga, jika kita mengamati pengajaran dan theologi yang terkandung di dalam Injil Yudas, maka kita akan menemukan pengajaran berbau gnostik, di mana pengetahuan (secret knowledge) serta hikmat (sofia) sangat ditonjolkan (Yudas 44).

Lalu bagaimana kita menyikapi munculnya kitab yang disebut sebagai Injil Yudas tersebut? Kita tidak perlu bingung dan gelisah seolah-olah satu kebenaran baru telah tersingkap yang akan segera meruntuhkan apa yang telah diimani selama ini. Sebaliknya, kita harus terus bertumbuh dalam iman dan dalam pengajaran yang benar. Dengan demikian, kita dapat dengan tegas melawan segala pengajaran sesat yang bertentangan dengan apa yang telah diajarkan dalam Alkitab, yang adalah KANON, atau STANDARD kebenaran. Hal yang sama telah dilakukan oleh bapak-bapak Gereja, seperti uskup Irenaeus dari Lyon ketika dia menulis bukunya yang berjudul "Against Heresies" (Melawan Bidat2/Ajaran2 Sesat) yang ditulis sekitar tahun 180. Sebenarnya, selain keempat Injil (Matius-Yohanes), pada abad kedua dan sesudahnya, beredar juga Injil lain yang berbau gnostik. Kitab-kitab itulah yang dilawan oleh Irenaeus; termasuk di antaranya adalah Injil Yudas, Injil Kebenaran, Injil Philip, dll. Barangkali ada yang bertanya, jika Injil Yudas yang berbau gnostik tersebut baru ditulis pada abad kedua, bagaimanakah Injil tersebut ditulis oleh Yudas yang telah meninggal pada abad pertama?

Apakah Yudas yang dimaksud dalam Kodeks Tchacos tersebut di atas sebenarnya bukan Yudas, murid Yesus yang telah menghianatiNya? Atau apakah ada orang yang memalsukan nama Yudas tersebut? Kemungkinan itu bisa terjadi, di mana dalam kitab-kitab bidat (ajaran sesat) dan sejenisnya, pemalsuan nama atau penggunaan nama samaran merupakan hal yang sering terjadi sebagaimana ditemukan dalam Injil Apokrif dan Kitab-kitab Pseudepigrapha.

Akhir kata, kenyataan tersebut di atas menunjukkan kepada kita bahwa berbagai penyesatan yang terjadi belakangan ini bukanlah hal baru. Hal yang sama telah terjadi jauh sebelumnya, yaitu pada era Gereja mula-mula. Dengan demikian, kita harus semakin sungguh-sungguh memperhatikan seruan dan peringatan Yesus: "Waspadalah supaya jangan ada orang yang menyesatkan kamu!" (Mark.13:5). Ya, kita harus tetap waspada dan tetap berpegang teguh kepada kebenaran (2Tim.3:14).-