Monday, 11 December 2017

Hotel Toledo, Tuk-Tuk, Pulau Samosir, 1-5 Sept. 05

Sharing Your Faith in the Pluralist Society
(Oleh: Pdt. Mangapul Sagala)

I. Indonesia sebagai Pluralist Society

Apa yang dimaksud dengan Pluralist Society?

Plural berarti jamak, lawan dari singular, tunggal. Asal-usul kata “plural” secara harafiah dapat ditelusuri dalam bahasa Latin: plus, pluris yang berarti "lebih", lebih dari satu. Society berarti masyarakat. Jadi kedua kata tersebut di atas mengacu kepada kondisi masyarakat yang jamak atau majemuk.

Indonesia memang merupakan sebuah negara yang terdiri dari masyarakat majemuk. Istilah yang biasa kita kenal adalah “SARA”, di mana masyarakat kita terdiri dari berbagai macam Suku, Agama, Ras, Adat kebudayaan atau Antar golongan. Dari segi sosiologis, masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat dengan kelompok-kelompok sosial yang berbeda. Hal itu dipengaruhi oleh berbagai hal. Selain dipengaruhi oleh unsur “SARA” tersebut, juga dipengaruhi oleh hal lain, seperti latar belakang pendidikan, di mana di Indonesia kita menemukan perbedaan tingkat pendidikan yang sangat menyolok. Sebagai contoh, sebagian besar penduduk hanya mencapai tingkat pendidikan SD dan SMP, tetapi kita juga menemukan yang mencapai tingkat sarjana, master, bahkan doktor. Kita dapat membayangkan pola pikir yang sangat berbeda dari kelompok-kelompok tersebut. Hal lainnya yang mempengaruhi adalah soal tempat tinggal atau lingkungan. Indonesia yang sedemikian luas, terbentang dari Barat sampai ke Timur terdiri dari puluhan ribu pulau menghasilkan masyarakat yang berbeda pula. Kita dapat membandingkan pola hidup masyarakat di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dengan perubahan lingkungan yang sedemikian cepat, dengan mereka yang tinggal di pedalaman seperti perkampungan di Samosir, atau pedalaman Kalimantan, Papua dengan lingkungan yang relatif tidak berubah.

Sekalipun dari sisi sosiologis, kita telah melihat adanya perbedaan yang berarti dari masyarakat kita, namun dalam makalah ini, kita akan membatasi diri dari pendekatan teologis. Dari segi teologis, Indonesia juga majemuk di mana pemerintah secara resmi mengakui lebih dari satu agama atau kepercayaan: Islam, Kristen (Protestan dan Katolik), Hindu dan Buddha di mana masing-masing agama atau kepercayaan memiliki iman dan keyakinanannya sendiri. Hal-hal seperti ini juga menciptakan kemajemukan tersebut. Mari juga kita perhatikan kenyataan penting ini: sebenarnya, perbedaan bukan hanya terdapat pada antar agama, misalnya antar umat Kristen dengan Islam, tetapi juga pada umat di dalam agama itu sendiri. Sebagaimana ketua PGI, Andreas A Yewangoe, menulis:

Di dalam kehidupan beragama, kita pun menyadari betapa tingginya pluralitas itu. Bahkan juga di dalam agama yang sama, tidak bisa dinafikan kenyataan bahwa memang pluralitas itu ada. Ini adalah wajar belaka, sebab bagaimanapun orang berusaha menghayati relasinya dengan Allah dan merenungkan nasibnya sebagai manusia dengan bertolak dari suatu titik-tolak yang subjektif. (Harian Suara Pembaharuan, 4.8.’05)

Peristiwa yang terjadi di negara kita merupakan satu bukti nyata, gamblang dan sangat kongkrit. Kita dapat membaca, mendengar, menyaksikan, atau mengalami bagaimana sekelompok umat dari agama lain membakar gereja dan tempat-tempat ibadah. Tetapi baru-baru ini kita juga membaca melalui media massa bagaimana sesama umat Islam melakukan penyerangan. Di sana dilaporkan bahwa sekelompok umat Islam menyerang kelompok lainnya (Ahmadyah) dan menghancurkan tempat- tempat ibadah mereka. Hal itu juga terjadi karena perbedaan pemahaman dan keyakinan. Apa yang dapat kita pelajari dari contoh kongkrit tersebut? Jika perbedaan bisa terjadi dalam masyarakat atau kelompok yang memiliki agama yang sama, serta menimbulkan tindakan yang sedemikian negatif yang bahkan membahayakan nyawa, maka terlebih lagi antara masyarakat dengan agama yang berbeda. Sudah tentu dari sejak awal kita perlu menegaskan bahwa hal negatif seperti di atas tidak boleh dan tidak akan pernah kita lakukan. Juga kita harus berjuang agar kelompok di mana kita berada menjauhkan hal-hal negatif seperti itu. Lalu bagaimana kita menyikapi perbedaan itu? Apakah perlu kita membagikan iman kita kepada kelompok lain yang berbeda? Jika perlu, apakah hal itu merupakan keharusan? Jika harus, bagaimana caranya agar mencapai sasaran dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan? Hal-hal itulah yang mau kita diskusikan dalam kapita selekta ini

II. Masyarakat majemuk, menguntungkan atau merugikan?

1. Merugikan.

Sebagian orang menganggap kemajemukan sebagai sesuatu yang merugikan, karena itu harus dilawan, diperangi dan ditiadakan.

Mengapa terjadi demikian? Mari kita lihat beberapa hal berikut:

a. Sikap memutlakkan diri sebagai satu-satunya kelompok yang benar, kelompok lain salah. Bukan saja demikian, kelompok ini memahami bahwa mereka bukan saja kelompok yang benar, tetapi juga telah memahami SEMUA kebenaran itu.

b. Pemahaman bahwa Allah menghendaki keseragaman dan menentang kemajemukan.

c. Adanya ketakutan bahwa pemahaman kelompok lain dapat mempengaruhi dan menyeret kelompok atau umatnya ke dalam kelompok tersebut.

d. Adanya persaingan, baik itu disadari atau tidak, di mana kelompok ini tidak rela melihat kelompok lain lebih maju dan menonjol dari kelompoknya.

e. ...

2. Menguntungkan.

Sebagian lain menganggap kemajemukan sebagai sesuatu yang menguntungkan. Karena itu tidak perlu dilawan dan diperangi.

Mengapa ada kelompok yang berpikir dan bersikap demikian? Mari kita lihat beberapa hal berikut:

a. Eksistensi dari kelompok lain dilihat sebagai sesuatu yang telah ada dari “sana” . Karena itu, menurut pandangan ini, “It’s a given, we cannot deny it”. Jadi, kemajemukan dilihat sebagai sesuatu fakta realita. Sebagai akibatnya, kehadiran setiap kelompok dalam masyarakat tidak perlu meminta persetujuan dari kelompok mana pun yang berbeda dari kelompok tertentu .

b. Sikap yang perlu dikembangkan adalah pengakuan dan toleransi. Toleransi berarti melihat dan mengakui perbedaan yang ada antar agama/kelompok, serta menerimanya apa adanya tanpa berusaha mengubah keyakinan sendiri.

c. Sikap toleransi tidak sama dan harus dibedakan dari sikap kompromi. Sikap kompromi tidak hanya mengakui dan menerima kelompok lain apa adanya (bandingkan dengan toleransi), tetapi juga membiarkan kelompok itu mempengaruhi dan mengubah keyakinannya. Di sini terjadi sikap ‘menjual’ keyakinan demi ‘persatuan’ dan ‘perdamaian’.

d. Kita juga perlu membedakan pemahaman atau keyakinan agama yang pluralist (religious pluralism) dengan pluralisme kebudayaan (cultural pluralism). Leslie Newbegin dalam bukunya The Gospel in a Pluralist Society menulis: “Pluralism is conceived to be a proper characteristic of the secular society, a society in which there is no officially approved pattern of belief or counduct” (Grand Rapids:Eerdmans,1989, hal.1,14). Selanjutnya dia menulis: “It is therefore also conceived to be a free society, a society not controlled by accepted dogma but characterized rather by the critical spirit which is ready to subject all dogmas to critical (and even sceptical) examintation”. Bagaimana sikap kita terhadap pluralisme kebudayaan? Pluralisme dalam arti pemahaman?

e. Kemajemukan dapat dijadikan sebagai sesuatu yang menguntungkan: menguji pehaman pada iman yang dianut, memperkaya pemahaman dan keyakinan, dstnya.

f. ...

III.Apakah kita perlu membagikan Iman kita kepada orang lain?

Secara jujur saya mau mengatakan bahwa tema ini diresponi secara berbeda oleh tiap orang, tergantung pemahaman dan keyakinannya. Di dalam Kristen sendiri kita menemukan empat aliran besar. Kita akan mendiskusikan pandangan tsb secara lebih detail.

Pertama, Pluralisme.

Pemahaman seperti ini dapat terjadi dari luar agama itu sendiri, atau juga dari dalam agama itu sendiri. Pandangan ini menolak ajaran bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Menurut pandangan ini, ada banyak jalan menuju keselamatan, dan Yesus hanya salah satu jalan di antara jalan tsb. John Hick seorang pluralist menulis: “There is a direct line of logical entailment from the premise that Jesus was God, in the sense that he was God the Son, the second person of the divine Trinity, living in a human life, to the conclusion that Christianity, and Christianity alone, was founded by God in person; and from this to the further conclusion that God must want all his human children to be related to him through his religion which he has himself founded for us; and then to the final conclusion, that “Outside Christianity, there is no salvation”.[1] Ajaran Alkitab yang mengacu kepada keAllahan Yesus digugatnya, juga ajaran inkarnasi, Yesus adalah Allah yang menjadi manusia (Yoh.1:14), serta istilah Anak Allah. Hick menulis: “Incarnation is a metaphor, as in “Abraham Lincoln ircarnated the spirit of American independence...And in this metaphorical sense we can say that insofar as any human being does God’s will, God is “incarnate”, embodied, in a human action”.[2] Selanjutnya, tentang istilah “Anak Allah”, dia menegaskan bahwa istilah tsb sering diberikan kepada manusia biasa pada dunia purba. Menurut Hick, ketika itu konsep dan bahasa yang digunakan untuk hal yang bersifat ilahi (divinity) seringkali tidak jelas. Karena itu, para kaisar, para Firaun, dan filsuf2 besar serta pemimpin2 agama juga kadang2 disebut “anak Allah” dan dianggap sebagai yang ilahi.[3] Jika demikian halnya, maka kita dapat memahami bahwa iman tersebut tidak perlu dan tidak harus dibagikan. Boleh saja iman tersebut dibagikan tetapi bukan dalam arti mengubah kepercayaan orang lain, melainkan untuk memperkaya. Itulah sebabnya, menurut pemahaman ini, yang diperlukan bukanlah melakukan pekabaran Injil (satu arah), tapi dialog, dua arah. Pemahaman seperti ini kelihatannya semakin muncul di Indonesia dan gaungnya semakin keras kedengaran.

Kedua, Inklusivisme

Pandangan ini mengakui bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Pinnock, dalam artikelnya yang menjelaskan posisi Inklusivisme dalam hubungannya dengan Tuhan Yesus, menulis: “We acknowledge no other name than this to have universal significance and to offer life and hope to all nations. We kno no other Savior; Jesus is the source and ground of salvation”.[4] Karena itu, bagi Pinnock, jika ada orang dari agama lain diselamatkan –sebagaimana terjadi di dalam Perjanjian Lama- itu tetap karena jasa Kristus. Keselamatan tsb terjadi karena pengorbananNya di atas kayu salib. Pinnock tidak percaya bahwa agama lain menawarkan keselamatan sebagaimana ditemukan di dalam Kristen. Namun demikian, menurut pandangan ini, keselamatan yang ditawarkan Allah sedemikian luas dan besar, karena itu, banyak orang yang tidak secara eksplisit percaya kepada Yesus juga include (termasuk) menerima keselamatan. Clarck H. Pinnock, salah satu tokoh dari kelompok ini menulis sbb: “Inclusivism believes that because God is present in the whole world (premise), God’s grace is also at work in some way among all people, possibly even in the sphere of religious life (inference). It entertains the possibility that religion may play a role in the salvation of the human race, a role prepatory to the gospel of Christ, in whom alone fullness of salvation is found”.[5]

Bagaimana kelompok Inklusif tsb di atas melihat agama lain dalam hubungannya dengan kekristenan? Baiklah kita baca pandangan Clark H. Pinnock, tokoh kelompok ini. Dia menulis: “Inclusivism agrees about the uniqueness of the Christian message but does not refuse to see prevenient grace operating in the sphere of human religion. It is a both/and, not an either/or proposition. There can be similarities and differences”.[6] Kelihatannya, pandangan tsb sejalan dengan pandangan C.S. Lewis yang menulis: “There are people in other religions who are being led by God’s secret influence to concentrate on those parts of their religion which are in agreement with Christianity, and who thus belong to Christ without knowing it”.[7] Jadi, jikalau Karl Rahner sangat positif terhadap agama lain dan mengganggapnya memiliki “a salvific status”, Pinnock tidak berpendapat demikian. Pinnock mengakui adanya sisi kegelapan serta perbudakan atas dosa di dalam agama lain. Karena itu, Pinnock menegaskan: “cautious inclusivism stops short of stating that the religions themselves as such are vehicles of salvation”.[8] Apakah kelompok seperti ini tidak memotong ‘urat nadi’ penginjilan? Pinnock menjawab dengan tegas: tidak! Pinnock menganjurkan agar motivasi penginjilan dilakukan untuk mengobarkan api jaminan keselamatan dalam diri orang itu. Pinnock menulis:

If would be conceptualized more broadly, in terms of proclaiming the good news of the kingdom of God, spreading the news about Jesus, and summoning people into the historically new pople of God. Everyone needs to hear about this, whether they have responded to premessianic light or not. God is presently drawing the nations toward his kingdom, and participating in mission joins in that process. The Christian mission calls people to the fullness of salvation in the fellowship of the body of Christ until it reaches maturity”.[9]

Selanjutnya, mari kita simak pernyataan Pinnock berikut: “Inclusivism does not reduce the motivation for missions but understands it in a larger framework wnd in terms of more factor”.[10] Kemudian Pinnock melanjutkan: “Inclusivism can improve our motivation and enhance our hope as we go forth to testify to Christ, since we are entitled to believe that God has gone before us, preparing the way for the gosple... To the one who has already reached out by God in the premessianic situation, we call them to come higher up and deeper in, to know God better and love God more”.[11] Membaca pemahaman seperti ini, mungkin ada yang bertanya: “Tapi bagaimana jika orang tsb sudah diinjili tapi karena satu dan lain hal tetap dalam agamanya?” Menarik sekali jawaban Pinnock. “My instinct is to leave this matter with the grace of God, who knows the factors that go into such a decision and makes valid judgments”.[12] Kelihatannya, pandangan seperti ini juga makin mempengaruhi orang-orang Kristen di Indonesia.

Ketiga, Eksklusivisme

Setelah kita melihat kedua pandangan tsb di atas, yaitu Pluralisme dan Inklusivisme, maka kini tiba saatnya melihat pandangan yang ketiga, yaitu apa yang disebut dengan Eksklusivisme.

Perlu diperhatikan bahwa kelompok Eksklusivisme atau disebut juga dengan Particularisme, masih bisa dibagi dua kelompok, yaitu: “Terbatas” dan “Tidak Terbatas (“restrictive and a nonrestrictive kind”).

1. Kelompok restrictive particularist

Kelompok ini melihat keharusan pengakuan iman secara pribadi kepada Yesus. Karena itu, setiap orang harus percaya dan menerima Yesus secara eksplisit agar orang tsb diselamatkan. Jadi, kita melihat dua hal penting di sini. Pertama pengakuan bahwa Yesuslah satu-satunya jalan keselamatan. Kedua, adalah perlunya pengakuan secara eksplisit, yaitu percaya dan menerima Yesus dalam hatinya. Ini berarti menyangkali kemungkinan seseorang dapat diselamatkan tanpa pengakuan secara sadar dan eksplisit kepada Yesus satu-satunya Juruselamatnya.

2. Kelompok yg nonrestrictive particularist

Kelompok ini juga melihat pentingnya pengakuan pribadi yang secara eksplisit diberikan kepada Tuhan Yesus. Namun demikian, kelompok ini tidak membatasi (nonrestrictive) bahwa keselamatan hanya terjadi karena pemberitaan Injil. Mereka melihat kemungkinan adanya keselamatan di luar pemberitaan Injil, di mana hal itu tergantung kepada rahmat dan kasih setia Allah. Sebagai contoh, Alister. E. McGrath seorang dari kelompok partikularist menulis, “We are assured that those who respond in faith to the explicit preaching of the Gospel will be saved”. Setelah menegaskan keyakinannya tsb, kemudian McGrath menegaskan: “We cannot draw the conclusion from this, however, that only those who thus respond will be saved. God’s revelation is not limited to the explicit human preaching of the good news, but extends beyond it”. Karena itu, dia menantang orang2 kelompok Eksklusif Terbatas untuk bersedia mengalami kejutan2, yaitu ketika kelak dalam kerajaan surga ada orang yg dianggapnya tidak selamat ternyata juga turut di sana. McGrath menulis: “We must be prepared to be surprised at those whom we will meet in the kingdom of God. In his preaching of the good news of the kingdom, Jesus lists some who will be among its beneficiaries –the Ninevites, the queen of Sheba, and those who lived in the cities of Tyre, Sidon, Sodom, and Gomorrah (Mat.10:15; 11:22; 12:41-42)”.[13]

Keempat, Evaluasi

Setelah melihat pandangan Pluralisme tersebut di atas, baik juga kita melihat bagaimana Denise dan John Carmody mempertanyakan kesungguhan kaum pluralist dalam ajaran keAllahan Yesus. Dalam responnya terhadap pandangan Knitter yang berjudul Do Knitter’s Theses Take Christ’s Divinity Seriously, kita dapat membaca tantangan mereka sbb:

“If one holds, with traditional Christians creeds, that in Jesus the eternal Word of God took flesh, in such wise Jesus was the incarnation of ‘God from God, light from light’, then one will probably think that no salvation occurs apart from Jesus –outside the single, comprehensive, ontological order centered in the Incarnate Word. Then the soteriological functions of other saviors –figures such as Buddha and Muhammad, who mediate the historical process of healing and sanctification manifest in their people- occur in an ontological Christian order of salvation. We see no alternative, unless one is going to scrap either traditional Christian faith in the full divinity of Jesus the Christ or traditional Christian monotheism”.[14]

Saya setuju dengan kutipan tersebut, di mana dalam pandangan Pluralisme banyak ajaran-ajaran penting dalam Kekristenan yang telah diterima secara turun temurun (bandingkan dengan pengakuan iman, credo, Gereja mula-mula), seperti pengakuan bahwa Yesus adalah Allah, yang setara dengan YHWH, satu demi satu digugat dan ditinggalkan. Itulah sebabnya, penganjur atau teolog-teolog dari kelompok ini semakin berani menyuarakan penolakan mereka kepada keunikan Yesus, yang secara otomatis juga meninggalkan keunikan kekristenan.

Lalu bagaimana dengan Inklusivisme? Setelah melihat pandangan tersebut di atas yang kelihatannya memiliki dasar Alkitab yang cukup meyakinkan, ‘wajarlah’ jika cukup banyak orang yang menganut pandangan tersebut. Penulis sendiri cukup lama bergumul dengan pandangan tersebut. Namun demikian, saya sungguh mengalami kesulitan memahami pernyataan di atas, khususnya jika dibandingkan dengan penegasan Yesus pada Yoh.14:6: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku”. Dari ayat tersebut dapat kita simpulkan pernyataan Tuhan Yesus yang sangat jelas dan tegas, baik dari segi positif, maupun negatif. Dari segi positif, Yesus menegaskan bahwa Dialah satu-satunya jalan kepada keselamatan. Kata “jalan” dalam bahasa Yunani menggunakan kata sandang (artikel) “he hodos”, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan dengan “the way”. Sedangkan dari segi negatif, Dia menyatakan bahwa tidak ada seorangpun yang datang kepada Allah (YHWH) tanpa melalui Dia. Penegasan tersebut dapat semakin jelas dilihat dari bahasa Yunani “ego eimi he hodos”. Kata “ego eimi” sangat menonjol dalam Injil Yohanes (baca khususnya Yoh.8:58). Kita perlu memperhatikan dengan sungguh-sungguh penggunaan istilah tersebut, di mana ketika nabi Musa bertanya kepada Allah tentang siapa namaNya, maka Allah menggunakan istilah yang sama (Kel.3:14). Dengan demikian, ketika Yohanes menggunakan istilah ini untuk Yesus, hal itu menegaskan bahwa Yesus setara dengan YHWH.[15]

Saya menyetujui bahwa Allah mengasihi semua orang dan Dia memiliki kedaulatan penuh untuk menyelamatkan siapa saja yang dikehendakiNya. Namun demikian, hal itu tidak dapat dilepaskan dari sikap percaya dan menerimaNya. Dengan perkataan lain, keselamatan tidak terjadi secara otomatis. Hal itu sangat jelas ditegaskan oleh Yohanes, bahkan sejak permulaan Injilnya. Dalam pendahuluan Injil, Yohanes menulis: “... tetapi setiap orang yang menerimaNya” (Yoh.1:12) dan “Karena Allah begitu mengasihi isi dunia ini... supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa...” (Yoh.3:16). Selanjutnya, saya juga menyetujui kemungkinan bahwa Allah dapat bekerja di dalam agama lain. Namun demikian, perlu kita camkan bahwa adanya kemungkinan masih tetap merupakan kemungkinan, bukan kepastian. Dengan perkataan lain, apa yang kita anggap sebagai “kemungkinan” tidak menjamin bahwa orang-orang tersebut dalam kenyataannya akan menerima kebenaran dan keselamatan dari Allah. Hal ini dapat kita baca dalam penegasan Rasul Paulus, di mana dia sendiri menegaskan bahwa ada orang yang menggantikan kebenaran dengan kebohongan (Ro.1:25; baca juga 1Kor.8:4-7; 1Yoh.5:19-21). Bicara soal kesungguhan beragama, rasul Paulus juga menyaksikan bahwa orang-orang Yahudi sebenarnya sungguh-sungguh giat untuk Allah. Dalam bahasa Yunani ditulis: zelon Theou ekhousin. Tapi sikap “sungguh-sungguh” saja tidak cukup, karena kemudian rasul Paulus menyatakan inti masalah yang dihadapi oleh orang-orang Yahudi tersebut. “... Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar” (Ro.10:2). Giat, tapi tanpa pengertian yang benar. Apa yang terjadi selanjutnya? Sungguh menyedihkan! Rasul Paulus menulis adanya mata rantai yang membuat orang-orang Yahudi semakin buruk keadaannya. Hal itulah yang kita lihat dalam pernyataan rasul Paulus berikut: “Sebab oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah” (Ro.10:3). Apakah rasul Paulus diam saja dan membiarkan orang-orang seperti itu ‘mengalami’ keselamatan dengan dalih bahwa Allah memiliki cara tersendiri kepada mereka? Tidak! Dia menyerukan: “... keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah supaya mereka diselamatkan” (Ro.10:1). Dalam konteks seperti itulah rasul Paulus menegaskan satu pernyataannya yang sangat terkenal itu: “Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia (Yesus) dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan” (Ro.10:9-10). Lalu, bagaimanakah contoh orang-orang Yahudi yang sangat giat tersebut di atas menolong kita melihat orang-orang beragama di zaman kita, yang juga barangkali memiliki kesungguhan dan fanatisme yang sama? Mari kita perhatikan kenyataan ini: sebenarnya, dari segi aktivitas kegiatan dan tuntutan beragama, secara kwantitas tidak ada agama di dunia yang lebih fanatik dari Judaisme, agama orang Yahudi. Meski demikian, sebagaimana kita lihat di atas, rasul Paulus tetap rindu melihat keselamatan mereka, mendoakan dan berusaha memenangkannya.

Selanjutnya, Alister McGrath, yang mengakui bahwa Allah dapat bekerja di dalam agama-agama lain menegaskan: “In all these contexts, God is seeking to make himself known. It is, however, only through the coming of Christ that God makes himself known fully, and it is only in Christ that salvation is fully available”.[16] Dalam membicarakan keselamatan, McGrath tidak hanya melihat pentingnya pribadi Yesus Kristus, tetapi juga pentingnya Alkitab, yaitu sebagai pegangan untuk menilai segala sesuatu. Jadi Alkitab dinilai sebagai sumber otoritas, dan sumber otoritas satu-satunya. Sebenarnya itulah yang dimaksud dengan Alkitab sebagai kanon. Kanon artinya pengukur, standard. Itu juga yang dimaksud oleh tokoh-tokoh reformasi dengan sola scriptura. McGrath khususnya mengkaitkan sikap tersebut dengan pengakuan kaum Pluralists dan Inklusivists tentang kebenaran yang didapati di dalam agama-agama lain. Menarik sekali menyimak penegasan McGrath yang mengatakan bahwa ketika kita mengevaluasi agama-agama lain, kita harus menjamin bahwa kita tidak memasukkan seperangkat kriteria yang berasal dari luar Alkitab dan membiarkannnya menjadi kebenaran yang penting dan bersifat normatif.[17]

Setelah mengamati pengajaran dari Pluralisme dan Inklusivisme, maka Ronald H. Nash terus menerus menyerukan bahwa pluralisme dan inklusivisme adalah ancaman bagi kekristenan. Mengapa? Karena menurut Nash, jika tidak waspada, kedua pandangan tsb secara dramatis akan mengganti inti iman Kristen.[18] Nash menegaskan: “Pluralism is one of the three or four most serious threats to the integrity of the Christian faith at the end of the twentieth century.[19] Ketika seseorang menganut pandangan pluralisme maka segera orang tsb akan meninggalkan berbagai ajaran penting dan mendasar kekristenan, seperti: Tritunggal, keAllahan Yesus, Inkarnasi, dan doktrin penebusan

Bagaimana dengan pandangan Eksklusivisme? Kelihatannya, ajaran tersebut cukup meyakinkan. Karena itu, banyak orang, khususnya dari kaum konservaatif yang menganut pandangan yang demikian. Namun demikian, ada juga theolog lain yang menolak pandangan tersebut secara tegas. Sebaliknya mereka menganut dan mengajarkan pandangan pluralisme dan inklusivisme, dan menegaskan bahwa itulah sebenarnya pandangan yang benar, yang didasarkan kasih, di mana orang-orang lain di luar iman kepada Kristus dimasukkan ke dalam kerajaan surga. Mengapa pandangan eksklusivisme ditolak? Ada banyak faktor.

Pertama dan terutama adalah adanya kelompok yang tidak menerima pengajaran Alkitab sebagai satu-satunya sumber otoritas,[20] atau apa yang disebut oleh tokoh-tokoh reformasi sebagi Sola Scriptura, atau menolak konsep Alkitab sebagai kanon, standard pengukur untuk doktrin dan moral. Karena itu, mereka akan mengejek kelompok eksklusif (khususnya yang “Terbatas”) dengan istilah “bibliolater” atau penyembah-penyembah Alkitab. Padahal, menurut mereka, Allah lebih tinggi dari pada Alkitab, maka tidak seharusnya Alkitab diperlakukan demikian. Maka tidak heran jika orang-orang seperti John Hick, James Barr, Knitter, dll, menolak pengajaran eksklusivisme tersebut serta penegasan-penegasan Alkitab lainnya yang mereka anggap bertentangan dengan rasio dan filsafat mereka. Lalu bagaimana? Untuk itu kita perlu melihat penegasan Yesus berikut: “... harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur” (Luk.24:44). Hal itu dinyatakan oleh Yesus untuk menjelaskan penderitaan dan kematianNya, di mana Dia dengan taat menjalaninya demi menggenapkannya. Jadi dari pernyataan Yesus tersebut, sepertinya Yesus juga termasuk ‘bibliolater’. Orang-orang tertentu dapat menuduhNya sebagai fundamentalis dan terlalu berpegang kepada kitab Musa dan Mazmur. Padahal, menurut kelompok tertentu, Musa dan Daud juga manusia biasa. Karena itu, tullisan-tulisan mereka juga tidak luput dari kesalahan-kesalahan. Karena itu, menarik sekali memperhatikan komentar Prof. Donald Bloesch terhadap sikap Yesus tersebut di atas, khususnya dalam kaitannya dengan Alkitab (Perjanjian Lama). Bloesch menegaskan: “The absolute authority of faith, the living Christ Himself, has so bound Himself to the Sacred Scripture”.[21]

Kedua, kelompok tertentu menolak satu ajaran yang jelas berdasarkan Alkitab, karena menurut mereka, hal itu disebabkan oleh kesalahan metode membaca Alkitab. Karena itu, kelompok tersebut mengatakan bahwa Alkitab sebenarnya tidak boleh dilihat sebagai buku yang menyatakan konsep-konsep kebenaran. Allah itu tidak terbatas, karena itu gereja tidak akan mungkin membatasi Allah ke dalam bahasa tulisan. Alkitab harus dilihat sebagai respon manusia di zamannya terhadap pergumulan mereka dengan Sang Pencipta. Sedangkan kita sendiri di zaman kita ini memiliki pergumulan sendiri. Untuk itu, saya menegaskan persetujuan saya bahwa Allah memang tidak terbatas. Namun, sebagaimana penegasan Bloesch tersebut di atas –bahwa Yesus menundukkan diriNya kepada Kitab Suci- Allah yang tidak terbatas itu telah berkenan mewahyukan diri dan kebenaranNya melalui media tertulis yang terbatas tersebut. Sebagai klimaksnya, Allah menyatakan diri melalui Yesus. Hal itulah yang dinyatakan oleh penulis kitab Ibrani:

“Setelah pada zaman dahulu Allah berulang kali dan dalam pelbagai cara berbicara kepada nenek moyang kita dengan perantaraan nabi-nabi, maka pada zaman akhir ini Ia telah berbicara kepada kita dengan perantaraan AnakNya...” (Ibr.1:1-2).

Ketiga, alasan yang membuat orang sulit menerima pandangan eksklusivisme adalah kenyataan bahwa kita hidup dalam masyarakat majemuk (pluralist) dengan berbagai macam agama dan kepercayaan. Hal itulah yang secara jelas kita lihat dalam pengalaman John Hick, penganjur kuat pluralisme tersebut di atas. Sehubungan dengan itu, yang menjadi pertanyaan penting bagi kita adalah apakah karena kita tinggal di masyarakat majemuk, lantas kita harus menyesuaikan atau merubah berita Injil tersebut dengan kondisi sekitar? Untuk menjawab hal tersebut, Alister E. McGrath memberikan pandangan yang menarik. Menurut McGrath, sebenarnya Injil itu sendiri muncul dalam matrix Judaisme dan berkembang dalam di era Hellenist.[22] Menarik juga untuk memperhatikan penegasan Michael Green yang juga menyoroti soal konteks kemajemukan tersebut. Dia menulis:

“I find it ironic that people object to the proclamation of the Christian gospel these days because so many other faiths jostle on the doorstep of our global village. What’s new? The variety of faiths in antiquity was even greater tha it is today. And the early Christians, making as they did ultimate claims for Jesus, met the problem of other faiths head-on from the very outset. Their approach was interesting... They did not denounce other faiths. They simply proclaimed Jesus with all the power and persuasiveness their disposal”.[23]

Jadi, masalah kemajemukan itu sebenarnya bukanlah hal baru bagi Injil itu sendiri. Namun demikian hal yang penting yang perlu kita amat secara saksama dan jujur adalah, apakah dengan demikian maka penulis2 Alkitab mengubah berita mereka dan dengan demikian menghilangkan unsur eksklusivisme Injil dan Yesus Kristus? Kenyataannya tidaklah demikian. Sebaliknya, dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kita melihat dengan jelas berita-berita yang bersifat eksklusivisme tersebut. Kita melihat bahwa Yesus sendiri, yang hidup di masa pluralisme agama seperti itu, tidak membiarkan orang lain seolah-olah itu cukup menuntun mereka kepada keselamatan. Sebaliknya, Yesus menegaskan: “... jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan binasa dalam dosamu” (Yoh.8:24. Perhatikan penegasan Yesus yang sangat eksplisit dalam ayat itu, juga banyak ayat di dalam Injil Yohanes).

IV. Mengenali dasar-dasar ajaran yang penting dan mendasar dari iman Kristen

Jika kita telah menyetujui bahwa iman tersebut perlu dan harus dibagikan, maka berdasarkan apa yang telah kita bahas di atas, kita perlu mencatat beberapa hal penting berikut:

1. Kita tidak mungkin membagikan iman kita kepada orang lain tanpa kita sendiri benar-benar memahami dasar-dasar penting ajaran kita (bandingkan hal ini dengan penegasan rasul Paulus pada 1 Tim.1:7)

2. Salah satu masalah dalam pelayanan adalah soal ajaran. Adanya pengajaran yang menyesatkan dapat kita baca di dalam Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru.

3. Tuhan Yesus menegur orang Farisi yang sedemikian giat melakukan pelayanannya, namun membawa orang lain menjadi lebih jahat. (Mat.23:15; Ro.10:1-3).

4. Jika kita sungguh-sungguh ingin menjadi berkat bagi orang lain sebagaimana diminta oleh tema ini, maka tidak ada pilihan lain selain memperlengkapi diri dalam hal doktrin atau ajaran yang benar. Hal itu dapat kita lakukan dengan berbagai macam cara, termasuk dengan membaca buku-buku rohani yang bermutu. Bagi yang biasa menggunakan jasa internet dapat juga masuk ke berbagai situs pembinaan:

http://www.perkantas.org
http://www.perkantasjkt.org
http://www.grad-net.net
http://www.mangapulsagala.com

Kesibukan seharusnya tidak boleh dibiarkan sebagai penghambat memperlengkapi diri. Beberapa contoh alumni yang sibuk, namun melayani dengan baik:...

5. Doktrin atau ajaran mendasar yang penting diketahui antara lain: doktrin Allah, Kristologi, Roh Kudus, Alkitab, Gereja, Akhir Zaman, khususnya doktrin Keselamatan (dosa, surga dan neraka, iman, pertobatan, pengampunan, hidup kudus, keyakinan keselamatan, dll).

V. Mengenali pemahaman dan keyakinan agama lain

Setiap agama memiliki konsep dan keyakinan yang berbeda dari apa yang kita sebutkan di atas. Karena itu, kita harus jelas mengatahui dengan siapa kita bicara dan mengenal ajaran-ajaran dasar yang mereka yakini. Sekalipun hal tersebut merupakan hal yang sulit dan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk mempelajarinya, karena itu tidak akan kita bahas di sini, namun kita perlu menyebut beberapa tema penting

1. Bagaimana pandangan agama Islam tentang:

a. Allah

b. Kristus

c. Surga dan neraka.

d. Dosa dan keselamatan?

e. Dll.

2. Bagaimana pandangan agama Hindu terhadap hal-hal di atas?

3. Bagaimana pandangan agama Buddha?

VI. Memiliki dan menerapkan metode yang tepat.

John Stott New Issues Facing Christians Today[24] menuliskan beberapa pendekatan yang telah terjadi di dalam sejarah Gereja, baik yang positif maupun yang negatif. Kita akan mendiskusikan itu sebelum kita belajar hal-hal yang lebih praktis.

1. Imposition

2. Laissez- faire

3. Persuasion

4. Beberapa contoh pendekatan Persuasi:

5. Sistim politik

Di dalam buku saya, Pekabaran Injil Secara Pribadi, di sana saya menyebutkan beberapa hal: Pertama, mengenal kondisi orang berdosa (BUTUTUL).

Kedua, mengenal berita yang harus disampaikan:

1. Semua orang berdosa (Ro.3:23)

2. Upah dosa adalah maut (Ro.6:23)

3. Kristus telah mati untuk membayar hukuman (Ro.3:25)

4. Harus menerima Kristus (Yoh.1:12)

5. Keselamatan adalah anugerah (Ef.2:8)

6. Keyakinan keselamatan (1Yoh.5:13)

Ketiga, mengenal pendekatan yang harus disampaikan.

Dalam bagian ini saya mengutip enam pendekatan yang diberikan oleh Stephen Olford, yaitu seorang yang disebut oleh Billy Graham sebagai “Sahabatku dalam penginjilan selama 40 tahun dan merupakan penginjil yang sangat dipakai Allah”.

1. The shock approach

2. The gentle approach friendship

3. The conversational approach

4. The literature approach

5. The aftermeeting approach

6. The planned interview approach.

Beberapa prinsip membagikan iman dari teladan Tuhan Yesus (Yoh.4)

1. Mulai mengambil inisyatif

2. Bangun jembatan

3. Hindari perdebatan, jangan ngotot

4. Bangkitkan minatnya

5. Usahakan memberi persetujuan

6. Katakan kebenaran.

7. Tetap pada tujuan. Arahkan percakapan

8. Usahakan mengarah kepada klimaks.

9. Jangan paksa. Beri kesempatan untuk memutuskan

10. Jika memungkinkan, akhirilah percakapan itu dengan doa

11. Bangun terus persahabatan dengannya, apapun respon yang diambilnya.

Pentutup

Ada pepatah yang mengatakan: “Di mana ada kemauan, di sana ada jalan”. Saya kira kita setuju dengan pepatah tersebut. Sebenarnya, banyak penulis telah menulis buku mengenai hal-hal praktis dalam membagikan iman tersebut. Sebagai contoh, Tony Campolo & Gordon Aeschliman menuliskan pengalaman mereka dalam menyaksikan imannya dalam buku 50 Ways You Can Share Your Faith.