Wednesday, 17 January 2018

Pdt. Ir. Mangapul Sagala, M.Th

... Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah!" (Markus 12: 17)

Masalah iri hati, persaingan, benci-membenci, jerat-menjerat, bahkan keinginan untuk menghabisi orang lain atau kelompok lain, sebenarnya bukanlah masalah baru lagi. Karena hal itupun telah dialami oleh umat Allah di abad mula-mula, bahkan dialami oleh Tuhan Yesus sendiri. Demikianlah Penginjil Markus mencatat ada dua kelompok Farisi dan Herodian yang mendatangi Tuhan Yesus untuk menjerat Dia dengan suatu pertanyaan. Dalam Injil Markus di tulis, "Orang-orang itu datang dan berkata kepadaNya: "Guru, kami tahu, Engkau adalah seorang yang jujur, dan Engkau tidak takut kepada siapapun juga... Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak? Haruskah kami bayar atau tidak?" (Mark. 12:14).

Dengan memperhatikan pertanyaan ini, memang benar bahwa Tuhan Yesus sedang dijebak, karena bentuk pertanyaan ini menuntut Yesus untuk menjawab "Boleh" atau "Tidak", "Harus" atau "Tidak harus".

Saya membayangkan bahwa dua kelompok yang berbeda ini (Herodian, yang menyetujui pajak, Zelotes/ Farisi yang tidak menyetujui pajak) sudah siap untuk mengambil tindakan untuk salah satu jawaban yang akan diberikan Tuhan Yesus. Markus kemudian menulis pertanyaan dan pernyataan Tuhan Yesus: "Gambar dan tulisan siapakah ini? ... Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib Kamu berikan kepada Allah!" Selanjutnya Markus menulis, "Mereka sangat heran mendengar Dia". (ayat 17c). Jadi, Tuhan Yesus tidak berhasil dijerat. Karena bagi kelompok yang setuju akan pajak akan puas dengan jawaban Yesus tersebut, karena Dia mengakui adanya kekuasaan Kaisar melalui simbol adanya gambar dan tulisan Kaisar tersebut yang wajib dikembalikan kepada Kaisar. Tetapi kelompok Farisi dan Yahudi juga akan puas karena mereka memang menghayati makna "gambar dan rupa", di mana manusia termasuk Kaisar adalah gambar Allah. Karena itu, manusia termasuk Kaisar harus mengakui kekuasaan Allah atas diri mereka. Mereka harus hidup sesuai dengan kehendakNya, serta beribadah kepadaNya.

Pelajaran apa yang kita peroleh dari sini?

Pertama, kita melihat bahwa Yesus berhasil menerima tantangan mereka. Bukan saja demikian, Dia malah balik menantang mereka dengan memberikan pernyataan penting dan memberikan semacam PR kepada mereka. Maka benarlah perkataan seorang yang bijak: "We must not only accept the challenge of the world, but we must challenge them". Di sini Tuhan Yesus berhasil menerapkan ajaranNya untuk cerdik dan tulus (lihat Matius 10: 16). Karena Dia cerdik, maka Dia tidak berhasil dijerat dan ditipu, meskipun mereka datang kepada Yesus dengan gaya bahasa pujian dan sanjungan (perhatikan kembali ayat 14). Karena Dia tulus, Dia menjawab dan bersikap dengan sungguh-sungguh demi kebaikan mereka; tidak menipu dan juga tidak menjerat. Kita juga harus cerdik dan tulus dalam menghadapi situasi di sekitar kita.

Selanjutnya, dari jawaban Tuhan tersebut, kita diyakinkan akan tanggung jawab bernegara dan tanggung jawab beribadah kepada Allah. Di sinilah terlihat makna dwi-kewarganegaraan kita. Untuk hal beribadah barangkali kaum Injili sudah menyadarinya. Tapi bagaimana dengan tanggung jawab bernegara? Sejauh mana kita menyada-rinya? Mengapa banyak orang Kristen nampaknya ragu-ragu menerjunkan dirinya dalam berbagai bentuk dalam hidup bernegara? Mengapa masih cukup banyak orang Kristen yang mengharamkan percakapan dan keterlibatan dalam dunia politik? Sesungguhnya segala sesuatu yang berkait dengan kehidupan bernegara tidak boleh haramkan, sebaliknya kita harus doakan dan kerjakan dengan segenap hati sesuai dengan kemampuan dan panggilan kita. Karena itu kita harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya keterlibatan kita dalam dunia pendidikan, sosial, ekonomi, hukum, agama dan lainnya termasuk dunia politik yang seringkali dianggap kotor itu. Kita harus mencari informasi seluas-luasnya, belajar setinggi-tingginya-baik formal maupun informal. Maka bijaksanalah jika segala dan daya kita gabungkan dengan secara terencana kita gunakan untuk hal tersebut, bukan untuk sekedar memperkaya diri dan tujuan lainnya yang tidak berhubungan dengan pemba-ngunan negara dan umat Allah. Ketika bangsa Israel di pembuangan, Allah berseru melalui nabi Jeremia, "Usahakanlah kesejahteraan kota kemana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu" (Jer. 29: 7).

Kita semua, bukan buangan di Indonesia, bukan warganegara kelas dua, sekalipun ada yang menganggapnya demikian. Maka sepatutnya dan seharusnyalah kita melakukan segala upaya demi kemajuan dan kesejahteraan negara ini. Kongkritnya? Apakah masalah negara kita ini adalah masalah moral? kejujuran? Maka marilah kita mulai menerapkan kejujuran di lingkungan kita sendiri. Masalah lingkungan yang semakin dirusak? Maka marilah kita menjaga lingkungan kita sendiri, termasuk jangan membiarkan polusi kendaraan, membuang sampah pada tempatnya membersihkan selokan dan lain sebagainya.

Sementara kita secara terus menerus melakukan hal-hal tersebut, marilah kita semakin tekun berdoa bagi negara kita, baik secara pribadi, keluarga, kelompok & bersama.

Kiranya Allah mengampuni bangsa ini dari segala dosa-dosanya & memberkatinya di tahun yang akan datang. Kiranya Allah menyatakan kuasaNya memulihkan kondisi bangsa kita yang sedang menderita ini.

Merdeka!