Monday, 11 December 2017

Oleh : Pdt. Ir. Mangapul Sagala, M.Th

I. Pengantar :

Betapa bahagianya kita, anak-anak Allah hidup dalam kehendak Allah, karena jika demikian, kualitas hidup kita akan begitu tinggi dan penuh makna. Seorang yang hidup dalam kehendak Allah dengan yang tidak, memiliki kualitas perbandingan bagai langit dan bumi. Sebagaimana nabi Yesaya menegaskan:

"Sebab rancanganKu bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalanKu, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu" (Yes. 55:8-9).

Karena itu, sekali pun mengetahui kehendak Allah itu sulit karena sangat dipengaruhi oleh banyak hal, namun kita tetap rindu untuk mengetahuinya.

II. Siapa yang dapat mengetahuinya?
Syarat mutlak yang harus dimiliki adalah: orang tersebut sudah dilahirkan kembali sehingga memiliki Roh Kudus dalam hatinya. Alkitab mengatakan: "Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan ; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani".(I Kor. 2:14). Siapakah orang yang takut akan Tuhan?

Kepadanya Tuhan menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka. (Maz. 25:12,14), (Yoh. 10:3-5).

III. Bagaimana mengetahuinya?
1. Melalui Firman Allah (Alkitab)
Ajaib sekali! Allah berkenan berbicara kepada manusia. Di dalam Alkitab Allah telah membuka isi hatiNya kepada manusia; apa yang berkenan pada-Nya, dan apa yang tidak. Karena itu semakin banyak kita membaca, menggali dan menghayati Alkitab, semakin mengertilah kita akan kehendak Allah. Alkitab adalah buku pedoman kita dalam menjalankan hidup yang berkenan pada-Nya. Itu tidak berarti bahwa setiap hal dalam hidup kita ada tertulis dalam Alkitab, sehingga kita tinggal berdoa dengan Alkitab ditangan, dan begitu dibuka, Alkitab tersebut akan menunjukkan apa yang harus dilakukan. Tetapi dalam Alkitab Allah telah menyatakan prinsip-prinsip hidup yang merupakan kehendak-Nya. Sebagai contoh, pernikahan harus dengan yang seiman, terang dengan gelap tidak mungkin bersatu. (II Kor. 6:14). Kesulitan kita adalah siapakah di antara terang tersebut yang dikehendaki Allah buat kita ? si Cristine kah ? si Maria ? si Yohanes ? si Markus ? Untuk itu, mari kita lihat prinsip kedua.

2. Kepekaan pada Roh Kudus
Jikalau Alkitab adalah buku pedoman kita, maka Roh Kudus adalah Guru kita untuk mengajar-menjelaskan- menyakinkan Alkitab tersebut. Dia akan menuntun hati dan pikiran kita untuk melakukan segala hal yang menjadi kehendak Allah. Karena itu marilah kita berjalan dalam Roh dan dipenuhi Roh (Ef. 5:18). Jangan mendukakan Dia (Ef. 4:30) apalagi memadamkan-Nya (I Tes. 5:19) bersahabatlah dengan-Nya, sukakan Dia dengan melakukan hal-hal yang berkenan bagi-Nya. Dengan demikian, setiap hari Dia akan memimpin kita kepada kehendak-Nya (band. Kis. 16:6-7). Karena itu, kembangkan kepekaan untuk mendengar suara-Nya, merasakan pimpinan-Nya.

3. Melalui Doa
Berdoa berarti berdialog dengan Allah; artinya, didalam doa kita berbicara kepada Allah dan mendengar Dia berbicara kepada kita. Dalam doa, kita bertanya akan hal-hal yang tidak jelas kita ketahui, dan kita menantikan Allah untuk menyatakan kehendak-Nya. Band. Dan. 2:17-19. Karena itu, kembangkan kebiasaan berdoa yang tidak monolog tapi dialog.

4. Melalui Persekutuan
Persekutuan orang percaya adalah Tubuh Kristus yang kepadanya Allah berkenan menyatakan kehendak-Nya (band. Kis. 13:1-3). Karena itu, baik sekali jika kita juga meminta pertimbangan dari mereka akan hal-hal yang kita gumuli. Tentu saja mereka terbatas hanya memberi usul dan pandangan, keputusan tetap pada kita sendiri.

5. Melalui Hamba Tuhan (Orang Kristen dewasa)
Hamba Tuhan dan orang Kristen dewasa telah memiliki pengalaman dan kepekaan yang lebih daripada orang Kristen biasa/secara umum. Karena itu, baik sekali juga hal-hal yang kita gumuli kita tanyakan kepada mereka. (Band. Kis. 11:25- 26). Dalam hal ini pun mereka tetap yang memberi usul/pandangan, keputusan tetap pada diri sendiri.

6. Melalui situasi
Situasi dapat kita pakai sebagai faktor peneguh. Jika hal tersebut dikehendaki Allah, maka Allah juga akan memakai situasi untuk meneguhkan kehendak-Nya tersebut. Tetapi perlu diingat, situasi hanya hal peneguh, bukan dasar memutuskan. Kenapa? Karena situasi mudah/menolong/pintu terbuka belum tentu kehendak Allah (band. Yunus 1:1-3). Dalam kisah Yunus ini kita lihat dia bahkan sedang melarikan diri dari kehendak Allah. Anehnya, ke tempat dia ingin melarikan diri, persis ada kapal, ada tiket, uang dan lain sebagainya. Namun, kita melihat juga bagaimana Allah menurunkan angin ribut (ay. 4). Nah, di sini dibutuhkan kepekaan menganalisa situasi. Situasi sukar belum tentu tidak kehendak Allah. Bahkan seringkali iblis mengacaukan situasi jika hal-hal tersebut sungguh-sungguh kehendak Allah; karena memang tugas iblis adalah menggagalkan kehendak Allah (sekiranya mungkin). Band. Mark. 4:35-41 dan Mark. 5:1-20. Karena fakta inilah kita harus menyerahkan situasi sekitar kita supaya Allah mendiamkan seluruh 'angin ribut' tersebut dan mengendalikannya.

7. Melalui hati nurani
Walau bagaimanapun faktor inilah yang menjadi penentu. Artinya, jika Allah menghendaki hal tersebut, maka Dia akan mengerjakan sejahtera dalam hati kita. Jika tidak, Dia akan membuat hati kita tidak sejahtera atau gelisah. Allah tidak akan memaksa /memperkosa kebebasan yang diberikan pada kita; jika Dia akan menuntun kita sampai kita sungguh-sungguh yakin. Alkitab mengatakan, "Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kere­laan-Nya" (Fil. 2:13). Karena itu, bagi seseorang yang sedang mencari kehendak Allah, dia harus menjaga hati nurani tetap bersih, yaitu dengan memantapkan hubungan dengan Bapa.

IV. Perintang-perintang untuk mengetahui kehendak Allah

1. Dosa yang belum diselesaikan.
Dosa menumpulkan hati nurani kita dan membutakan mata rohani kita. Karena itu bereskanlah. Akui, sesali, tinggalkan, dan serahkan diri pada pimpinan Roh Kudus.

2. Ketidaktaatan.
Allah tahu apakah kita sungguh-sungguh mau melakukan apa yang kita ketahui kelak. Dan bila ternyata kita akan menolak jika Allah memberitahukan, maka hal tersebut tidak akan Tuhan nyatakan.

3. Ketidaksabaran.
Mungkin Allah menunda saat Dia menyatakan kehendak-Nya. Nah, jika kita tidak sabar menunggu, kita akan melakukan kehendak sendiri dan meninggalkan kehendak Allah tersebut. Untuk kasus ini, kita akan menyesal kelak. Karena itu bersabarlah menunggu. Band. Yes. 40:31.

4. Maksud-maksud yang tersembunyi.
Kita akan melakukan bila menyenangkan/menguntungkan; dengan perkataan lain kita sudah memiliki kehendak sendiri yang kita jadikan kriteria untuk kehendak Allah. Ingat bileal yang gagal melakukan kehendak Allah meskipun telah Allah nyatakan.

5. Konsep yang salah.
Allah bekerja dalam kebenaran; jadi bila kita telah memiliki konsep-konsep yang salah, Allah tidak akan mentolerir kesalahan tersebut menjadi kehendak-Nya. Karena itu, sungguh-sungguh mempelajari kebenaran hingga memilikinya merupakan hal yang penting dalam mengetahui kebenaran.

Penutup.

Tuhan Yesus bersabda, "Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku..." (Yoh. 4:34).
Bagaimana dengan Anda?