Monday, 11 December 2017

Kita perlu mewaspadai seorang pengkhotbah yang telah membingungkan banyak orang dengan minyak urapannya serta pengalaman-pengalaman yang dikisahkannya, seperti bolak-balik masuk surga, Minyak Urapan, visi neraka, dll. Dalam berbagai pertemuan, saya seringsekali bertemu dengan anggota jemaat yang mengatakan kebingungannya mengenai penggunaan minyak urapan.

Pertama, dalam sebuah pembinaan rutin di tempat tertentu, di mana saya berperan sebagai salah satu dari dua pembina, seorang ibu mengisahkan pengalamannya dalam acara perjamuan kudus. Dia mengatakan: "Kok kelihatannya suasana perjamuan kudus menjadi kurang bermakna dan sakral. Orang berebut untuk mengambil roti. Selain itu, orang memasukkan apa yang disebut dengan minyak urapan ke dalam botol-botol kecil dan dibawa ke rumah masing2. Katanya, dengan minyak itu, banyak hal dapat diselesaikan: penyakit akan hilang, dll.

Kedua, beberapa waktu yang lalu seorang ibu bertanya tentang seseorang yang membawa minyak urapan, yang katanya telah didoakan sebelumnya. Minyak urapan tersebut dianggap sanggup menyembuhkan ayahnya yang mengalami penyakit yang sangat parah. Dstnya.

Kita harus dengan tegas mengatakan bahwa Perjamuan Kudus atau Minyak Urapan, atau sejenisnya tidak boleh diiklankan dan dipromosikan menjadi semacam jimat ampuh untuk menyembuhkan. Hal itu sungguh menyimpang dari ajaran Alkitab.

Di dalam membangun pemahaman dan teologi, kita harus kembali kepada Alkitab. Rasul Paulus telah membahas hal ini secara khusus dalam 1Kor.11:17-34. Hal ini Paulus lakukan karena telah melihat penyimpangan makna perjamuan kudus sebagaimana ditetapkan Tuhan Yesus. Dalam seluruh ayat tersebut di atas, juga dalam seluruh Alkitab PB kita tidak menemukan satupun upacara perjamuan kudus dilakukan untuk tujuan penyembuhan. Lalu apa makna sesungguhnya dari perjamuan kudus? Makna perjamuan yang ditegaskan oleh rasul Paulus di sini adalah peringatan akan penderitaan dan kematian Tuhan Yesus. Paulus mengutip ucapan Tuhan Yesus: "Inilah TubuhKu, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku" (ayat 24b). Selanjutnya Paulus menjelaskan tentang cawan berisi anggur: "¡Kperbuatlah ini setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" (25). Perjamuan Kudus juga bermakna pemberitaan. Demikianlah kita membaca dalam ayat 26: "Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang". Menjadi pertanyaan penting buat jemaat GTI, apakah jemaat sungguh menghayati makna tersebut? Kalau tidak, Firman Tuhan memberi peringatan yang sangat keras yang patut kita camkan: "Jadi barangsiapa dengan cara yang tidak layak makan roti atau minum cawan Tuhan, ia berdosa terhadap tubuh dan darah Tuhan" (ayat 27).

Itulah sebabnya, kita sedih mendengarkan serta melihat dalam foto yang dimuat dalam majalah mereka bagaimana jemaat berebut menerima roti dan minyak urapan tersebut. Kita juga semakin sedih membaca bagaimana perjamuan itu dimaknakan dalam bulletin mereka. Kita akan mengutip beberapa bagian saja: "Dengan apa Iwan Chandra dibebaskan dari operasi otak? Pertama, karena dia percaya dibalik Perjamuan Kudus. Walaupun dia bukan orang Kristen, datang untuk menerima Perjamuan Kudus" (Bulletin No. 617, 8/10-2000). Dalam bulletin ini juga disebutkan nama Christina. Menarik sekali nama-nama tersebut diulang lagi dalam brosur KKR Natal mereka yang diadakan di Stadion Utama Senayan pada tgl 9-12-2000 yang lalu. Kita dapat menemukan dalam brosur tersebut kalimat berikut: "Iwan Chandra bebas dari operasi otak, karena percaya kuasa di balik Perjamuan Kudus dan Minyak Urapan¡K", selanjutnya: "Christina bebas dari operasi otak dan pendarahan, sehari menjelang dioperasi PDT X memberikan 3 set Perjamuan Kudus.. Dan dengan Kuasa Minyak Urapan Christina disembuhkan".

Saya tidak tahu bagaimana respon Anda membaca kutipan di atas. Tetapi yang jelas hal itu disadari atau tidak telah menyimpangkan iman dan pengharapan orang dari Kristus yang hidup dan berkuasa kepada "kuasa Minyak Urapan". Mungkin ada yang berkata: "Tetapi kenyataannya kan ada juga yang sembuh". Soal sembuh atau tidak bukan itu yang terutama, tapi kebenaran Firman Tuhan harus diberitakan, iman jemaat dibangunkan. Soal penyembuhan, dukun pun dapat menyembuhkan. Saya datang dari daerah yang sangat kuat kuasa gelapnya, dan saya menyaksikan sendiri penyembuhan2 yang dilakukan oleh dukun. Bahkan menyedihkan sekali, karena dukun tersebut memakai ayat-ayat Firman Tuhan juga, memegang salib juga serta mengangkat-angkatnya dalam proses penyembuhan tersebut. Dan lagi, kalau iman jemaat diserongkan, dari pribadi Kristus kepada kesembuhan, bukankah Setan dan kuasa kegelapan pun akan senang mem-bantunya? Itulah sebabnya saya bersyukur mendengar kesaksian seorang ibu yang sudah divonis dokter mengidap penyakit kanker, tetapi tetap menolak untuk pergi ke kebaktian tersebut untuk disembuhkan. Alasannya menarik untuk disimak: "Saya tidak sejahtera dengan pengajarannya, juga dengan cara mengadakan Perjamuan Kudus yang direndahkan dari maknanya".-