Monday, 11 December 2017

Pengantar:

Karena seminar ini diadakan secara khusus untuk membahas buku Purpose Driven Life1 (PDL), maka kita akan membatasi pembahasan pada apa yang dinyatakan oleh Rick Warren dalam buku tersebut. Warren membahas judul tersebut di atas dalam bagian Purpose #1: You were planned for God’s pleasure. Dalam waktu yang sangat terbatas, hanya satu jam, kita akan membahas tema ini yang dibagi oleh Warren menjadi 7 bagian (day 8 – day 14; hal.63-113).

Sebelum membahas bagian ini lebih jauh, pertama-tama saya ingin menyampaikan bahwa buku PDL memang bagus. Tidak heran jika buku yang telah terjual lebih dari 20 juta exemplar tersebut menjadi buku yang telah dibahas secara serial di berbagai Gereja, baik di negeri asalnya, maupun di Gereja-gereja lain, termasuk di Indonesia. Hal itu disebabkan oleh pembahasan tema-tema yang sangat relevan dan penting dengan cara yang sistematis, baik, dan mudah dicerna. Demikian juga dengan tema penyembahan, Warren membahas bagian ini dengan baik. Banyak hal penting dan mendasar tentang penyembahan dibahas pada bagian ini.

Tetapi buku ini bukan hanya menyampaikan pengajaran penting dan mendasar tentang penyembahan, buku ini juga berisi koreksi. Saya kira, jika pembaca membaca buku ini dengan hati yang terbuka, beberapa hal yang disampaikan dalam bagian ini akan meluruskan pemahaman yang salah yang berkaitan dengan penyembahan. Kiranya Tuhan menolong kita dalam memahami bagian penting ini.

1. Apa, Mengapa, dan Bagaimana penyembahan itu? (hari ke 8-10)

Dasar Alkitab: Why.4:11 dan Maz.149:4a.

Warren memulai pembahasan bagian ini dengan menulis pernyataan penting yang merupakan dasar dari penyembahan Kristen: “You were planned for God’s pleasure”. Dengan perkataan lain, Warren menyatakan bahwa sejak dari mulanya Allah menciptakan manusia dengan sebuah tujuan yang jelas: kesenangan Allah. Dasar Alkitab yang diambil oleh Warren adalah dari kitab Wahyu:

“Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendakMu semuanya itu ada dan diciptakan” (Why.4:11).

Kata “kehendak” diterjemahkan oleh Warren dengan “pleasure” atau kesenangan. Ada orang yang keberatan dengan kata “pleasure” tersebut, karena kata itu sering dikaitkan dengan kesenangan duniawi yang tidak tepat digunakan bagi Allah. Saya kira Lembaga Alkitab Indonesia memberikan terjemahan yang tepat dengan bahasa aslinya, yaitu “thelema”.

Bicara soal penyembahan, Warren menegaskan: “worship is multifaceted”. Penyembahan memiliki banyak bentuk. Karena itu, penyembahan tidak boleh dipersempit maknanya hanya terbatas kepada nyanyian atau musik gerejani, karena penyembahan jauh melebihi nyanyian gerejani. Dalam kenyataannya, Warren menunjukkan bahwa penyembahan kepada Allah sudah ada terlebih dahulu sebelum musik dikenal di dalam umat Allah (Kej.4:21). Di sini Warren juga menunjukkan adanya salah pengertian akan nyanyian rohani seolah-olah penyembahan dikaitkan dengan cara dan gaya tertentu saja, seperti adanya suara yang semakin lembut dan lambat. Padahal, Alkitab sendiri tidak mengajarkan adanya gaya tertentu yang harus dilakukan ketika memuji Tuhan. Kita juga tidak menemukan satupun melodi nyanyian rohani. Karena itu, kita perlu kritis terhadap istilah “musik Kristen”, seolah-olah ada jenis musik tertentu yang diberikan oleh Alkitab. Sebenarnya, yang kita miliki adalah “lirik Kristen”, artinya di dalam nyanyian tersebut kita menemukan lirik yang mengajarkan tentang Allah dan hubunganNya dengan umat ciptaanNya (66).

Ada satu kalimat bijak yang mengatakan: “When the people know the ‘why’, they will know the ‘how’”. Warren menyadari hal tersebut. Karena itu, dia menyoroti mengapa umat Allah melakukan penyembahan. Disadari atau tidak, penyembahan cukup sering dijadikan berpusat pada diri sendiri. Artinya penyembahan menjadi sarana untuk menyenangkan diri sendiri atau orang lain yang mendengarnya. Karena itu, jika nyanyian yang dinyanyikan ternyata tidak membawa keuntungan atau kenikmatan kepada diri sendiri, maka penyembahan tersebut dianggap gagal. Saya setuju dengan Warren yang menegaskan bahwa penyembahan bukanlah untuk keuntungan kita (66). Sekalipun penyembahan dapat menjadi sarana untuk menguatkan diri sendiri dan sesama, tetapi tujuan penyembahan adalah untuk Allah, untuk ‘kepentingan’ Allah, bukan manusia.2 Selanjutnya, Warren menegaskan bahwa penyembahan bukanlah sebahagian dari hidup, karena sesungguhnya, penyembahan adalah hidup itu sendiri. Ini berarti bahwa kita tidak boleh mengkotak-kotakkan hidup kita seolah-olah ada kegiatan tertentu –seperti memuji Tuhan di Gereja- yang sifatnya penyembahan kepada Allah dan ada kegiatan lainnya yang bukan kepada Allah. Rasul Paulus menegaskan bahwa apapun juga yang kita lakukan harus kita lakukan untuk kemuliaan Allah (Kol.3:17,23).

Setelah membahas makna dan tujuan penyembahan yang sesungguhnya, Warren beralih kepada tema lain, yaitu “What makes God smile” (Bil.6:25; Maz.119:135) (bab 9).

Ada sebagian orang yang keberatan dengan tema di atas, di mana tema itu dianggap mereduksi Allah yang mulia, agung dan tidak terbatas menjadi manusia yang lemah dan terbatas. Keberatan tersebut perlu kita perhatikan. Memang, penggambaran diri Allah dalam bentuk manusia (antropomorphisme) dapat menolong kita memahami diri Allah, lebih dekat. Namun demikian, kita juga harus berhati-hati untuk tidak menjadikan penggambaran diri Allah yang demikian seolah-olah Allah memang sama dengan manusia. Karena itu, kita dapat memahami istilah “Allah senyum” dengan “Allah berkenan” yang merupakan salah satu tema besar di dalam Alkitab.

Pada bagian ini Warren memberikan lima hal yang membuat Allah tersenyum.

1. Allah tersenyum ketika kita mengasihi Dia di atas segalanya
2. Allah tersenyum ketika kita mempercayai Dia dengan seutuhnya
3. Allah tersenyum ketika kita mentaatiNya sepenuh hati
4. Allah tersenyum ketika kita senantiasa memuji Dia dan bersyukur kepadaNya
5. Allah tersenyum ketika kita menggunakan segala kemampuan kita

Jika kita mengamati kelima unsur tersebut di atas, maka kita melihat bahwa hal itu berhubungan dengan sikap hati kita kepada Allah. Kelima unsur tersebut memang merupakan sikap yang sangat penting dan mendasar dalam penyembahan yang benar kepada Allah. Sebaliknya, sikap yang tidak mencerminkan kasih kepada Allah, ragu, tidak taat, tidak mampu bersyukur dan penyerahan diri yang setengah-setengah, akan membuat seseorang jauh dari sikap penyembahan yang benar.

Dengan menyebut kelima hal di atas, itu tidak berarti bahwa setiap orang yang menyembah Allah harus sempurna terlebih dahulu. Pada bab selanjutnya (10), Warren menulis hakekat atau essensi penyembahan. Pada bagian ini Warren membahas pentingnya penyerahan diri kepada Allah. Walaupun kata “penyerahan” pada umumnya merupakan kata yang tidak populer dan disukai orang, namun Warren menjelaskan bahwa sikap ini sangat penting. Dengan penyerahan diri kepada Allah, itu berarti kita mengakui segala keterbatasan kita dan membiarkan Allah berkarya di dalam dan melalui diri kita. Dengan demikian, kita akan dilepaskan dari tiga penghalang yang membuat kita sulit menyembah Allah: ketakutan, kesombongan dan kebingungan atau ketidakpastian.

2. Membina relasi dengan Allah

Dasar Alkitab: Ro.5:10; Ams.3:32 dan Yak.4:8

Warren membahas bagian ini dalam dua bab berturut-turut: “Becoming Best Friends with God” (11) dan Developping Your Friendship with God” (12). Warren menulis bahwa sedikit sekali orang-orang di dalam Perjanjian Lama yang memiliki persahabatan (friendship) dengan Allah, sebagaimana dialami Musa, Abraham, Daud, Ayub dan Henokh, Nuh. Umumnya, relasi yang ditemukan di dalam Perjanjian Lama adalah ketakutan, bukan persahabatan dengan Allah. Lalu apa dasarnya untuk membangun persahabatan? Saya setuju dengan Warren bahwa hal itu bukan karena sesuatu dalam diri manusia seolah-olah manusia layak mengalami hal itu dari dirinya sendiri, tapi hal itu terjadi semata-mata karena anugerah Allah dan pengorbanan Yesus Kristus (2 Kor. 5:18a; Yoh.15:15). Dengan adanya anugerah Allah tersebut, maka Warren mendorong kita untuk membina persahabatan dengan Allah sebagaimana telah dialami orang-orang tersebut di atas.

Bagaimanakah hal itu dapat dicapai? Warren memberikan enam saran praktis:

1. Melalui percakapan yang tetap dan teratur dengan Allah.
2. Melalui meditasi yang kontinu
3. Kita harus memilih untuk bersikap jujur kepada Allah
4. Kita harus memilih untuk taat di dalam iman kepada Allah
5. Kita harus menilai sesuatu sebagaimana Allah menilainya
6. Kita harus menginginkan persahabatan dengan Allah lebih dari apapun

Setelah membahas saran-saran praktis yang diberikan oleh Warren tersebut di atas, kita juga perlu memberi catatan dalam hal “friendship” atau persahabatan dengan Allah. Saya mengamati bahwa ada dua hal yang bersifat ekstrim yang harus kita hindari dalam relasi kita dengan Allah. Pertama adalah sikap ketakutan, di mana kita melihat Allah sebagai pribadi yang sangat mulia, dahsyat dan tak terhampiri. Karena itu, relasi kita dengan Allah sedemikian jauh. Akibatnya, kita tidak memiliki ikatan emosi atau kedekatan sekecil apapun. Sikap ekstrim yang kedua adalah melihat Allah sebagai sahabat kita. Karena itu, kita bersikap sedemikian rupa sebagaimana lazimnya dua orang yang bersahabat, seolah-olah Allah sama dengan manusia. Akibatnya, bisa berbahaya, khususnya bagi mereka yang ‘sok akrab’ dengan Allah.

Sikap negatif pertama memang sangat menonjol dalam Perjanjian Lama. Itulah sebabnya, di dalam Perjanjian Lama orang ketakutan untuk bertemu secara langsung dengan Allah, karena setiap orang yang melihat Allah akan mati (Kej.32:30; Kel.20:19). Namun demikian, sebagaimana ditegaskan oleh Warren, Tuhan Yesus telah mengubah kondisi tersebut. Allah yang menyatakan diri di dalam Yesus Kristus tidak perlu lagi ditakuti sebagaimana umat Allah ketakutan melihat Allah di dalam Perjanjian Lama. Rasul Yohanes bahkan menulis: “Kami telah melihat kemuliaanNya, yaitu kemuliaan sebagai Anak Tunggal Bapa...” (Yoh.1:14). Rasul Yohanes mengetahui adanya pengajaran dalam Perjanjian Lama bahwa barangsiapa melihat Allah akan mati. Justru karena itulah Yohanes menyatakan peran Yesus yang sangat unik, yang melaluiNya Allah yang tidak kelihatan menjadi kelihatan. Yohanes menulis: “Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya” (1:18). Tetapi apakah sikap Yesus yang mendekatkan diriNya dengan kita berarti Dia kehilangan sifat keAllahanNya sebagaimana dimiliki oleh YHWH di Perjanjian Lama? Apakah tindakan Yesus yang sedemikian drastis dan ajaib, di mana Dia datang menjadi manusia sejati seperti kita, akan membuat kita memperlakukannya sama seperti manusia lainnya? Menarik untuk diperhatikan bahwa sekalipun Yesus menyebut murid-muridNya sebagai sahabat (Yoh.15:15), namun kita tidak pernah membaca bahwa para murid memanggil Yesus dengan “sahabat”. Setelah Yesus menyebut diriNya sebagai sahabat, para murid tetap menyebut Yesus sebagai Tuhan (Yoh.21:7).

3. Penyembahan yang berkenan kepada Allah

Dasar Alkitab: Mrk.12:30; Yes.8:17

Bagian ini merupakan pembahasan yang terakhir dalam tema penyembahan ini. Dengan pembahasan ini, kita menyadari bahwa tidak semua penyembahan berkenan kepada Allah. Hal ini memang pernah ditegaskan oleh Tuhan Yesus kepada perempuan Samaria: “...Allah itu Roh, barangsiapa menyembah Dia harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran” (Yoh.4:24). Dalam bab berikutnya (day 13) Warren menyebutkan empat hal yang membuat ibadah atau penyembahan kita berkenan kepada Allah:

1. Allah berkenan bila penyembahan kita tepat (akurat)
2. Allah berkenan bila penyembahan kita otentik
3. Allah berkenan bila penyembahan kita keluar dari pemikiran yang benar
4. Allah berkenan bila penyembahan kita praktis

Selanjutnya, salah satu kelemahan kita dalam hubungannya dengan Allah adalah ketika kita merasa bahwa Allah jauh dari kita. Hal itu dapat disebabkan oleh banyak hal, seperti adanya kesulitan hidup, penderitaan dan berbagai masalah lainnya. Karena itu, dalam bab terakhir pada pembahasan tema ini, Warren menegaskan bahwa Allah itu nyata dan dekat, tidak menjadi soal bagaimana perasaan kita akan kehadiranNya. Saya setuju dengan Warren bahwa di dalam kebersamaan atau relasi kita dengan Allah, kita tidak akan selamanya merasakan kedekatan denganNya. Di dalam proses pertumbuhan rohani kita menuju kepada kedewasaan, Allah dapat menguji kita dengan membiarkan kita seolah-olah kita berjalan sendiri di mana Dia berada sangat jauh dari kita. Kadang kala, Allah tidak segera menjawab doa kita sebagaimana ketika kita baru bertobat dan memulai relasi kita denganNya. Barangkali, dalam kondisi demikian kita dapat menyalahkan diri seolah-olah kita telah berbuat sesuatu kesalahan yang sedemikian besar yang membuat Allah tidak lagi mau mendengar doa kita. Namun sebenarnya, perasaan seperti itu belum tentu benar. Lalu, apa yang sedang terjadi? Allah sedang mendidik kita untuk tidak bersandar kepada perasaan kita atau kondisi di sekitar kita. Perasaan seperti ini juga dialami oleh Ayub (Ayub 23:8-10). Padahal, sejak awal Alkitab telah menyebut Ayub sebagai orang yang saleh dan jujur serta takut akan Allah dan menjauhi kejahatan (1:1).

Akhirnya, Warren menegaskan: “The most common mistake Christians make in worship today is seeking an experience rather than seeking God” (109). Selanjutnya dia menulis: “Seeking a feeling, even the feeling of closeness to Christ, is not worship”. (109) Saya sependapat bahwa sikap mengandalkan perasaan dalam ibadah adalah salah. Di dalam membangun iman percaya kita kepadaNya, kadangkala kita harus menyingkirkan segala perasaan dan pengalaman tertentu. Itu tidak berarti bahwa kita tidak menghargai perasaan kita yang juga merupakan karunia Allah. Hal yang penting dinyatakan di sini adalah bahwa perasaan dan pengalaman tidak boleh menjadi dasar membangun ibadah dan penyembahan yang benar kepada Allah. Tuhan Yesus sendiri pernah menegaskan bahwa di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam namaNya, maka di situ Dia hadir di tengah-tengah mereka (Mat.18:20). Penegasan Yesus tersebut merupakan sesuatu yang perlu diimani dengan segenap hati. Jadi hal itu tidak tergantung kepada suasana hati atau perasaan kita ketika beribadah dan menyembah Tuhan.

Apa yang kita lakukan jika perasaan seperti di atas menggerogoti kita? Mari kita perhatikan saran-saran praktis berikut:

1. Katakan kepada Allah bagaimana perasaanmu yang sesungguhnya
2. Pusatkan diri kepada Allah, bahwa Dia adalah Allah yang tidak pernah berubah
3. Ingatlah apa yang telah Allah lakukan dalam dirimu.

Penutup

Sebenarnya banyak hal yang dapat kita pelajari dan diskusikan dari buku PDL tersebut, khususnya yang berkenaan dengan tema “Penyembahan”. Sebagaimana saya sebutkan di atas, waktu jualah yang membatasi kita untuk membahas banyak hal lain lagi secara detail. Doa dan harapan saya, kiranya melalui pembahasan kita hari ini, kita semakin menghayati ibadah dan penyembahan yang kita persembahkan kepadaNya, di mana saja dan kapan saja. Soli Deo gloria.-
---
1 Rick Warren, The Purpose Driven Life (Grand Rapids, Mi: Zondervan, 2002).

2 Hal ini telah saya bahas di dalam buku saya yang berjudul Pemimpin Pujian Yang Kreatif (Jakarta: Perkantas, 2002), 3-7.