Monday, 11 December 2017

Jakarta, 28 Juni 2016
Nomor : 20.49/PHN/Ptas/VI/2016
Lampiran : Pembahasan dan Tanggapan
Hal : TANGGAPAN PERKANTAS ATAS 14 BUTIR SURAT PASTORAL PGI
tertanggal 28 Mei 2016

Kepada Yth,
Majelis Pekerja Harian PGI
Up :
1. Pdt. Dr. Henriette T. Hutabarat-Lebang, Ketua
2. Pdt. Gomar Gultom, Sekretaris Umum

Salam damai sejahtera dan kasih Tuhan kita Yesus Kristus.
Merujuk kepada Surat Pengembalaan PGI tertanggal 28 Mei 2016 (selanjutnya disebut "SP"), kami Perkantas, sebagai badan pelayanan Kristen yang melayani siswa, mahasiswa dan alumni Kristen menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas isi SP tersebut. Bukan saja SP telah menimbulkan kegelisahan yang mendalam di kalangan kaum muda Kristen yang kami layani namun kami juga melihat terdapat kekeliruan pemahaman Alkitab yang fatal. Untuk itu kami merasa perlu menyampaikan pandangan kami yang disusun oleh Staf Senior Perkantas: Bapak Dr. Ir. Mangapul Sagala M.Th. (Doktor Biblika Perjanjian Baru), sebagaimana terlampir. Tuhan memberkati.

Salam dan Doa,  
Pengurus Harian Nasional Perkantas Mengetahui,
   
Ir. Triawan Wicaksono MDiv. Dr. Peter Jacobs SH, MPA
Sekjen Ketua Badan Pengurus Nasional
   
Cc: Dr. (Hon) Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc (Ketua Badan Pembina Perkantas)


PEMBAHASAN DAN TANGGAPAN

Disusun oleh Dr. Ir. Mangapul Sagala M.Th (Doktor Biblika Perjanjian Baru)/Staf Senior Perkantas)

Surat Pastoral PGI (SP) terdiri dari 14 butir, yang dibagi menjadi empat:

  • Pengantar  (butir 1-3),
  • Titik Tolak (butir 4-7),
  • Rekomendasi (butir 8-12),
  • Penutup (butir 13-14).

A. Sebuah Pengantar yang menarik
1. Mulai dari pengantar, dalam Surat Pastoral (SP) itu, sangat jelas dituliskan bahwa MPH-PGI sangat berterima kasih dengan adanya umpan balik dari Gereja-Gereja. Namun, ketika membaca isinya, yang terjadi adalah upaya menggiring dan menghimbau umat agar menerima mereka yang terlibat dalam gaya hidup LGBT sebagai gaya hidup yang tidak bermasalah, tidak berdosa.

2. Dalam upaya tersebut di atas, SP dengan cerdik menyampaikan doktrin penciptaan dan kedaulatan Allah. SP mengatakan, “Manusia adalah gambar dan  citra Allah” (butir 1), “Allah menciptakan manusia ...beraneka ragam” (butir 2). Dari dua butir tersebut, SP berpendapat, “Bersikap positif dan realistis dalam  keanekaragaman...saling menerima dan saling mengasihi” (butir 3). Jika membaca ketiga butir tersebut, tampak tidak ada yang salah. Hal itulah yang diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus. Lalu, dimana permasalahan dari SP tersebut?

B. Usaha Penyerongan
1. Tidak tahu atau tidak jujur?
Dalam butir 4 permasalahan mulai terjadi, Dalam SP dikatakan, “Membicarakan kaum LGBT adalah membicarakan manusia yang diciptakan Allah yang sangat dikasihi-Nya”. Di sini timbul permasalahan. Dalam kisah penciptaan, apakah Allah menciptakan LGBT? Jawabnya, tentu tidak. Alkitab dengan sangat jelas mengatakan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan: “...laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej.1:27).

Ayat ini jelas dikutip juga dalam butir 8 SP. Istilah yang sama ditegaskan oleh Tuhan Yesus ketika ada masalah tentang perceraian. “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?”(Mat.19:4). Dari kedua ayat tersebut, jelas disebutkan orientasi seksual yang diciptakan Allah, yaitu heteroseksual antara laki-laki dan perempuan, bukan LGBT.

2. Masalah logika: sudah biasa, maka bukan dosa?
Selanjutnya, pada butir 5, SP mengatakan bahwa “Keberadaan manusia dengan kecenderungan LGBT merupakan sebuah fenomena yang ada sejak masa lalu. LGBT bukan produk kebudayaan modern; bukan juga produk kebudayaan Barat. Fenomena LGBT ini ada dalam masyarakat kita...”

Apa maksud pernyataan ini? Semakin jelas maksudnya ketika membaca butir 8 dan 13 yang mengatakan bahwa LGBT “bukan sebuah pilihan, tetapi sesuatu yang diterima (given)” (butir 8). Lalu, “LGBT pada dirinya sendiri bukanlah sebuah persoalan. LGBT menjadi persoalan karena kitalah yang mempersoalkannya” (butir 13). Pernyataan dalam butir-butir di atas menunjukkan sebuah logika yang sungguh aneh. Apakah karena selama ini LGBT sudah ada di masyarakat kita, lantas itu menjadi tidak masalah?Bagaimana dengan pencuri, perampok, pembunuh, koruptor, bukankah mereka juga merupakan satu realita yang sudah ada di masyarakat kita sejak dulu? Lalu, benarkah perilaku mereka tidak menjadi masalah bagi masyarakat?

3. Perbudakan dosa
Para penulis SP melupakan doktrin kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sejak Kej.3 sudah dikatakan bahwa dosa masuk ke dalam seluruh dunia. Karena itu, akibat  perbudakan dosa, manusia tidak lagi hidup seperti diinginkannya, tapi melenceng dari sasaran (hamartia). Alkitab menegaskan bahwa masalah dosa, bukanlah semata-mata karena ketidakmauan, tapi ketidakmampuan. Not able not to sin. Jadi, kecenderungan untuk bertindak menyimpang, seperti mencuri, merampok, membunuh, korupsi dan ...LGBT, merupakan dosa, yang seharusnya dilawan dengan penyerahan penuh kepada Allah dan Firman-Nya.

4. Fakta kemerdekaan dan kelepasan dari dosa
Adanya perbudakan dosa diakui oleh mereka yang telah menyadari bahwa gaya hidup LGBT adalah dosa. Setelah bertobat dan mengalami kuasa Allah, seseorang memberikan pengakuan, “Kami bukan tidak ingin berhenti, tetapi berulang kali kecebur lagi”. Dan masih banyak lagi mengalami hal yang sama. Kami dapat memberikan kesaksian dari orang-orang yang kami layani terlepas dari LGBT. Kami tidak dapat membayangkan apa yang dirasakan sekian banyak orang tersebut ketika membaca butir-butir SP PGI di atas.

5. Masalah penafsiran
Dalam rangka meyakinkan pembacanya, pada butir 6 dan 7 dikutip ayat-ayat Firman Tuhan. Menarik ketika membaca pernyataan, “Penafsiran terhadap teks Kitab Suci berpotensi menghasilkan interpretasi yang sama sekali berbeda dari tujuan teks itu ditulis”. Ayat-ayat Alkitab yang dikutip pada kedua butir ini dipelintir dan diserongkan demi membenarkan LGBT. Pada satu sisi di butir 6, dikutip Kej.1:26-28; 2:18, 21-24, dan menuduh bahwa mereka yang menolak LGBT telah menafsir ayat itu secara salah. Menurut mereka, ayat itu “tidak ditujukan menolak keberadaan kaum LGBT”, tetapi menjelaskan “cikal bakal terjadinya institusi keluarga”. Bukankah penafsiran ini telah diserongkan dari makna penulis Alkitab? Benar, ayat itu bicara mengenai cikal bakal keluarga. Tetapi pertanyaannya, siapa dengan siapa? Bukan dengan binatang, meskipun kisah binatang dibahas pada ayat sebelumnya (Kej.1:25). Disana dijelaskan bahwa institusi keluarga pertama itu adalah laki-laki dengan perempuan. Lalu, pada sisi lain, pada butir 7, dikutip ayat-ayat di mana Alkitab mengkritisi sangat keras ibadah agama kesuburan Baal dan Asyera yang mempraktikkan perilaku seksual sesama jenis yang jahat di mata Tuhan (Hak.3:7; 2Raja.23:4; Ul.23:17-18). Tidak luput, dikutip juga peristiwa yang terkenal, Sodom (Kej.19:5-11). Demikian juga dengan penyembahan berhala Romawi (Rom.1:23-32). Namun sangat aneh, ketika mengutip ayat-ayat tersebut, penulis SP kembali memberikan penafsiran yang berbeda, bahwa itu bukan bicara soal penolakan LGBT. Padahal, mereka dengan jelas telah mengakui bahwa itu adalah praktik-praktik negatif yang dilakukan oleh kepercayaan kafir!

6. Masalah otoritas Alkitab: Alkitab sebagai Kanon
Sudah ditulis di atas bahwa SP menegaskan bahwa tidak ada masalah dengan LGBT. Apa yang menjadi dasar kesimpulan tersebut? Setelah memelintir atau menyerongkan ayat-ayat Alkitab, SP mengacu kepada berbagai pernyataan seperti WHO, Human Rights, serta berbagai penemuan studi medis dan kejiwaan. Apakah benar bahwa itu adalah penemuan medis yang dapat dipertanggungjawabkan? Sejauh mana para penulis SP mempelajari penelitian medis dan kejiwaan secara menyeluruh sehingga berani menyimpulkan bahwa LGBT “bukan pilihan, tetapi sesuatu yang given ?” Bagaimana dengan pernyataan sebuah organisasi pro-gay di Amerika Serikat bernama Parents and Friends of Lesbians and Gays yang menulis: " To date, no researcher has claimed that genes can determine sexual orientation...”. Jadi, mereka yang pro-LGBT pun tidak mengatakan bahwa perilaku LGBT itu dari ‘sono’, atau given.

7. Surat Pastoral yang salah. Sesat penafsiran, sesat pengarahan.
Setelah berupaya membenarkan LGBT dan secara tegas mengatakan bahwa itu bukan dosa, maka dalam butir 9 dan 10, SP menghimbau Gereja-gereja agar memberikan bimbingan pastoral kepada keluarga. Bukan untuk meluruskan perilaku LGBT, tapi untuk “menerima dan merangkul serta mencintai...yang berkecenderungan LGBT”. Jadi, yang digembalakan adalah keluarga yang dianggap bermasalah, bukan yang bermasalah itu sendiri.Mengapa bukan mengarahkan dan meluruskan perilaku LGBT? Bukankah mereka menderita secara fisik, mental-psikologis dan sosial sebagaimana disebut pada butir 11? SP ini bukan saja menghimbau keluarga, gereja dan masyarakat, tetapi juga Negara! Seharusnya dalam sikap menerima dan mengasihi pelaku LGBT, mereka juga didoakan dan dididik sehingga kembali ke jalan yang benar seperti Sdr. Samuel Wattimena dan yang lainnya.

C. Penutup ( butir 13-14 )
Sebagai penutup, SP menyimpulkan bahwa LGBT tidak ada masalah dalam dirinya sendiri (butir 13). Selanjutnya (butir 14), SP diakhiri dengan memberikan sebuah pernyataan yang sangat penting dan menarik untuk disimak. “Kiranya Gereja-Gereja terus menerus mengarahkan diri pada tuntunan Roh Kudus untuk memperdalam pemahaman dan memperkuat komitmen iman”. Lebih lagi, kalimat Selanjutnya menyatakan bahwa komitmen iman bukan untuk hidup benar, tetapi, “...memperkuat komitmen iman menyangkut penerimaan LGBT”. Ini artinya, memperkuat komitmen melakukan dosa, hidup dalam perbudakan dosa dan setan!  Padahal, Allah bersabda:  “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus” (Imamat 19:2). Demikian juga, Perjanjian Baru menyerukan tentang buah pekerjaan Roh “...yang menguduskan kamu dalam kebenaran” (2Tes.2:13).

KESIMPULAN
Setelah membahas Surat Pastoral (SP) MPH-PGI tersebut secara lengkap, maka sekalipun diupayakan secara ‘cerdik’ untuk menggiring pembaca, namun terlihat dengan sangat jelas adanya berbagai masalah: masalah logika, masalah penafsiran dan masalah lainnya, terutama masalah otoritas dan kewibawaan Alkitab.

Salah satu warisan berharga para reformator pada abad ke-16 adalah seruan Alkitab sebagai KANON. Itu berarti, Gereja, baik umat, terutama pemimpin harus menjadikan Alkitab sebagai ukuran dan standar kebenaran. Segala sesuatu harus diukur dari kebenaran Alkitab. Bukan sebaliknya! Alkitab menegaskan bahwa orang yang memutarbalikkan kebenaran, “akan menjadi kebinasaan mereka sendiri” (2Pet.3:16c). Soli Deo Gloria.