Thursday, 19 July 2018

MERESPONI 14 BUTIR SURAT PASTORAL PGI, 28 Mei 2016
A.n. MPH-PGI. Pdt. Dr. Henriette dan Pdt. Gomar Gultom

Pengantar:

1.Rekan-rekan Ytk, saya menggunakan judul Quo Vadis PGI?, ke-II adalah untuk membedakan artikel yang saya tulis di dalam buku saya, Rahasia Hidup Bahagia, artikel 71. Ketika itu, dikatakan adanya percepatan Sidang Raya ke-14, karena dicurigai adanya penyimpangan moral dari pimpinannya.

2.Apa yang terjadi kini? Sebagaimana saya tulis dalam status Facebook saya pada tanggal 21 Juni 2016 yang lalu, sebenarnya hal yang sama harus dilakukan kepada Pimpinan PGI yang sekarang. Alasannya, bukan masalah penyimpangan moral, tetapi lebih berat lagi, penyimpangan ajaran.

3.Setelah tiga hari ini saya memposting soal Surat Pastoral PGI, saya bersyukur kepada Tuhan dan berterimakasih kepada semua saudara atas respons yang diberikan. Sungguh, respons itu di luar dugaan saya. Sebagai contoh, artikel berjudul SURAT TERBUKA KEPADA SEKJEN PGI. Status itu ditanggapi lebih ramai lagi: 579 likes, 181 comments dan 260 shares. Sungguh, itu adalah jumlah yang tidak sedikit.

4.Sebagaimana saya tuliskan kepada Sdr. Gomar Gultom, umat yang meresponi artikel tersebut mengungkapkan berbagai emosi, seperti menyesal, kecewa, marah, bahkan ada yang menulis, “PGI gila”, “PGI dibayar, disponsori siapa?”Ada juga yang mengusulkan seperti seruan saya pertama, agar pimpinan PGI, atau anggota MPH PGI mengundurkan diri.

5.Dari ratusan respons yang diberikan, beberapa rekan mengusulkan agar saya memberikan ulasan lebih lengkap. Itu sangat diperlukan, khususnya oleh jemaat yang bingung. Itulah yang saya lakukan sekarang. Kiranya berkenan dan menjadi berkat bagi rekan-rekan semua.

Pembahasan:
- Sebuah Pengantar yang menarik

6.Surat Pastoral itu, terdiri dari 14 butir, yang dibagi menjadi empat: Pengantar (butir 1-3); Titik Tolak (butir 4-7). Rekomendasi (butir 8-12); Penutup (butir 13-14)

7. Memulai pengantar, dalam Surat Pastoral (SP) itu, sangat jelas dituliskan bahwa MPH-PGI sangat berterima kasih untuk adanya umpan balik dari Gereja-Gereja. Namun, ketika membaca isinya, yang terjadi adalah upaya menggiring dan menghimbau umat agar menerima mereka yang terlibat dalam LGBT sebagai orang yang tidak bermasalah, tidak berdosa.

8. Cerdik atau licik?
Dalam upaya tersebut di atas, SP dengan cerdik menyampaikan doktrin penciptaan dan kedaulatan Allah. SP mengatakan, “Manusia adalah gambar dan citra Allah” (butir 1), “Allah menciptakan manusia …beraneka ragam” (butir 2). Dari dua butir tersebut, SP berpendapat, “Bersikap positif dan realistis dalam keanekaragaman…saling menerima dan saling mengasihi” (butir 3). Jika membaca ketiga butir tersebut, saya berpikir tidak ada masalah. Hal itulah yang diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus. Jika demikian, di mana permasalahan dari SP tsb?

- Usaha Penyerongan
9. Tidak tahu atau tidak jujur?
Dalam butir 4 permasalahan mulai terjadi, barangkali tidak disadari pembaca. Mengapa? Dalam SP dikatakan, “Membicarakan kaum LGBT adalah membicarakan manusia yang diciptakan Allah yang sangat dikasihiNya”. Di sini timbul permasalahan, yang harus diwaspadai! Itu sebabnya, saya menulis di atas bahwa penulis SP cerdik atau licik. Dalam kisah penciptaan, apakah Allah menciptakan LGBT? Jawabnya, tentu tidak. Alkitab dengan sangat jelas mengatakan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan: “…laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka” (Kej.1:27). Ayat ini jelas dikutip juga dalam butir 8 SP. Istilah yang sama ditegaskan oleh Tuhan Yesus ketika ada masalah tentang perceraian. “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?” (Mat. 19:4). Dari kedua ayat tersebut, jelas disebutkan orientasi sex, yaitu laki-laki dan perempuan, bukan LGBT.

10. Masalah logika. Sudah biasa, maka bukan dosa?
Selanjutnya, pada butir 5, SP mengatakan bahwa “Keberadaan manusia dengan kecenderungan LGBT merupakan sebuah fenomena yang ada sejak masa lalu. LGBT bukan produk kebudayaan modern; bukan juga produk kebudayaan Barat. Fenomena LGBT ini ada dalam masyarakat kita…” Apa maksudnya pernyataan ini? Semakin jelas maksudnya ketika membaca butir 8 dan 13 yang mengatakan bahwa LGBT ” bukan sebuah pilihan, tetapi sesuatu yang terterima (given)” (butir 8). Lalu, “LGBT pada dirinya sendiri bukanlah sebuah persoalan. LGBT menjadi persoalan karena kitalah yang mempersoalkannya” (butir 13). Pernyataan dalam butir-butir di atas sungguh merupakan satu logika aneh atau bodoh? Apakah karena selama ini LGBT sudah ada di masyarakat kita, lantas itu menjadi tidak masalah? Bagaimana dengan pencuri, perampok, pembunuh, koruptor, bukankah mereka itu adalah satu realita yang sudah ada di masyarakat kita sejak dulu? Apakah mereka itu juga tidak masalah?

11. Perbudakan dosa.
Kelihatannya, para peserta MPH PGI yang membuat SP tersebut, melupakan doktrin kejatuhan manusia ke dalam dosa. Sejak Kej. 3 sudah dikatakan bahwa dosa masuk ke dalam seluruh dunia. Karena itu, akibat perbudakan dosa, manusia tidak lagi hidup seperti diinginkannya, tapi melenceng dari sasaran (hamartia). Alkitab menegaskan bahwa masalah dosa, bukanlah semata-mata karena ketidak mauan, tapi ketidakmampuan. Not able not to sin. Jadi, kecenderungan untuk bertindak menyimpang, seperti mencuri, merampok, membunuh, korupsi…dan LGBT, merupakan dosa, yang seharusnya dilawan dengan penyerahan penuh kepada Allah dan FirmanNya.

12. Fakta kemerdekaan dan kelepasan dari dosa.
Adanya perbudakan dosa dikisahkan oleh Samuel Wattimena, seorang perancang busana terkenal pada harian nasional Kompas 18-3-2001. Setelah dia bertobat dan mengalami kuasa Allah dia memberikan pengakuan, “Saya bukan tidak ingin berhenti, tetapi berulang kali kecebur lagi”. Meskipun demikian, Samuel Wattimena dimerdekakan. Banyak lainnya mengalami hal yang sama. Saya pribadi dapat menunjukkan orang yang saya layani terlepas dari LGBT. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana sekian banyak orang yang dilepaskan tersebut, membaca SP PGI tersebut di atas.

13. Masalah penafsiran.
Dalam rangka meyakinkan pembacanya, pada butir 6 dan 7 dikutip ayat-ayat Firman Tuhan. Menarik ketika membaca pernyataan, “Penafsiran terhadap teks Kitab Suci berpotensi menghasilkan interpretasi yang sama sekali berbeda dari tujuan teks itu ditulis”. Saya katakan menarik, karena itulah yang sedang dilakukan di dalam SP ketika mau mencoba membenarkan LGBT. Atau meminjam istilah seorang teman, mereka memlintir, menyerongkan ayat-ayat Alkitab. Pada satu sisi di butir 6 , dikutip Kej.1:26-28;2:18, 21-24, dan menuduh bahwa mereka yang menolak LGBT telah menafsir ayat itu secara salah. Menurut mereka, ayat itu “tidak ditujukan menolak keberadaan kaum LGBT”, tapi menjelaskan “cikal bakal terjadinya institusi keluarga”. Bukankah penafsiran ini telah diserongkan dari makna penulis Alkitab? Benar, ayat itu bicara mengenai cikal bakal keluarga. Tetapi pertanyaannya, siapa dengan siapa? Bukan dengan binatang, meskipun kisah binatang dibahas pada ayat sebelumnya (Kej.1:25). Di sana dijelaskan bahwa institusi keluarga pertama itu adalah laki-laki dengan perempuan. Lalu, pada sisi lain, pada butir 7, dikutip ayat-ayat di mana Alkitab mengkritisi sangat keras ibadah agama kesuburan Baal dan Asyera yang mempraktikkan perilaku seksual sesama jenis yang (Hak.3:7; 2Raja.23:4; Ul.23:17-18). Tidak luput, dikutip juga peristiwa yang terkenal, Sodom (Kej.19:5-11). Demikian juga dengan penyembahan berhala Romawi (Ro.1:23-32). Namun sangat disayangkan, ketika mengutip ayat-ayat tersebut, penulis SP kembali memberikan penafsiran yang berbeda, bahwa itu bukan bicara soal penolakan LGBT. Padahal, mereka dengan jelas telah mengakui bahwa itu adalah praktik-praktik negatif yang dilakukan oleh agama kafir! Apa yang terjadi dengan para doctor yang menulis SP tersebut? Kiranya tidak berlaku apa yang dikatakan rasul Paulus bahwa mereka telah dibutakan oleh ilah zaman ini (2Kor.4:4).

14. Masalah otoritas Alkitab. Alkitab sebagai Kanon.
Sudah ditulis di atas bahwa SP menegaskan bahwa LGBT tidak ada masalah. Apa yang menjadi dasar menyimpulkan demikian? Setelah memelintir atau menyerongkan ayat-ayat Alkitab, SP mengacu kepada berbagai pernyataan seperti WHO, Human Rights dan penemuan medis dan kejiwaan. Apakah benar bahwa itu adalah penemuan medis yang dapat dipertanggung jawabkan? Sejauh mana MPH PGI mengadakan penelitian medis dan kejiwaan secara menyeluruh sehingga berani menyimpulkan bahwa LGBT “bukan pilihan, tetapi sesuatu yang given?” Bagaimana dengan pernyataan sebuah organisasi pro-gay di America? Organisasi yang bernama, "Parents and Friends of Lesbians and Gays” menulis: "To date, no researcher has claimed that genes can determine sexual orientation…”. Jadi, mereka yang pro LGBT pun tidak mengatakan bahwa itu sebagai dari ‘sono’, given.

15. Surat Pastoral yang salah. Sesat penafsiran, sesat pengarahan.
Setelah berupaya membenarkan LGBT dan secara tegas mengatakan bahwa itu bukan dosa, maka dalam butir 9 dan 10, SP menghimbau Gereja-gereja agar memberikan bimbingan pastoral kepada keluarga. Untuk apa? Bukan untuk meluruskan perilaku LGBT, tapi untuk “menerima dan merangkul serta mencintai…yang berkecenderungan LGBT”. Jadi, yang digembalakan adalah keluarga bermasalah, bukan yang bermasalah itu sendiri. Mengapa bukan mengarahkan dan meluruskan perilaku LGBT? Bukankah mereka menderita secara phisik, mental-psikologis dan social sebagaimana disebut pada butir 11? Betapa menyesatkan himbauan dan ajakan tsb. Mereka bukan saja menghimbau keluarga, gereja dan masyarakat, tetapi juga Negara! Seharusnya dalam sikap menerima dan mengasihi pelaku LGBT, mereka juga didoakan dan dididik sehingga kembali ke jalan yang benar seperti sdr Samuel Wattimena tsb di atas dan banyak yang lainnya.

Penutup
16. Sebagai penutup, SP menyimpulkan bahwa LGBT tidak ada masalah dalam dirinya sendiri (butir 13). Selanjutnya (butir 14), SP diakhiri dengan memberikan sebuah pernyataan yang sangat penting dan menarik untuk disimak. “Kiranya Gereja-Gereja terus menerus mengarahkan diri pada tuntunan Roh Kudus untuk memperdalam pemahaman dan memperkuat komitmen iman”. Namun, sangat disayangkan, saya ragu, sangat tidak yakin bahwa penulis SP tersebut sedang dipimpin Roh Kudus. Mengapa? Hal itu terlihat dari reaksi negatif dari umat Allah, seperti saya tulis di atas. Lebih lagi, kalimat selanjutnya membuktikannya, di mana komitmen iman bukan untuk hidup benar, tetapi, “…memperkuat komitmen iman menyangkut penerimaan LGBT”. Mengerikan! Ini artinya, memperkuat komitmen melakukan dosa, hidup dalam perbudakan dosa dan setan! Padahal, Allah bersabda: “Kuduslah kamu, sebab Aku, Tuhan Allahmu, kudus” (Imamat 19:2). Demikian juga, Perjanjian Baru menyerukan tentang buah pekerjaan Roh “…yang menguduskan kamu dalam kebenaran” (2Tes.2:13).

17. Setelah membahas Surat Pastoral (SP) MPH-PGI tersebut secara lengkap, maka sekalipun diupayakan secara ‘cerdik’ untuk menggiring pembaca, namun terlihat dengan sangat jelas adanya berbagai masalah: masalah logika, masalah penafsiran dan masalah lainnya, terutama masalah otoritas dan kewibawaan Alkitab. Salah satu warisan berharga para reformator pada abad ke-16 adalah seruan Alkitab sebagai KANON. Itu berarti, Gereja, baik umat, terutama pemimpin harus menjadikan Alkitab sebagai ukuran, standard kebenaran. Segala sesuatu harus diukur dari kebenaran Alkitab. Jangan dibalik! Alkitab menegaskan bahwa orang yang memutarbalikkan kebenaran, “akan menjadi kebinasaan mereka sendiri” (2 Pet.3:16c).
- Soli Deo Gloria.-