Monday, 24 September 2018

Kebangkitan Kristus merupakan keunikan dan keistimewaan Kekristenan yang tidak dapat disejajarkan dengan agama dan kepercayaan mana pun. Karena itu, nampaknya ada kelompok yang mencoba menggugat ajaran tersebut.
Apakah kebangkitan Kristus perlu dibuktikan? Sebelum seseorang membuktikannya, perlu kita perhatikan bahwa masalah penolakan kepada kebangkitan Yesus, bukanlah karena kekurangan bukti. Sesungguhnya, masalah utama bukan pada kurangnya informasi yang dimiliki untuk menerima kebangkitan tersebut, tetapi terletak kepada kurangnya kemampuan mengimani semua informasi yang ada.

Ini adalah satu kenyataan yang tidak dapat disangkal, bahwa seluruh Perjanjian Baru ditulis dari perspektif kebangkitan Yesus Kristus. Sebenarnya, apa yang dituliskan oleh penulis-penulis Perjanjian Baru, khususnya Matius, Markus, Lukas dan Yohanes merupakan bukti nyata dan konkrit, sesuai dengan fakta dan realita yang mereka alami sendiri. Fakta-fakta itu juga yang disodorkan oleh rasul Paulus dalam 1Kor.15, yaitu satu pasal  yang sedemikian jelas dan gamblang menguraikan fakta kebangkitan Kristus serta implikasi dari kebangkitan tersebut.
Namun apa yang terjadi? Ada orang yang tetap tidak mampu menerima fakta dan bukti tersebut. Sebaliknya, mereka mencoba membangun  teori baru, sesuai dengan apa yang mereka ‘imani’ untuk melawan fakta kebangkitan tersebut. Itulah yang dicoba dilakukan oleh segelintir filsuf dan teolog radikal, seperti David Hume dan Gerd Ludemann.  Ludemann, professor Perjanjian Baru dari Universitas Gottingen -yang pemikirannya dipengaruhi oleh David Hume- menolak peristiwa kebangkitan Kristus tsb (What really happened to Jesus? A Historical Approach to the Resurrection, 134-5). Jadi, masalah kebangkitan, sekali lagi, adalah masalah iman atau kegagalan untuk percaya.
 
Dasar yang kokoh
Berbeda dengan Gerd Ludemann tersebut di atas, banyak ahli yang menerima dan mensyukuri kebangkitan Yesus tersebut. Sebagai contoh adalah seorang teolog besar dan terkenal dari Inggris, N.T, Wright. Dalam bukunya setebal bantal itu, dia menegaskan bahwa kebangkitan Kristus yang bersifat tubuh merupakan pusat iman dan perilaku dari orang Kristen mula-mula. (The Resurrection of the Son of God, 685).
Demikian juga, William Lane Crage pada kesempatan debat terbuka dengan Gerd Ludemann, tanggal 18-9-1997, di St Thomas More Society of Boston College, menegaskan bahwa laporan keempat Injil dapat dipercaya (Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus) . Bahkan, seorang non Kristen Yahudi -yang ahli dalam Perjanjian Baru- yaitu Pinchas Lapide dalam bukunya The Resurrection of Jesus: A Jewish Perspective  telah menyatakan bahwa dia percaya bahwa Yesus dari Nasaret bangkit secara tubuh dari maut.
Jika demikian halnya, apa makna kebangkitan tersebut bagi kita orang percaya? Apakah ada hubungannya dengan kita? Untuk itu, kita dapat membaca penegasan Yesus sendiri yang diucapkan sebelum kematian dan kebangkitanNya. “Karena Aku hidup, dan kamupun akan hidup” (Yoh.14:19b). Jadi, dari pernyataan Yesus tsb jelas sekali adanya hubungan yang erat antara kebangkitan Yesus dan kebangkitan orang percaya. Sebagaimana rasul Paulus juga menegaskan bahwa Yesus menjadi yang pertama bangkit, “Kristus sebagai buah sulung; sesudah itu mereka yang menjadi milikNya pada waktu kedatanganNya” (1Kor.15:23).
Perlu kita perhatikan bahwa sekalipun di dalam agama-agama lain kita menemukan ajaran yang kelihatannya sama dengan Kekristenan, namun  dalam hal kebangkitan, ada perbedaan yang sangat mendasar. Memang, agama lain juga mengajarkan tentang adanya kebangkitan orang mati. Artinya, agama lain juga mengajarkan adanya kehidupan setelah kematian. Tetapi yang menjadi pertanyaan besar adalah siapakah dari mereka yang telah bangkit? Siapakah dari pendiri-pendiri agama tsb yang telah bangkit? Jawabnya, tidak ada. Jika belum ada yang bangkit, lalu apa dasarnya umat dari agama-agama tsb mengimani dan berharap kepada kebangkitan setelah kematian?
Bagaimana dengan kekristenan? Kebangkitan bukan sekedar ide, tetapi fakta dan realita. Kritus telah bangkit. Itulah sebabnya kita mengerti bahwa rasul Paulus menuliskan berita kebangkitan itu merupakan hal yan sangat penting, (1Kor.15:3-4), di mana hal itu menjadi dasar yang kokoh dan jaminan pasti  bagi kebangkitan orang percaya (ay.12 dstnya).  Itu menjadi kekuatan menjalani hari esok.
Itulah yang dialami oleh Gary Habermas, seorang yang menerima gelar doktor dari Emmanuel College, Oxford dengan disertasi kebangkitan. Pada tahun 1995, Habermas sangat terpukul dan sedih akibat kepergian Debbie, istrinya yang meninggal akibat penyakit kanker. Tiga tahun kemudian, Habermas menulis: “Kehilangan istri saya adalah pengalaman paling menyakitkan yang pernah saya hadapi. Namun jika kebangkitan Kristus dapat  menolong saya melewatinya, itu dapat menolong saya melewati apa saja. Itu bagus untuk tahun 30 Masehi, itu bagus untuk tahun 1995, itu bagus untuk tahun 1998, dan itu bagus untuk waktu-waktu seterusnya” (Lee Strobel: The Case for Christ, 327).
Kiranya pengalaman Habermas itu juga menjadi pengalaman kita, sehingga segala macam kesulitan, tantangan, jalan buntu bahkan ketidakmungkinan yang kita hadapi, di dalam kuasa kebangkitanNya, kita sanggup menghadapinya. Bukankah Kebangkitan itu sendiri adalah ketidakmungkinan yang menjadi mungkin.

Cat. Diambil dari  buku Rahasiswa Hidup Bahagia, artikel 46.