Saturday, 26 May 2018

College, Univ. Cambridge. Senin 26-5-03, jam 17.30- 19.00

Pertemuan yg dipandu oleh Prof Graham Stanton dari Faculty of Divinity Camb University tsb diberi judul dengan "CONVERSAZIONE". Prof Stanton mengatakan bahwa pertemuan tsb adalah merupakan kesinambungan dari seminar yg dipimpin oleh Prof Martin Hengel, juga dari Univ Tubingen, pada tahun yang lalu, yang juga diadakan di Fakultas Theologia Universitas Cambridge.

Sebagaimana judulnya, maka sifat dari pertemuan itu adalah bersifat dialog- tanya jawab. Karena itu, formasi peserta diatur duduk secara melingkar. Sebelum dialog/tanya jawab dimulai, Stanton memulai dengan memberi introduksi yg cukup panjang tentang pembicara. Stanton menyebut berbagai artikel dan buku yang telah ditulis oleh Stuhlmacher, yang sangat diterima secara luas di seluruh dunia, khususnya buku yang telah diterjemahkan ke bhs Inggris.

Beberapa diantaranya adalah: Romans, Biblical Theology of the New Testament, Historical Criticism and the Theological Interpretation. Setelah itu, Stanton mengatakan kekagumannya terhadap Stuhlmacher: "He is one of the two giants from Tubingen University, another one is Martin Hengel... "

Setelah introduksi tersebut, Stanton memberikan pertanyaan: "Sejauh mana Anda mengikuti E Kasemann, dan di mana Anda meninggalkannya?" Menarik sekali, Stuhlmacher memerikan perbedaannya terhadap Kasemann dalam waktu yang cukup lama. Salah satu yg dikatakannya adalah bahwa Kasemann tidak melihat Roma 3:21-26 sebagai penebusan Yesus Kristus bagi umatNya, tapi dia hanya melihat itu sebagai penggenapan dari Hukum Taurat I.

Selanjutnya, beliau menegaskan hal berikut ini:

Kita harus teguh melihat bahwa Ro.3:21-26 adalah sungguh2 doktrin penebusan melalui pengorbanan Tuhan Yesus. (sama dengan seminar yg dia bawakan di Tyndale House)

Kita harus melihat bahwa Gereja mula-mula memperlakukan Perjanjian Lama dan Septuagint (LXX) sebagai firman Allah yang sangat otoritatif. Di samping itu, kemudian gereja mula-mula menerima kanon PB sebagai setara dengan PL yang diterima sebagai Kitab Suci atau the Holy Scriptures.

Injil Lukas juga harus diperlakukan secara serius. "Saya tahu 8,5 dari 10 ahli akan mengatakan bahwa itu tdk ditulis oleh Lukas". katanya. Kemudian beliau mengacu kepada satu disertasi doktoral di Tubingen yg berdasarkan prologue Luke (pembukaan Lukas, ayat 1-4). Dalam research itu terdapat satu pandangan yang sangat meyakinkan bahwa memang Lukaslah yang menulis kitab itu. Hal itu disebabkan bahwa memang di zaman itu, dokter dengan tunggangannya lazim travel ke sana ke mari untuk mengobati pasien. Dalam kesempatan itulah dia dapat mengumpulkan berbagai data (sebagaimana ditegaskan Lukas) tentang siapa Yesus. Beliau juga mengacu kepada Prof Martin Hengel untuk melihat "we" language dalam Kisah para Rasul secara serius.

Menjawab pertanyaan seorang ahli PL tentang bagaimana Stuhlmacher melihat PL dan PB dalam konteks Allah berfirman, beliau mengatakan keyakinannya bahwa Allah memang berfirman kepada umatNya Israel di PL. Peristiwa2 di PL harus dilihat sebagaimana dia dituliskan, termasuk peristiwa terbelahnya laut Teberau. Dengan mata melotot dan dgn nada tinggi beliau bertanya, "Siapakah kita sehingga kita bisa mengatakan bahwa hal itu tidak benar2 terjadi?" Kemudian ditegaskannya: "As long as we don't know better than the previus generations, let's accept the traditional's views, and let's celebrate them". Beliau juga menegaskan bahwa Allah berbicara kepada umatNya di dalam PB melalui Yesus. "He was and is the only revelation of God", tandasnya. Semua sabda dan kehidupan Yesus telah dituliskan secara narrasi oleh Synoptic yang kemudian dilengkapi dengan penafsiran spiritual/theologis oleh Injil Yohanes".

Ketika saya mengacu kepada bukunya "Jesus of Nazareth" yg sangat berkesan bagi saya pribadi, khususnya dalam kaitannya dengan Yesus sejarah, maka saya menanyakan bagaimana dia berespon terhadap Jesus Seminar yang hanya mengakui 7 ayat dalam Injil Synoptik sebagai yg asli. Dan bagaimana pula dia berespon thdp theolog yang bukan saja tdk mengakui keallahan Yesus, tetapi juga mempertanyakan eksistensinya (dengan menanyakan: "Did Jesus ever exist?"). Pertama, beliau mengatakan bahwa Yesusnya the Jesus Seminar hanyalah seorang manusia aneh yang bernama Yesus dari Galilea. Tapi itu bukan Yesusnya Alkitab, itu bukan Yesus yang digambarkan oleh para rasul2. "Itulah sebabnya kita harus memperlakukan PB kita secara sungguh2. Kita harus membaca tulisan mereka secara sungguh2 sebagaimana mereka memaksudkannya. Kita juga harus hati2 terhadap segala sikap prejudice kita, bahwa seakan-akan semuanya itu ditulis dari kaca mata postresurrection, yg merupakan karangan rasul-rasul semata". Dengan mata agak terbelalak (sebagaimana pak Tong kalau lagi melotot dimimbar; red) dan juga dengan nada tinggi, beliau bertanya: "If the New Testament was not treated as a primary resource in the early Churches, I really want to ask, `Who pruduced that book, and for whom and under what circumstances', please if anybody could answer me". Beliau menegaskan bahwa kita tidak menemukan fakta bhw orang Yahudi di zaman dulu dan sekarang menciptakan cerita yang sama atau sejenis sebagaimana tertulis di dalam kanon PB. Tentang the Jesus Seminar, beliau kemudian mengatakan, "This is a good example of how the Bible was treated wrongly. The Jesus Seminar concentrated only to what they wished Jesus to say". Selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa pernyataan Alkitab itu tidak semuanya post easter term. Beliau mengacu kepada istilah Bapa, di dalam doa Bapa kami, yg sungguh merupakan pre-easter, tanpa memberi penjelasan. Selanjutnya beliau mengkritik theolog yang memandang injil Yohanes sebagai tdk memiliki historicity. Beliau kemudian bertanya: "Bagaimana Anda menjelaskan tentang banyak hal detail di dalam Injil Yohanes, yang merupakan karya dari saksi mata? Perhatikan detailnya kolam Bethesda di Yoh.5, kolam Siloam, lembah Kidron, narrasi penderitaan dan penyaliban Tuhan Yesus yang penuh dengan fakta2 detail..."

Karena masih penasaran dgn jawaban beliau tsb, setelah selesai acara, saya melanjutkan dengan pertanyaan pribadi tentang mengapa orang sampai kepada kesimpulan bahwa Yesus itu tidak pernah ada. Beliau menjawab bahwa itulah masalah mereka yang datang dengan pendekatan, apa yg disebut dengan pencerahan; kecuali akalnya benar2 diyakinkan, dia tdk mau menerima. Lalu beliau menyebut beberapa ahli di dunia, spt E.P. Sander, yg mengatakan dgn tegas kepadanya, bhw memang dia akan terus kritis terhadap semua pernyataan Alkitab. Jika tdk masuk akal, dia akan menolak! Kalimat terakhir ini membuat saya semakin memahami nasehat beliau kepada saya mengakhiri supervisi dengannya di pagi hari. Beliau mengatakan, "Sementara sdr membaca semua pandangan para ahli tersebut, sdr harus selalu berhati-hati agar jangan bergantung kepada mereka. Tetap teliti dan bersandar kepada apa yang dikatakan oleh Injil Yohanes. Dengan demikian, sdr akan benar2 mempresentasikan The Glory of Jesus According to John, not according to scholars".

Pdt Mangapul Sagala: Tyndale House, 36 Selwin Gardens
Cambridge CB3 9BA, UK.Tel:44-01223-359102 (6-8 am; 8-10 pm)
Email:This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.