Monday, 11 December 2017

Saudara/i ykk,

Selama seminggu, dari tgl 16-23/6 yl saya memiliki kesempatan mengadakan research di Pontifico Institutio Biblico, Roma. Ini kesempatan yg saya gunakan bersamaan dengan undangan melayani di kebaktian bulanan masyarakat Kristen (protestan dan Katolik) di KBRI Roma. Saya mengirimkan ringkasan kesaksian pak Dubes, yg diucapakan beliau dlm kata sambutan setelah ibadah selesai.
Smg menjadi berkat bagi kita semua. Mari kita mendukung beliau dalam menjalankan pengabdiannya sebagai Duta Besar RI di kota Roma.

Salam hangat,

Pdt Mangapul Sagala.

-------------------------

Ringkasan sambutan dan kesaksian pak Freddy Numberi selama kurang lebih 40 menit di KBRI Roma, Minggu 22-6-03.

Refleksi Hidup Berserah Kepada Tuhan

Oleh: Dubes KBRI, Roma, Jend (purn) Freddy Numbery.

Saudara/i sekalian, apa yang saya saksikan malam ini adalah merupakan refleksi firman Tuhan yang baru saja kita dengarkan bersama, bahwa hidup berserah kepada Tuhan, memang adalah hidup yang terindah. Tidak ada yang dapat membahagiakan hidup kita selain kita berserah sepenuhnya kepadaNya, apapun tugas yang kita kerjakan. Karena jabatan dan kekayaan tidak pernah memberi kebahagiaan sejati kepada kita.

Saya sangat bersyukur kita menikmati ibadah bulanan kita di tempat ini. Selama ini belum pernah ada acara kekristenan di sini, baik Natal, maupun paskah. Tetapi saya sungguh tergerak untuk memulainya. Karena saya menyadari, bahwa saya menjadi Dubes adalah karena pilihan Tuhan. Kalau karena kebaktian ini maka jabatan saya mau dicopot, malam ini juga saya siap.

Hidup berserah sebagaimana Firman Tuhan tegaskan tadi membuat hati saya bergetar dan pikiran juga teringat akan banyak peristiwa dalam hidup saya.

Saya dipensiunkan dari ABRI (angkatan laut) termasuk dini, usia saya baru 50 thn, biasanya usia pensiun adalah 55 thn. Saya menerima itu dengan penyerahan. Ketika saya mau menjadi gubernur (di Papua, red), saya didatangi utusan partai2 tertentu. Mereka berkata, “Pak Numberi, kita ingin spy bapak menjadi Gubernur yad, menggantikan pak Patipi. Untuk itu kita harus menyediakan sekian milyard uang...” Mendengar itu, saya langsung berkata, “Sdr2, silakan bawa uang Sdr keluar dari ruangan ini. Jangan bicara uang untuk jabatan gubernur. Kalau memang Tuhan mau memilih saya menjadi gubernur, biarlah itu terjadi. Tidak ada yg bisa merintangi rencanaNya. Bahkan setan sekalipun akan kucar kacir jika kita berserah kepadaNya. Karena itu, saya tdk mau gubernur karena uang...”. Jadi, malam ini saya menegaskan, saya gubernur tidak mengeluarkan satu sen pun.

Saya baru menjabat 2 thn sebagai gubernur dengan segala rencana di pikiran saya, pada jam 2 pagi, HP saya berbunyi, ternyata saya ditelpon sama pak Wahid dan berkata: “Pak Numberi, kita baru saja rapat di Jakarta. Kita putuskan membentuk kabinet pelangi yg mencerminkan perwakilan dari Aceh sampai Papua. Karena itu, kita memutuskan agar pak Numberi menjadi salah seorang menteri”. Mendengar itu, saya bergumul dengan doa, saya tdk langsung menerima. Dalam pergumulan itu, saya konsultasi dengan para senior saya di angkatan. Mereka memberi nasehat praktis, “Pak, kita ini dibedakan dari masyarakat sipil adalah karena satu hal: loyalitas. Karena itu, yah, loyallah kepada atasan...” Kalimat sederhana itu membuat saya kemudian menelp pak Wahid mengatakan siap diperintahkan apa saja. Eh, baru setahun saya jadi menteri, saya dicopot lagi!

Saya mau berkata kepada Saudara/i malam ini, jika saya mau sakit hati, sebenarnya saya bisa. Dipensiunkan cepat, jabatan Gubernur dihentikan di tengah jalan, setahun jadi menteri sudah dicopot. Tapi ketika secara manusia saya bergumul, saya teringat penderitaan Tuhan Yesus di kayu salib. Dia yg sedemikian menderita, dihina dan disalahmengerti, tetapi Dia tetap berserah. Maka saya pikir, belum ada artinya penderitaan yg saya alami dibandingkan Tuhan Yesus.

Dalam pergumulan saya, memang saya melihat khotbah pada Yoh.17:4 tadi adalah sangat penting (“Aku telah mempermuliakan Engkau ya Bapa, dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yg telah Engkau percayakan kepada saya...”). Bagi saya, itulah blueprint/bingkai kehidupan kita. Allah telah merancangkan rencanaNya kepada kita masing2. Kita tidak tahu rencana itu secara pasti dan jelas. Tetapi satu hal kita dituntut: berserah, dan memuliakan Tuhan dengan mengerjakan sebaik-baiknya semua tugas yang Allah percayakan kepada kita. Jangan pernah bekerja karena imbalan jasa atau uang. Itu tidak berkenan kepada Tuhan. Benar. Tanyakan semua pengusaha di Papua ketika saya jadi Gubernur. Saya bilang sama mereka, “Buat apa saudara memberi saya uang itu? Saya sdh merasa cukup dengan apa yang ada pada saya. Berikanlah uang itu kepada mereka yg memerlukan. Dengan demikian, Saudara sudah membantu saya untuk memperbaiki kehidupan masyarakat kita yang masih lemah ini.

Saya tidak tahu berapa lama saya jadi Dubes di kota Roma ini. Mohon doa Bapak/Ibu/Sdr/i sekalian supaya diberi kekuatan. Marilah kita bersama-sama mengikuti Tuhan Yesus, yang walaupun Dia sendiri adalah Allah, tetapi telah mengikuti blueprint kehidupanNya selama Dia di dunia ini....

Amin.

(Kiranya ringkasan kesaksian ini berguna bagi kita. Mari kita mendoakan beliau spt harapannya. Setelah kesaksian itu, semua yg hadir makan malam bersama, juga dengan tamu2 yg juga datang yg diperkenalkan malam itu, spt keluarga Jenderal (?) (purn) Gunadi yg katanya satu angkatan dengan beliau. Ada juga utusan Deplu, boru Manurung (yg katanya kenal sama pak Partogi Samosir) yg mau konferensi. Setelah itu, pak Dubes terus menceritakan pengalaman2 kerohanian dan suka dukanya selama mengabdi di republik ini. Percakapan berakhir sekitar jam 22.malam, karena diingatkan pak Supir harus ke hotel utk acara selanjutnya.

Pdt Mangapul Sagala
Tyndale House
36 Selwin Gardens
Cambridge CB3 9BA, UK.
Tel:44-01223-359102 (6-8 am; 8-10 pm)