Thursday, 19 July 2018

Cambridge, 27-5-03 (9.00-10.00 pagi)

Oleh: Mangapul Sagala.

- MS. "Selamat pagi pak, saya bersyukur sekali dapat bertemu dgn Bapak pagi ini. Saya tdk pernah menduga bahwa saya akan bertemu secara pribadi dengan seorang guru besar yg sangat terkenal. Buku2 bapak sangat menjadi berkat bagi saya, dan telah saya gunakan dalam research2 saya terdahulu.

- PS: Benarkah demikian? Buku apa misalnya?

- Khususnya tafsiran kitab Roma yg saya gunakan dlm research pd wkt yl. Buku lainnya yg terkesan adalah Jesus of Nazareth. Saya terkesan ketika bapak membahas ttg Yesus mengubah air menjadi anggur. Di sana Bapak mengatakan bhw kita tdk cukup melihat T. Yesus berkuasa mengubah air menjadi anggur. Itu hal yg sederhana. Tetapi kita harus tiba kepada kesimpulan, bhw di mana pun kita minum anggur... krn kita tdk pernah tahu dari mana sumbernya anggur itu, kita harus dapat menghubungkannya dgn Yesus, sebagai sumber anggur tsb. Saya juga merasa lucu pak dgn cerita bapak kemarin di Univ. Camb, dalam session "CONVERSAZIONE" di mana bapak mengatakan bhw para ahli harus hati2 menulis buku, karena semua pengajaran yg salah yg mereka bukukan, kelak di akhir Zaman akan disuruh baca ulang semua oleh Tuhan Yesus...Apakah memang benar demikian? (sambil tertawa).

- Tertawa terbahak-bahak...

- Begini pak, saya akan mulai dgn pertanyaan2 saya tentang pergumulan research saya selama ini (saya akan pilih saja yg relevan dgn audience kita ini; red) Judul thesis saya adl The Glory of Jesus in John. Dlm research sejauh ini, saya melihat bhw kata "doksa" (kemuliaan) itu sangat menonjol dalam tulisan2 Yohanes. Bagaimana menurut Bapak?

- Ya, benar. Yohanes sangat berbeda dengan penulis Synoptik. Di sini kita menemukan keunikan Injil Yohanes.

- Dapatkah bapak menjelaskannya lebih lanjut?

- Seluruh Injil Synoptik hanya menulis narrasi kehidupan Yesus. Tetapi setelah Yesus dikisahkan oleh Synoptik bahwa Yesus mati disalibkan, di sini terjadi salah pengertian, di mana orang2 Yahudi berkesimpulan, kalau begitu Yesus itu dikutuk oleh Allah. Itulah sebabnya, bbrp puluh tahun kemudian, Yohanes merasa perlu meluruskan pandangan yg salah tsb. Ada musuh2 kekristenan, khususnya yg anti Mesias- yg perlu disanggah.

- Apakah itu yg membuat Yohanes sangat berbeda mempresentasikan kematian Yesus?

- Tentu. Sdr lihat, spt telah saya katakan, dlm Synoptik, kematian Yesus hanya dinarrasikan tanpa memberi interpretasi theologis spt cara Yohanes. Di dalam Yohanes, kematian Yesus bersifat aktif dan inisyatif. Bahkan Sdr dpt memperhatikan seruan kemenangan Yesus di kayu salib itu. "Thus, this was not a curse, it was a victory". Tentu musuh2 kekristenan ketika itu bisa saja tetap tdk menerima penegasan Yohanes, namun demikian, Yohanes tetap menegaskan, "Kami telah melihat kemuliaanNya" (Yoh.1:14).

- Kelihatannya Yohanes sangat meninggikan Yesus dengan konsep kemuliaannya. Mulai dari pendahuluan Injil (Yoh1) kesan itu sangat jelas, bahkan di ayat permulaan saja sdh muncul Yesus yg sedemikian ditinggikan. Menurut research saya pd wkt yl (ketika mengerjakan M.Th, red), saya menyimpulkan bahwa ayat 14 merupakan klimaks dari Prologue of John. Dan di ayat klimaks itu (14 itu) saya menyimpulkan bhw konsep "doksa" (kemuliaan) itu juga lah yg menjadi klimaksnya. (Saya menegaskan bhw dlm hal ini saya berbeda dgn Bultmann, yg melihat bhw klimaksnya adalah pd "daging", terjmh Indonesia: "manusia", red). Dan selanjutnya, konsep ini muncul terus menerus dlm Injil, spt Yoh.2, 7, 11, 12, 13... terus sampai ke fs 17. Dapatkah saya simpulkan bhw sebenarnya motif utama Injil Yoh adalah tema "kemuliaan" tsb?

- Saya setuju, tetapi saya perlu mendengar apa maksud Sdr dengan hal itu.

- Saya melihat bhw kata (doksa) yg diterjemahkan dari kata "kabod" (Ibr, PL) memiliki arti khusus dlm Injil Yohanes, sekalipun kata "kabod" itu dalam PL memiliki arti yg sangat luas (spt berat, kekayaan, kemashuran, kekuatan, kejayaan, dll, red) Dapatkah saya menyimpulkan bhw "there is a specific meaning of the term "doksa' for John?" I am referring to the power of God.

- Mengapa Sdr berkata demikian?

- Krn tema "kemuliaan" itu sering dikaitkan dgn "mukjizat/tanda" (shmeion), dan di dalam PL, memang Allah yg penuh dgn kuasa dan kemuliaan sering kali dimunculkan dgn perbuatan2Nya yg ajaib. Bukankah ketika Yoh mempresentasikan mukjizat2 Tuhan Yesus sampai 7x, adl sama dgn mengingatkan orang2 Yahudi kepada Allah di dalam PL? (Prof Stuhlmacher interupsi dgn mengatakan: "Sorry, saya belum mengadakan research ttg hal itu, I have nothing to say about that". (Saya kaget mendengar pengakuan tsb. Benar2 terbuka dan jujur dlm bertheologi, tdk ada pretensi, red) Saya lanjutkan dgn mengatakan: "Apalagi, setelah peristiwa mukjizat/tanda tsb, seringkali diikuti dengan kata percaya kepadaNya. Jadi saya melihat urutan yg dekat antara: Tanda/mukjizat- kemuliaan Yesus- Iman. Iman kepada Yesus yg adalah Mesias, Anak Allah.

- Ya, saya setuju that John has a specific meaning for the term "doksa". Saya setuju that "he had the concept of power in mind" -Dengan nada tegas, red- beliau melanjutkan: "... and it was not merely an ordinary power, it has to be understood to the extent of the full power of God. Hence, showing his divinity very clearly".

- Kalau begitu, bapak setuju bahwa sebenarnya, Injil Yohanes menegaskan ke Allahan Yesus?

- Ya, tentu saja. (dgn nada sangat tegas)

- Lalu bagaimana pandangan bapak terhadap theolog2 tertentu yang mengatakan bahwa penulis2 PB tidak pernah mengatakan Yesus sebagai Allah?

- Sambil menggelengkan kepala dan membuka kedua tangannya lebar-lebar, beliau mengatakan, "Baik, itu adalah hak mereka utk menyimpulkan, tetapi Sdr bisa lihat juga di dalam tulisan2 Paulus akan hal itu..."

- Bolehkah saya membandingkan pandangan bapak ini dgn theolog lainnya yg juga sangat mendunia?

- Silakan.

- Prof James Dunn, pernah mengatakan bhw penegasan Paulus di Fil 2 itu bukan bicara soal Allah. Dia menyebut itu "Adamic Christology".

- Dengan mata melotot dan nada tinggi, dia mengatakan, "Tdk ada itu yg namanya Adamic Christology, no such things in the Bible. Show me! It's non sense! Surat Filipi itu sedang bicara ttg "The pre- existence being of Jesus", dan keberadaan yg pre-eksistent itu hanya merupakan milik Allah. Kitab2 Yahudi banyak bicara soal itu. Baca I.Enoch, 42,43 dstnya. Memang di sana digambarkan kadang2 dgn hikmat (wisdom). Tetapi bukankah kemudian Yesus juga digambarkan oleh penulis2 PB sebagai yg penuh dgn hikmat? Jikalau kamu baca kitab Roma, ketika Yesus dibandingkan dengan Adam, itu bukan bicara soal kesejajaran, tapi Yesus jauh melampaui semua itu... pandangan spt itu adl sampah bagi saya". (sebenarnya wkt 45 menit sdh berakhir. Tetapi beliau terus bicara dgn semangat, red).

- Tetapi Dunn pernah menantang, "Apakah Yesus percaya kepada monotheistic God? (Allah yg esa?) sbgmn Judaisme? Jika dmkn, wajar kalau dia tdk disebut Allah. Krn hanya ada satu Allah.

- Ya, memang. Di sinilah problemnya ketika orang membaca Injil yg satu ini (maksudnya Yohanes, red). Apalagi orang2 Yahudi yg sangat kuat dgn monotheisticnya. Tetapi perhatikan, Yohanes kemudian mengatakan Yesus sebagai the Revealer (Pewahyu), Yoh.1:18). "Another way of saying, instead of God". Seakan-akan Allah dlm Injil Yoh mau mengatakan, "Well, if you believe in me, believe in Jesus, He reveals myself. Dialah satu2nya yg telah saya pilih mewahyukan diri saya". Dan perhatikan, itulah pernyataan2 Yesus yg kita baca dalam Injil Yohanes". Dstnya.......(Dalam bahasa Jerman, asistennya bicara kepadanya dan mengingatkan akan segera pergi dan mengakhiri diskusi)

- Terakhir pak, mungkin ada kalimat terakhir Bapak kepada saya.

- Baik, saya hanya ingin meningatkan bahwa Sdr research ttg Kristologi Yohanes, not Christology according to the scholars. Jadi, sementara Sdr research tulisan para ahli2 tsb, selalu uji pernyataan dan pandangan mrk dengan Injil Yohanes. "Always cling to John".

- Makasih pak, saya sangat bahagia dengan kesempatan diskusi ini, krn itu, bolehkah kita berdoa sebentar? Saya ingin berdoa juga utk seminar bapak sore nanti di Cambridge.

- Silakan.

- Berakhir.

Demikian ringkasan dari point2 wawancara dengan beliau. Kiranya berguna bagi kita semua. Spt kata seorang yg membaca posting ini (via Japri), kita memang dikuatkan membaca pandangan2 dari seorang yg sangat ahli spt ini. Kita doakan terus beliau agar selama beliau masih aktif (usianya sdh 73 thn, tapi masih semangat dan kelihatan energetik) dapat mempengaruhi theolog2 lain utk semakin lurus. Puji Tuhan, Dia sedang bekerja, juga sedang bekerja di sekolah2 theologia yg memproduksi theolog2, entah kelak mereka itu jadi hambaNya atau hamba yg lain. Semoga Eropah yg dikenal selama ini sebagai gudangnya theolog2 liberal semakin diubahkan menjadi theolog2 yg mengasihi Dia dan firmanNya.-

Pdt Mangapul Sagala: Tyndale House, 36 Selwin Gardens
Cambridge CB3 9BA, UK.Tel:44-01223-359102 (6-8 am; 8-10 pm)
Email:This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.