Monday, 11 December 2017

KEKRISTENAN DI MAUI (HAWAI)

Shalom bagi kita semua.

Doa dan harapan saya, saudara-saudaraku semua senantiasa dalam damai sejahteraNya memasuki hari pertama di Minggu ini.

Tadi pagi sy kembali beribadah di sini untuk kedua kalinya (hari ini masih hari MInggu, beda waktu 17 jam). Bagi banyak orang, Hawai adalah salah satu tempat yang paling indah.Tidak heran jika kita menemukan di tempat ini orang-orang dari daerah lain di Amerika dan Kanada pindah dan menetap di Hawai. Barangkali, mengingat daerah ini adalah daerah wisata, kita akan menduga bahwa pulau ini akan semakin sekuler, karena itu, tidak banyak orang yang beribadah. Ternyata tidak demikian.

Mari kita memuji Tuhan atas pekerjaan RohNya yg menggerakkan umatNya beribadah kpdNya. Sungguh bersyukur menyaksikan bhw Gereja dipenuhi oleh umat, termasuk anak-anak muda. Minggu yl sy menghadiri Hope Church, suatu Gereja yang pendekatannya seperti ibadah di persekutuan, tidak formal. Penuh dengan pujian diiringi seperangkat alat-alat musik, dengan tepuk tangan dan berdiri. Pendeta berkhotbah dengan pakai baju pendek tangan, pakai jeans. Gereja yang berkapasitas sekitar 150 org tersebut penuh. Itu adalah ibadah kedua. Tadi pagi, saya ke Gereja St Theresia. Gereja Katolik, dengan pendekatan ibadah agak formal, di mana pastor yang melayani pakai jubah. Gereja yang cukup besar itu, hampir penuh, sekitar 500 org. Juga dihadiri oleh anak-anak muda.

Pemandangan seperti itu, tentu berbeda dengan Gereja di Inggris dan Eropah, di mana banyak Gereja yang sepi. Sebagian telah dijual dan dijadikan bioskop, mall, dll.

Sambil meninggalkan Gereja, hati saya sungguh bersyukur melihat banyaknya umat yang walau pun di tengah-tengah segala kenikmatan dan modernisasi, namun tetap rindu beribadah kepada Tuhan.

Marilah kita terus mendoakan pertumbuhan Gereja2 Tuhan, termasuk di Amerika. Kiranya umatNya di sini dapat menjadi berkat bagi seluruh dunia, sebagaimana kami alami saat ini di sini. Program seminar ini disponsori oleh orang Amerika. Para pelayan yang melayani kami, juga orang-orang Amerika. Mereka menyerahkan diri menjadi tenaga sukarelawan untuk melayani keperluan kami: menjemput dari bandara, mengangkat koper, membersih untuk mengantar dan menjemput membersihkan kamar kami, membersihkan kamar (termasuk kamar mandi), menyapu taman, memasak dan menyediakan makanan sepanjangan hari, termasuk ketika coffee time.

(bersambung)