Thursday, 19 July 2018

HATI YANG MENGHAMBA

Siapakah orang-orang yang menjadi tenaga suka relawan itu?
Sebagaimana saya tuliskan sebelumnya, banyak dari antara mereka berasal dari bagian lain Amerika, seperti Washington, Origen, dll. Ada juga dari Canada, Australia.

Saat ini, ada sekitar 30-an tenaga sukarelawan yang melayani. Mereka berasal dari berbagai usia, ada yang muda, yang masih berusia 22 thn, tapi ada jg yang sudah berumur hampir 70 thn spt Ben yang menjadi pelayan buat saya.

Itulah sebabnya, ketika saya tiba di lokasi, langsung disambut oleh Ben. Ketika dia mengambil koper saya, dan ingin mendorongnya ke kamar di lantai dua, saya menolak. Pertama, karena memang dalam budaya Batak, hal itu tidak pantas, bukan? Kedua, karena itu adalah koper saya, biarlah saya bawa sendiri,apalagi saya masih mampu. Melakukan hal spt ini di Perkantas (melakukan sendiri semua) sudah terbiasa.

Namun Ben 'memaksa' saya untuk membawanya. "Ini adalah tugas saya. Saya di sini melayanimu. Kami ada bbrp orang di sini melayani kalian", katanya dengan ramah. Akhirnya saya membiarkan dia membawa koper itu ke kamar di lantai dua.

Selanjutnya, dia menjelaskan kepada saya ini dan itu, termasuk bagaimana menggunakan kamar mandi, yang fasilitasnya bagaikan hotel berbintang. Selanjutnya menjelaskan segala sesuatu yang perlu saya ketahui.

Penasaran atas pelayanan yg sangat mengesankan itu, saya terus bertanya siapa saja itu tenaga volunter. Karena kita sama-sama makan, maka hal itu mudah diperoleh.

Ternyata, mereka itu adalah orang-orang penting. Ben, adalah seorang dosen di kotanya. Ada juga yang lain seorang businessman sukses. Bahkan, salah seorang yang antar jemput adl sekretaris seorang senator.

Mereka adalah sponsor dari program itu. Jadi mereka bukan hanya memberikan uang mereka, tapi juga diri mereka. "We come here to serve the Lord", kata seorang yang saya ajak berbicara. "Saya sudah tiga kali menjadi tenaga volunter. Setiap kali datang, saya tinggal di sini selama tiga bulan, tiga periode", kata yang lain lagi. "Tugas kami di sini adalah membuat acara ini sukses. Bukankah kalian yang datang adalah pemimpin2 Gereja dari berbagai belahan dunia? Kami tidak bisa datang ke negara kalian utk memberitakan Injil. Biarlah kami melayani kalian. Kiranya penginjilan dapat dilakukan dengan lebih effektif", demikian seorang volunter mengatakan dengan penuh semangat.

Memang ada spanduk di ruangan lobby hotel tsb: "His last command, is our first concern"

Luar biasa! Itu bukan hanya slogan. Memang banyak cara melayani Tuhan. Di mana ada kemauan, di sana ada jalan. Terpujilah nama Tuhan.