Monday, 11 December 2017

KETIKA SANG MILYARDER BERBICARA

Setiap pagi, seminar/training yang kami ikuti dimulai dengan renungan pagi (eksposisi). Biasanya yang membawakan renungan adalah para pembicara; pada kesempatan ini ada empat belas pembicara dari berbagai negara di dunia, seperti Brazil, India, Thailand, Filipina, dll. Tapi pagi itu, yang maju ke depan bukan pembicara, tapi Mr. Jody Stubbs, sang milyarder, yang menjadi sponsor utama program ini, membiayari 28 peserta dari 12 negara (sebagaimana saya beritahukan waktu yl, berjumlah sekitar 2,6 milyar rupiah).

Kehadirannya di depan kami membuat sikap saya memang agak lain dari biasa. Terus terang, saya pengen tahu apa yang mau dikatakan oleh orang itu. Sebagaimana respons orang pada umumnya, "Apa istimewanya mendengar pendeta membawakan renungan? Hal yang sudah biasa. Tapi, usahawan sukses? Cukup jarang". Memang benar, kadangkala kita bisa mendengar ada satu dua orang usahawan sukses yang membawakan renungan.

Kadangkala, renungan yang dibawakan sangat memuaskan, tapi ada kalanya juga mengecewakan karena yang dibicarakan bukan Tuhan dan firmanNya yang kaya, tapi segala kesuksesannya, walau dimulai dengan ayat-ayat.

Mr. Jody memulai renungannya dengan membacakan Maz.91. Lalu dari sana dia berbicara tentang pentingnya RELASI PRIBADI DENGAN TUHAN. Dia mengatakan itu dengan istilah "ABSOLUTE NECESSITY" (semoga saya tidak salah tulis. Maksudnya, KEHARUSAN YANG MUTLAK". Selanjutnya dia menegaskan: "Relasi yang terus menerus dipelihara dengan Tuhan, sangat penting. We have to pursue the deeper, deeper, and deeper relationship with Him". "Berbicaralah kepadaNya, bersyukur kepadaNya dan akui semua dosa2... tiap hari, ya tiap hari. Dia adalah tempat perlindungan kita yang aman".

Begitu pentingnya bagi Mr Jody akan relasi pribadi itu. Karena itu dia kembali mengatakan: "Sebenarnya apa yang sangat diharapkan Bapa dari kita anak2Nya? Supaya kita mencapai KEINTIMAN DENGANNYA. Selalu mencari waktu untuk bersekutu denganNya".

Dan ini yang menarik. Dia bersaksi tentang suatu peristiwa di mana businessnya mengalami kegoncangan besar. "Saya bingung. Saya tidak tahu mau berbuat apa. Maka hanya ada satu tempat yang aman. Saya mencari Tuhan, saya bangun jam 3.30 pagi dan saya berdoa dan merenungkan firmanNya. Saya melakukan itu sampai saya benar2 merasa tenang, tidak goncang lagi". Setelah mengatakan itu, dia kemudian menyaksikan: "Setiap kali saya mengalami masa2 sulit, saya semakin mendekat kepadaNya, sebagaimana tiap-tiap hari saya lakukan" .

Ketika saya mendengar renungan itu, saya mengerti mengapa Mr. Jody dapat begitu rendah hati. Tidak ada kesan bahwa dia orang kaya yang perlu dan harus didengar. Bahkan ketika mengikuti kelas, sebagaima semua peserta, beliau dan istrinya duduk dengan tekun, mendengar tanpa sedikit pun memberi komentar atau menggurui pembicara. Karena duduknya persis dekat saya, maka saya dengan bebas mengamati bahwa dia terus mencatat dan mencatat.

Ketika mengamati Mr. Jody Stubbs dan istrinya, saya berdoa dalam hati, agar kiranya Tuhan mengaruniakan banyak alumni-alumni yang sukses, kaya raya, tapi menggunakan semua kekayaannya itu untuk kemuliaan nama Tuhan. Soli Deo gloria.-

Best Regards,