Monday, 11 December 2017

Syukur untuk AnugerahNya (11). Bagai Rajawali. Penutup.

Itulah pertama kali saya menyaksikan Dr John Haggai secara langsung, sebelumnya hanya melalui rekaman video. Kesan pertama memang berbeda. "O... ternyata sudah tua". Maklum, usianya sudah 85 thn. Namun, ini luar biasa. Ketika mendengar beliau berbicara saya teringat Rajawali dengan Kekuatannya, semangatnya dan ketajaman penglihatannya yang bisa melihat jauh sekali ke depan (visinya). Dalam tempo 30 menit beliau berbicara dengan semangat dan berkobar-kobar bagaikan seorang yang masih sangat muda. Beliau memulai dengan "Lebih baik saya memperoleh rekan kerja kelas dua namun memiliki komitmen kelas satu, dari pada rekan kerja dari kelas satu, tapi komitmen kelas dua... Namun kalian semua adalah kelas satu dengan komitmen kelas satu juga...".

 

Kalimat yang dikatakan dengan sangat meyakinkan itu mengingatkan saya ketika mendengar rekaman videonya yang juga dikatakan dengan meyakinkan.Menyadari betapa pentingnya orang ditantang menerima keselamatan, walau kurang tenagauntuk membina dan memuridkan, maka beliau menyerukan: "Lebih baik saya memiliki 5 juta orang di sorga yang diselamatkan, walau hanya 0,5 juta yang berhasil dimuridkan, dari pada memiliki sejuta orang yang berhasil dimuridkan tapi kehilangan yang 4,5 juta lagi, dan tidak masuk sorga, selamanya di neraka. Lalu beliau mengatakan: "Pergilah, dan selamatkan jiwa mereka dengan Injil Kristus".

Wah, kakek tua itu memang sangat mengagumkan. Selama ini saya merasa diri sudah agak tua. Namun sangat bersyukur menyaksikannya. Ternyata, di hadapannya saya masih sangat muda. Jika Bapa sorgawi berkenan, saya masih bisa berbuat banyak bagi Tuhan.

Setelah beliau selesai bicara, beliau mempersilakan peserta memberikan pertanyaan. Ada lima orang yang bertanya. Kesempatan itu tentu tidak saya sia2kan, karena memang sudah lama mendengar namanya, membaca bukunya dan mendapat banyak berkat darinya. Ketika saya menyebut nama dan asal, segera beliau menginterupsi dengan kalimat: "Selamat Pagi", yang saya jawab dengan "Good morning". Kemudian beliau melanjutkan dengan "Tuhan memberkati" (sambil mengangkat tangan). Saya jwab, "God bless you too". Wah, kakek tua itu masih bisa mengingat bbrp kalimat bhs kita. Bangga juga di hadapan rekan2 dari bangsa lain. Setelah itu, saya mengatakan: "Saya sudah mendengar ttg visi dan misi bapak untuk mendidik hamba2 Tuhan di seluruh dunia sejak kira2 30 thn yl. Dan sampai sekarang Anda setia dengan visi dan misi itu. Salah satu tantangan terbesar anak2/pelayan Tuhan adalah TETAP KONSISTEN, DAN TETAP SETIA SAMPAI AKHIR. Hal itu disebabkan berbagai godaan dan tantangan. Tolong sebutkan bbrp tantangan terbesar yg menguji anda utk tidak setia dan bagaimana mengatasinya."

Dr John Haggai kembali menjawb pertanyaan itu dengan sangat bersemangat. Pertama, beliau menegaskan tentang pentingnya prioritas hidup. First, God. Second, family,. Third, job (pekerjaan). Lalu beliau mengatakan bahwa salah satu godaan tidak setia adl ketika orang2 yg kita kasihi tidak setuju dengan visi dan misi yang kita kerjakan. Karena itu, utamakan Tuhan. Dekatlah dengan Tuhan selalu. Selanjutnya, beliau menjelaskan tentang godaan materi. Dan paling lama beliau menjelaskan tentang bahaya nyawa. Beliau menyebutkan bbrp tempat di mana beliau diancam untuk mundur. Lalu beliau melanjutkan dgn kesetiaan Tuhan menolongnya. Ternyata beliau pernah ke Indonesia pada thn 1968. Bagi beliau, pelayanan ke Indo tsb sangat berkesan. Dengan semangat beliau menceritakan bhw beliau adl satu2nya non deplomatic yang boleh bebas masuk ke Indonesia dan disambut dengan baik oleh presiden Suharto. Nama "Suharto" disebut dengan sangat jelas.

Mendengar uraian itu, lantas teringat saya ceramah yang sering diberikan ketika mhs, yaitu HARGA PENYERAHAN DIRI.

Kiranya, Bapa sorgawi terus memberkati semua peserta seminar utk melanjutkan visi dan misi yang sangat penting itu, sebagaimana ditegaskan oleh Dr John Haggai dalam pesan akirnya. Kiranya Bapa sorgawi juga membangkitkan generasi muda di Indonesia, yang spt Rajawali, yang berlari tidak pernah letih dan berjalan tidak pernah lesu (Yes.40:28-31).

Tadi siang, kami sudah mengakhiri seminar dengan perjamuan Kudus.

Terpujilah nama Tuhan atas semua anugerahNya.

Terimakasih untuk semua doa2 yang dipanjatkan bagi saya/kami dan bagi keluarga.

Kiranya sharing saya ini menjadi berkat bagi bapa/ibu/sdr semua.

Mohon doa untuk perjalanan pulang esok, Sabtu jam 6.00 pagi, Honolulu, Manila, Jakarta. Direncakan tiba di jakarta hari Minggu (23.50 WIB).

(penutup).