Thursday, 19 July 2018

Why:2:12-17
(Pdt. Mangapul Sagala)

Pengantar

Pergamus terletak 88 km di sebelah utara kota Smirna. Di masa penjajahan Romawi, kota ini menjadi ibu kota propinsi Asia kecil. Kota Smirna tidak seperti Efesus dan Smirna yang merupakan dua kota perdagangan yang terkenal ketika itu. Meski demikian, kota ini memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Mereka khususnya akan terkesan dengan banyaknya kuil dan altar penyembahan. Kota yang terletak di atas gunung serta yang dikelilingi oleh lembah tersebut memiliki benteng yang berdiri dengan megah. Benteng Pergamus tersebut dibangun di atas bukit yang curam dengan ketinggian sekitar 1000 kaki di atas dataran. Kota Pergamus menjadi semakin terkenal karena di dekat puncak Pergamus, Eumenes II membangun sebuah altar raksasa yang megah, Zeus. Pliny memberi komentar tentang kota ini: “By far the most famous city of Asia”.

 

Selain hal di atas, di kota Pergamus ditemukan penyembahan kepada dewa-dewa lain, seperti dewa Dionisos, Asklepios atau Aeskulapius. Tasitus mencatat bahwa kota Pergamus adalah pusat penyembahan Aeskulapius. Hal ini dapat disejajarkan dengan penyembahan di Lourdes (Perancis). Prof. Swete menyebut kota Pergamus sebagai “Suatu pusat kekafiran yang sangat menonjol”.

Kondisi jemaat Pergamus

Why.2:12

1. Dituliskan kepada malaikat jemaat di Pergamus.
2. Sumber: “Inilah firman Dia, yang memakai pedang yang tajam dan bermata dua”. Ini mengacu kepada kuasa penghakiman Allah yang sangat dahsyat (Baca juga Why.19:15). Bandingkan perkenalan diri Yesus ini dengan kedua jemaat sebelumnya. Perhatikan relevansi perkenalan diri Yesus ini dengan masalah yang dihadapi oleh jemaat Pergamus.

A. Pujian Yesus (13)

1. “Aku tahu di mana engkau diam...”

1. Di dalam PB, kata yang digunakan untuk “diam” bisa “paroikeo” dan “katoikeo”. Kata “paroikeo berarti tinggal untuk sementara”, sedangkan kata “katoikeo” berarti tinggal menetap. Kata pertama digunakan oleh rasul Petrus untuk menegaskan bahwa orang percaya di dunia ini adalah pendatang, pengembara, tidak tinggal menetap (1Pet.1:17), di mana orang percaya memiliki tempat tinggal menetap (permanen) di surga. Menarik sekali bahwa dalam bagian ini, kata yang digunakan adalah “katoikeo”. Hal ini menegaskan akan intensnya penderitaan tsb.
2. Seorang anak Tuhan yang sedang di dalam penderitaan yang sedemikian berat bertanya: “Apakah ada orang yang benar-benar mengetahui dan memahami kondisi di mana saya saat ini tinggal? Bahwa kondisi tempat tinggal saya sedemikian sulit, berat dan berbaya... Sekiranya ada...”
3. Pada pernyataan di atas sebenarnya tersimpan kalimat penghiburan: Dia, Allah yang mahakuasa adalah juga mahatahu. Karena itu, Dia sanggup melepaskan setiap umatNya dari berbagai macam kesulitan. Tetapi jika Dia tetap tidak melakukan hal itu, apa artinya hal itu bagi kita?


2. “... engkau berpegang kepada namaKu”

Kata “berpegang kepada namaKu” berarti berpegang kepada diri Yesus. Di dalam budaya Yahudi, menghina nama sama dengan menghina diri. Perhatikan apa maknanya: “... supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit...” (Fil.2:9-11)

3. “...engkau tidak menyangkal imanmu kepadaKu...”
1. Di dalam pengenalan Tuhan Yesus akan kondisi jemaat Pergamus yang sedemikian tersiksa demi imannya, Tuhan Yesus secara khusus menyebut hal tsb di atas.
2. Bandingkan kesetiaan jemaat tsb dengan kondisi kota Pergamus yang sedemikian sekuler dan penuh dengan penyembahan dewa serta tuntutan yang sedemikian keras untuk setia kepada Kaisar! “Kurios Kaisar”, atau “Kurios Iesous”? Pengakuan itu mempertaruhkan nyawa! Semua itu membuat banyak orang Pergamus tidak tertarik kepada kekristenan.
3. Namun demikian, jemaat Pergamus tetap setia kepada Tuhan Yesus. Kesetiaan yang dimiliki oleh jemaat tsb adalah kesetiaan sampai mati (2:10). Perhatikan kalimat selanjutnya: “ ...juga tidak pada zaman Antipas, saksiKu, yang setia kepadaKu, yang dibunuh di hadapan kamu...” (2:13c).

Kata “juga” lebih tepat diterjemahkan dengan “bahkan” (Inggris, even; Yunani: kai). Dengan perkataan lain, sekalipun Antipas sudah dibunuh di hadapan mereka sendiri, mereka tetap setia, tidak menyangkal iman kepada Yesus. Menurut tradisi Gereja, Antipas dipanggang hidup-hidup hingga mati dalam sebuah mangkok logam.Hal itu terjadi pada masa kaisar Domitian (81-96 M). Namun ada juga yang berpandangan bahwa nama Antipas adalah simbol, sebagaimana kita menemukan penggunaan simbol lainnya dalam kitab Wahyu. Antipas berarti melawan semua. Karena itu, kata ini dikaitkan dengan Athanasius yang melawan seluruh dunia (Athanasius contra mundum).

B. Teguran Yesus (14-15)

1. “... di antaramu ada beberapa orang yang menganut AJARAN Bileam”. (14).

Bileam adalah seorang nabi yang diminta oleh raja Balak untuk mengutuki bangsa Israel, musuh politiknya (Bil.22:6). Meski demikian, Allah dengan jelas telah menyatakan maksudNya kepada Bileam dan melarangnya pergi dengan utusan raja Balak (22:12). Walaupun Allah dengan jelas dan tegas telah mengatakan kehendakNya kepada Bileam, dia masih saja ingin mengutuki bangsa Israel spt dikehendaki raja Balak (Band, motivasi Beleam, 2Pet.2:15). Bileam membuat rencana yang tidak berkenan kepada Tuhan, yaitu dengan menjatuhkan umat Allah dengan nasehat jahatnya. (Bil.25 dan 31:16). Nasehat Bileam adalah nasehat yang menyesatkan (Why.2:14b).

2. Berpegang kepada AJARAN pengikut Nikolaus. Hal ini telah kita lihat sebelumnya (lihat pembahasan kitab Efesus). Trench mengambil nama Nikolaus sebagai simbol, yang berarti “perusak rakyat”.

3. Menarik sekali bahwa teguran Allah kepada jemaat Pergamus ini, keduanya berhubungan dengan AJARAN.

Berbagai sikap terhadap ajaran:

1. “Ajaran sangat penting, karena itu, jangan dikompromikan. Kita harus mempertahankan ajaran yang benar, apapun harga yang harus dibayar.”
2. “Ah, apakah ajaran sedemikian penting? Yang penting kan buahnya?”
3. “Jangan suka konfrontasi dong...kasih harus menerima orang lain.”
4. Dll.
3. Kenyataan dalam Alkitab
1. Sejak PL hingga PB kita menemukan koreksi terhadap ajaran. Menarik sekali mengamati bahwa dalam bacaan ini kita menemukan dua nama yang mewakili PL (Bileam) dan Nikolaus (PB). Apa artinya ini bagi kita?
2. Alkitab mengajarkan pentingnya ajaran dan perbuatan (1Tim.4:16). Dalam surat ini kita menemukan kritik Tuhan Yesus terhadap ajaran dan perbuatan sekte Nikolaus (2:6,14).
3. Prinsip penting:

In essential, unity; non essential, diversity; in everything, charity.

4. Bagaimana jika ada perbedaan?

“Berpegang teguh kepada kebenaran di dalam kasih”. (Ef.4:15). Kebenaran tanpa kasih à konfrontasi

Kasih tanpa kebenaran à kompromi.

5. Beberapa issu pokok yang harus diwaspadai dengan serius:

Doktrin Kristologi (pribadi Kristus dan karyaNya); Bibliologi (doktirn Alkitab, khususnya otoritas Alkitab dan ketidakbersalahannya); Soteriologi (doktrin keselamatan). Melalui Kristus? (eksklusivisme? Inklusivisme? Pluralisme?), dll. Bagaimana dengan minyak urapan? Debu emas?

C. Perintah dan janji (16-17)

1. “Bertobatlah...”

Sebelumnya kita telah melihat bahwa masalah jemaat di Efesus adalah soal kasih mula-mula (first love). Allah memerintahkan agar jemaat di Efesus bertobat dari kesalahan dan dosa tsb. Seruan yang sama kita lihat di sini. Mengapa demikian? Apa artinya hal ini bagi kita.

2. Peringatan: “Jika tidak demikian... memerangi dengan pedang”. Apa maksudnya? Bandingkan hal ini dengan introduksi diri Yesus kepada jemaat ini.

3. “Siapa bertelinga...”

4. “Barangsiapa menang...manna tersembunyi... batu putih.”

Penutup dan Kesimpulan: