Tuesday, 20 November 2018

4. Alkitab mengandung Firman Allah

Menurut pandangan ini, Alkitab bukanlah Firman Allah, tetapi di dalamnya terdapat Firman Allah. Disamping itu, Alkitab juga mengandung 'firman iblis' dan 'firman manusia'. Penganut pandangan ini setuju bahwa bagian Alkitab yang mengatakan, "Beginilah Firman Allah", atau "Demikianlah Firman Allah", memang adalah Firman Allah. Tetapi bagian lainnya, seperti "Ular itu berkata kepada perempuan itu: "Tentulah Allah berfirman…(Kej.3:1b), bukanlah Firman Allah. Demikian juga dengan nasehat-nasehat sahabat Ayub, yaitu Elifas, Bildad dan Zofar bukanlah Firman Allah, karena memang kemudian Allah menegur mereka dan menyuruh mereka minta maaf kepada Ayub atas segala nasehat mereka yang salah (Baca Ayub 42:7-9).

 

5. Alkitab menjadi Firman Allah ketika terjadi pertemuan atau pengalaman pribadi.

Menurut pandangan ini, ketika seseorang membaca Alkitab dan Allah berbicara melalui ayat-ayat yang sedang dibaca tersebut, maka pada saat itulah ayat tersebut menjadi Firman Allah. Dengan perkataan lain, ada saatnya Alkitab tersebut bukanlah Firman Allah yaitu sebelum terjadi pengalaman pribadi dengan ayat-ayat tersebut. Dengan demikian, Firman Allah menjadi sangat subjektif, tidak lagi objektif, tergantung manusia yang mengalaminya. Bagi orang tertentu ada kemungkinan ayat tertentu bukan Firman Allah kerena dia tidak mengalami apa-apa dari ayat tersebut. Tetapi orang lain, yang mengalami sesuatu dari ayat tersebut, itu adalah Firman Allah.

Nampaknya, pandangan inilah yang dianut oleh seorang pendeta dari gereja tertentu di Korea, dengan anggota jemaat ratusan ribu orang. Kelompok ini membagi Firman Allah menjadi dua, yang dalam bahasa Yunani disebut logos dan hrema. Logos dimengerti sebagai Firman Allah secara umum, sedangkan hrema dimengerti sebagai Firman Allah yang sudah berbicara kepadanya secara pribadi. Pandangan ini juga telah menjalar kegereja-gereja tertentu di Indonesia, yaitu gereja yang mengikuti aliran theologia gereja Korea tersebut di atas. Memang ada sebagian penafsir yang membedakan kedua kata tersebut. Namun sebenarnya tidak demikian. Dalam Injil Yohanes kita dapat melihat bagaimana kedua kata tersebut dipakai saling bergantian. Sebagai contoh adalah dalam Yoh.12:48 yang berbunyi: "Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataanKu (hremata), ia sudah ada hakimnya, yaitu Firman (logos) yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman". Selanjutnya dalam Yoh.17:8a dan 14, kita juga melihat kedua kata tersebut digunakan saling bergantian. "Sebab segala firman (hremata) yang Engkau sampaikan kepadaKu telah Kusampaikan kepada mereka…Aku telah memberikan firmanMu (logos) kepada mereka. Maka dari ayat-ayat tersebut jelaslah bahwa sebenarnya kedua kata tersebut tidak perlu dibedakan. Kita juga perlu menegaskan bahwa Firman Allah tetap adalah Firman Allah, sekalipun hal itu belum dialami secara pribadi. Masalah pengalaman pribadi kepada Firman Allah tersebut tidak tergantung kepada Firman itu sendiri, tetapi tergantung kepada pekerjaan Roh Kudus serta kepekaan dan keterbukaan kita sendiri.

6. Alkitab adalah Firman Allah
Menurut pandangan ini, Alkitab bukan sekedar tradisi manusia abad pertama, meskipun memang ada unsur tradisi di dalamnya. Alkitab juga bukan sekedar tulisan manusia, meskipun memang ada unsur keterlibatan manusia dalam penulisannya. Tetapi, sesungguhnya Alkitab adalah Firman Allah. Karena Alkitab adalah Firman Allah, maka Alkitab tidak bersalah terhadap segala hal yang dinyatakannya. Karena itu, Alkitab memegang kuasa dan otoritas tertinggi dalam kehidupan. Sebenarnya, menurut keyakinan kami, inilah pernyataan Alkitab tentang dirinya, dan ini jugalah yang merupakan pandangan kami. Kami setuju dengan tokoh reformasi, Martin Luther yang mengatakan:

"No one is bound to believe more than what is based on Scripture. The Word must be believed against all sight and feeling and understanding. It also has the primacy over dreams, signs and wonders. (Tidak seorangpun diharuskan untuk mempercayai sesuatu lebih daripada apa yang dikatakan Alkitab. Alkitab harus dipercayai melebihi penglihatan, perasaan dan pengertian. Dia juga memiliki keutamaan lebih dari mimpi-mimpi, tanda-tanda serta mukjizat-mukjizat).
(bersambung)