Monday, 24 September 2018

Infallibility dan Inerrancy Alkitab

Kita telah melihat bahwa infallibility Alkitab berkaitan dengan pesan Alkitab, bahwa Alkitab tidak akan menyesatkan pembacanya, sedangkan inerrancy berkaitan dengan ketepatan sumber Alkitab tersebut. Pada umumnya kaum Injili menerima kedua hal tersebut. Tetapi ada juga yang hanya menerima infallibility Alkitab dan menolak sifat inerrancynya. Ada juga yang menolak keduanya. Sebagai contoh, Karl Barth menolak kedua sifat tersebut. Bagi Barth, Alkitab ditulis oleh manusia yang bersifat salah. To err is human, demikian penegasan Barth. Karena itu, tidak terkecuali dengan Penulis-penulis Alkitab, mereka juga tidak luput dari kesalahan ketika menuliskan Alkitab tersebut. Di sisi lain, ada juga yang tidak mau menggunakan kedua istilah tersebut di atas. Mereka memberi istilah lain yaitu the trustworthiness of the Bible (Sifat Alkitab yang layak dipercaya).

Karena menurut kelompok ini, dengan mengatakan Alkitab adalah Firman Allah, sudah cukup dengan mengakuinya sepenuhnya layak dipercaya. Mereka menolak istilah tersebut di atas karena menurut mereka, hal itu berbau ilmiah, sedangkan bahasa Alkitab bukanlah selamanya disampaikan dengan bahasa ilmiah. Karena itu, Alkitab tidak boleh dipaksa menyatakan kebenarannya dengan cara-cara ilmiah. Hal tersebut sama seperti karya sastra yang tidak boleh dibaca atau dimengerti dengan pendekatan matematik.

Telah kita sebutkan di atas bahwa umumnya kaum injili menerima infallibility dan inerrancy Alkitab. Tetapi ada juga kaum injili yang menerima yang pertama dan menolak sifat yang kedua. Mengapa? Karena menurut mereka mengatakan bahwa Alkitab tidak memberi pesan yang menyesatkan, itu pasti dan jelas. Namun, mengatakan bahwa Alkitab tidak bersalah dalam segala hal ditinjau dari segi apapun, termasuk dari hal ilmiah, akan menimbulkan masalah. Karena itu, kelompok yang menerima inerrancy Alkitabpun masih memiliki pengertian yang berbeda dengan istilah tersebut. Karena itu, kita akan melanjutkan dengan berbagai macam pandangan tentang inerrancy Alkitab.

1. Beberapa Macam Inerrancy
Sebagaimana telah kita ihat di atas, teori pengilhaman Alkitab bukanlah sesuatu yang sederhana. Demikian juga dengan inerrancy. Karena itu, Millard J. Erickson membagi inerrancy menjadi beberapa macam, yaitu:

a. Absolute inerrancy
Kelompok ini percaya bahwa Alkitab sepenuhnya benar dalam segala hal, termasuk dalam hal-hal ilmiah dan sejarah. Jadi kalau Alkitab menulis tentara yang mengikuti Gideon sebanyak 32000 orang (Hak.7:3), maka memang angka tersebut persis demikian.

Sepertinya kelompok ini, percaya bahwa Penulis-penulis Alkitab memang bermaksud untuk menuliskan hal-hal yang berbau ilmiah dan sejarah secara persis. Nampaknya, kelompok ini dalam membela kebenaran dan ketidakbersalahan Alkitab telah melakukan kesalahan, yaitu dengan mencoba mengerti Alkitab dengan kacamata yang berbeda dari Penulis-penulisnya. Apakah memang maksud Penulis Alkitab sampai setepat (sepersis) itu? Apakah pembaca Alkitab pada zaman itu telah menuntut ketepatan seperti itu?

Ada yang berpandangan bahwa istilah dan cara penyampaian Alkitab yang ditulis dalam zaman primitif tidak boleh dimengerti dengan cara kita yang hidup di zaman modern. Bagi kami, sebenarnya permasalahannya bukan saja soal apakah yang satu zaman primitif dan yang lain zaman modern, tetapi soal gaya bahasa. Pada saat inipun kita sering membaca laporan dengan gaya bahasa Alkitab, meskipun kita hidup dalam zaman modern, dimana semuanya ingin diilmiahkan. Sebagai contoh, kita misalnya membaca laporan bahwa kebaktian kebangunan rohani di gereja X dihadiri sebanyak 3000 orang tiap malam. Pertanyaan kita adalah, apa artinya angka tersebut? Apakah itu berarti bahwa yang hadir persis 3000 orang, tidak kurang dan tidak lebih? Itukah sesungguhnya yang dimaksud oleh laporan tersebut? Kalau tidak persis demikian, salahkah laporan tersebut? Tentu tidak. Karena yang dimaksud di sana adalah bahwa yang hadir sekitar 3000 orang. Contoh lain lagi, jarak antara Jakarta- Bogor adalah 60 Km. Persiskah 60 Km? Tidak kurang, dan tidak lebih sekian meter dan sekian cm?

b. Full inerrancy
Kelompok ini sama dengan kelompok di atas dalam hal pengakuan bahwa Alkitab sepenuhnya benar, khususnya dalam hal yang menyangkut theologia dan hal-hal rohani. Mereka ini mengakui bahwa sekalipun tujuan utama Penulis-penulis Alkitab bukanlah menyodorkan data-data ilmiah dan sejarah, namun dalam hal inipun Alkitab benar. Perbedaan kelompok ini dengan kelompok di atas adalah dalam hal bagaimana mereka mengerti hal-hal yang berkaitan dengan ilmiah dan sejarah. Bagi kelompok ini, hal-hal tersebut bersifat fenomenal, yaitu memberikan gambaran atau perkiraan. Jadi, tidak harus persis demikian, kecuali memang Penulis Alkitab tersebut bermaksud memberikan hal yang persis, bukan perkiraan atau gambaran. Karena itu, kelompok ini mengatakan, "What they teach is essentially correct in the way they teach it".

Nampaknya, pandangan inilah yang dianut oleh banyak ahli dari kaum Injili, termasuk dianut oleh Millard Erickson. Ini jugalah yang dinyatakan oleh beberapa sekolah theologia Injili. Sebagai contoh, Trinity Evangelical Divinity School, Illinois, menulis dalam katalognya:
"We believe the Scriptures, both Old and New Testaments, to be the inspired Word of God, without error in the original writings, the complete revelation of His Will for the salvation of men, and the Divine and final authority for all Christian faith and life. (Kami percaya bahwa Alkitab, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, adalah Firman Allah yang diilhami Allah, tanpa kesalahan dalam naskah-naskah aslinya, wahyu yang sempurna yang menyatakan kehendakNya untuk keselamatan manusia, bersifat ilahi dan merupakan otoritas terakhir bagi seluruh iman dan kehidupan Kristen).

c. Limited inerrancy
Kelompok ini berpendapat bahwa ketidakbersalahan Alkitab adalah yang berkaitan dengan ajaran keselamatan orang berdosa. Bagi mereka ini, Penulis-penulis Alkitab ketika menulis hal-hal yang bersifat ilmiah dan sejarah mencerminkan pengertian mereka waktu itu. Mereka ini tunduk kepada keterbatasan mereka ketika menulis Alkitab. Jadi, adanya wahyu dan pengilhaman tidak membuat Penulis-penulis Alkitab melampaui kemampuan normal mereka. Allah tidak mewahyukan hal-hal ilmiah dan sejarah kepada Penulis Alkitab. Jadi mereka memang bisa salah dalam hal-hal itu. Namun tidak boleh dikatakan Alkitab bersalah, karena Alkitab tidak mengajarkan itu. Kelompok ini menegaskan bahwa untuk segala hal yang diajarkan Alkitab, Alkitab sungguh benar.

Pandangan ini nampaknya terlalu menekankan satu sisi dari penulisan Alkitab, yaitu unsur manusianya, dan melupakan unsur ilahinya, yaitu keterlibatan Allah dalam penulisan Alkitab. Kenyataan menunjukkan bahwa ketika kita membaca Alkitab, kita tidak hanya melihat unsur manusianya, meskipun hal itu ada. Namun kita juga melihat unsur ilahi di dalamnya. Sebagai contoh, bagaimanakah Yesaya dapat menuliskan bahwa bumi ini bulat (Yes.40:22) kalau dia hanya menulis berdasarkan kemampuannya saja? Bagaimanakah rasul Petrus, yang sebenarnya hanya seorang nelayan yang kurang berpendidikan dapat membingungkan manusia dan pemimpin agama di zamannya? Marilah kita perhatikan fakta yang ditulis berikut:
"Ketika sidang itu melihat keberanian Petrus dan Yohanes dan mengetahui bahwa keduanya orang biasa yang tidak terpelajar, heranlah mereka…" (Kis.4:13).

Sebagai catatan, kata "tidak terpelajar" dalam bahasa Yunani adalah agrammatoi kai idiotai. Bagaimanakah kita menjelaskan kenyataan bahwa rasul Petrus adalah seorang "idiotai", namun dapat menulis seperti surat-suratnya, di mana para ahli saat inipun tetap merasa kurang mampu sepenuhnya memahami tulisannya?

d. Inerrancy of purpose
Menurut kelompok ini, Alkitab tidak bersalah dalam arti Alkitab menggenapkan tujuannya. Wahyu yang dinyatakan dalam Alkitab adalah untuk membawa manusia kepada persekutuan dengan Allah. Jadi Alkitab bukan sekedar mengkomunikasikan dalil-dalil kebenaran. Karena itu, dalam hal ini, Alkitab secara effektif telah mencapai tujuannya.

Pandangan ini juga lemah, sebab dalam kenyataannya, tujuan Alkitab tidak hanya membangkitkan emosi dan kemauan manusia agar datang kepada Allah. Alkitab juga memberi pengertian kepada para pembacanya. Dan lagi, bukankah tujuan sangat dipengaruhi juga oleh apa yang dikomunikasikan? Kalau kita meragukan isi dari apa yang dikomunikasikan tersebut, apakah hal itu mencapai tujuannya?
(bersambung)