Monday, 24 September 2018

2. Terdapat Kesalahan?

Memang benar, kepercayaan kepada inerrancy Alkitab bukanlah ajaran Alkitab itu sendiri. Keyakinan ini sebenarnya merupakan akibat wajar dari doktrin pengilhaman Alkitab, yaitu bahwa Alkitab itu diilhami oleh Allah. Kita sudah mengatakan di atas bahwa tidak ada penjelasan bagaimana proses pengilhaman itu terjadi. Alkitab hanya mengatakan bahwa "segala tulisan diilhami Allah". Lalu bagaimana dengan fenomena adanya kesalahan dalam Alkitab? Bagaimana kita menjelaskan adanya perbedaan keempat Injil? Sebagai contoh adalah Mark.6:8 dan Mat.10:9-10. Menurut Markus, Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk membawa tongkat. Tetapi menurut Matius, Yesus melarang mereka untuk membawa tongkat. Lalu bagaimana kita menjelaskan adanya perbedaan angka-angka dalam Alkitab? Sebagai contoh, 2 Sam.10:18 ada 700 kereta berkuda, sedangkan menurut kitab paralelnya, 1 Taw.19:18 ada 7000.

 

Untuk mengatasi masalah ini theolog-theolog yang setia kepada Alkitab mencoba memberi jalan keluar.

Pertama, pendekatan abstrak.
Pendekatan ini diwakili oleh B.B. Warfield. Dia mengakui terdapat kesulitan dalam Alkitab, di mana dia telah berusaha untuk memecahkan sebagian dari kesulitan tersebut. Namun demikian, dia berpendapat bahwa tidak semua kesulitan dan yang hal dianggap kesalahan tersebut harus dijelaskan. Bagi Warfield, kenyataan bahwa Alkitab diilhami oleh Allah dan sebagai akibat wajarnya adalah ketidakbersalahan Alkitab (inerrancy)- telah cukup bagi kita. Maka adanya kesulitan tersebut tidak boleh melenyapkan ketidakbersalahan Allah.

Kedua, pendekatan harmonis.
Cara ini diwakili oleh Edward J. Young. Kelompok ini juga menerima inerrancy Alkitab berdasarkan keyakinan bahwa Alkitab diilhami oleh Allah. Mereka ini menegaskan bahwa segala kesulitan yang nampak itu dapat dijelaskan. Karena itu, dengan segala cara kelompok ini mengharmoniskan kesulitan-kesulitan tersebut. Segala usaha untuk mengharmoniskan tersebut nampaknya terlalu dipaksakan sehingga menjadi kurang wajar.

Ketiga, pendekatan moderat-harmonis.
Metode ini mengikuti pendekatan harmonis dalam batas-batas tertentu. Segala kesulitan diakui dan dicoba untuk dijelaskan sedapat mungkin. Namun mereka ini sadar bahwa belum tentu segala kesulitan dapat diselesaikan seketika itu juga. Karena itu, mereka menghindari jawaban yang bersifat prematur. Kelompok ini memiliki keyakinan bahwa segala kesulitan dalam Alkitab akan dapat diselesaikan sekiranya data-data yang hilang dalam sejarah dapat ditemukan kembali. Atau jikalau kesulitan itu bukan karena kurangnya informasi -karena hilangnya data- maka kelak hal itu akan dapat diselesaikan seiring dengan perkembangan arkeologi dan berbagai ilmu pengetahuan lainnya.

Keempat, pendekatan naskah asli.
Menurut metode ini, seluruh kesulitan timbul karena kita tidak memiliki naskah asli Alkitab, tapi hanya salinannya. Jadi jika dipaksa untuk menjelaskan seluruh kesulitan tersebut, boleh saja, asal diberikan naskah asli Alkitab, demikian jawaban kelompok ini. Mereka ini berpendapat bahwa kesalahan yang didapati dalam Alkitab seringkali akibat kelemahan salinannya. Jadi perbedaan angka-angka dalam Alkitab, sebagaimana disebutkan di atas, antara 700 dan 7000 kereta kuda, seringkali akibat kesalahan penyalinan, bukan pada naskah asli yang diilhami oleh Allah tersebut.

Kelima, Alkitab memang memiliki kesalahan.
Kelompok ini menegaskan bahwa Alkitab memang mengadung kesalahan. Jadi, daripada terus berusaha untuk menyingkirkan kesulitan-kesulitan yang nampak tersebut, lebih baik menerimanya, apa adanya. Karena itu, doktrin pengilhaman yang dimengerti menghasilkan inerrancy Alkitab harus ditinjau kembali, demikian penegasan kelompok ini.

Setelah melihat kelima pendekatan tersebut di atas, kembali kita diperhadapkan kepada kesulitan untuk memutuskan yang mana dari kelima pendekatan tersebut adalah pendekatan yang benar. Namun demikian, dari seluruh pendekatan tersebut di atas, kelihatannya pendekatan moderat-harmonis yang lebih memuaskan. Alasannya adalah kerena pendekatan moderat-harmonis ini, di satu pihak mengakui adanya kesulitan dalam Alkitab; karena itu, mereka telah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencari jawabannya. Tapi di pihak lain, metode tersebut melihat dan mengakui adanya keterbatasan dalam menjelaskan seluruh kesulitan tersebut. Tentu ini adalah hal yang wajar, khususnya ketika kita mengingat bahwa Alkitab adalah kitab yang memiliki jarak dan tenggang waktu yang begitu lama dengan kita. Tenggang waktu paling singkat adalah sekitar 2000 tahun! Sudah merupakan fakta yang tidak dapat disangkal bahwa semakin jauh jarak waktu antara pembaca dan tulisan yang dibaca, maka semakin sulit pula untuk mengerti. Itulah sebabnya dalam sekolah theologia, diberikan pelajaran hermeneutik, yaitu ilmu untuk menafsirkan Alkitab. Dalam pelajaran ini kita disadarkan bahwa pekerjaan menafsir Kitab Suci bukanlah hal yang mudah. Karena untuk itu, kita harus melihat berbagai faktor sebelum menafsirkan teks yang dibaca tersebut. Termasuk di sini adalah kemampuan dalam mengerti tata bahasa, konteks penulis, konteks lingkungan, latar belakang sosial budaya dan lain sebagainya. Sayang sekali ada orang yang terlalu berani menafsirkan Kitab Suci tanpa memiliki ilmu tafsir yang memadai. Akibatnya, berbagai kekacauan ajaran yang akan timbul tidak bisa dielakkan!
(bersambung)