Sunday, 22 July 2018

Kedua, kita juga tidak boleh melupakan taman Getsemani, karena di taman itulah Yesus memutuskan sesuatu yg sangat penting dan bernilai kekal.

Bicara soal keputusan, kita tahu bhw banyak keputusan yg kita ambil dlm hidup kita. Krn itu, kita sering bergumul untuk memutuskan sesuatu yg harus dikerjakan. Namun, tidak semua keputusan tersebut penting. Dan tidak semua keputusan tersebut menguntungkan orang banyak, bahkan tidak sedikit keputusan yang diambil yang merugikan atau menghancur-kan kehidupan orang banyak. Tidak demikian dengan Yesus. Sesungguhnya keputusan apakah yang dilakukan oleh Yesus di kala itu? Jawabnya adalah keputusan yang menentukan nasib semua manusia yang berdosa, termasuk murid2, saudara dan saya.

Bila Ia taat, itu berarti kehidupan kekal akan menjadi kenyataan bagi manusia. Keselamatan yg sering dibicarakan oleh agama2 itu bukan lagi sekedar impian atau pengharapan, betapapun teguhnya pengharapan tersebut. Krn keputusan Yesus itu, keselamatan telah menjadi kenyataan. Tetapi sebaliknya, bila Yesus memutuskan utk TIDAK taat, maka kebinasaan kekal tidak mungkin terelakkan. Karena hal itu memang konsekuensi wajar dari pemberontakan manusia terhadap Allah. Menurut keyakinan saya, ketika itu, di taman itu, akibat dari keputusanNya jelas terpampang di hadapan Yesus. Untuk itulah Yesus harus menimbang harga yang harus Dia bayar dan 'upah' yang akan Dia terima. Menolak salib dan segala murka Allah yang tersedia di depan berarti 'kenikmatan' bagi Dia, tetapi kebinasaan bagi kita. Meneri-manya berarti 'neraka' bagi Dia, tetapi keselamatan dan surga bagi kita. Jadi, Yesus harus bergumul dan bergumul. KemanusiaanNya yang sejati manampakkan betapa hebatnya pergumulan itu, dan betapa gentarnya Dia menghadapinya. Tidak heran bila Dia harus berdoa sampai tiga kali. Tidak heran bila keringatNya terus mengalir. Tidak heran bila keringat tersebut bukan lagi keringat biasa, tetapi bloody sweat (keringat darah). Dalam pergumulan seperti ini, ketika perasaanNya begitu gemetar dan penuh takut, maka sesungguhnya wajarlah jika Yesus undur. Tetapi masalahnya, keputusan tidak sekedar didasari emosi, sebab bila demikian, betapa tdk menentunya hidup ini, dan betapa malangnya! Ada hal lain yang sangat penting, yaitu komitment, tekad, kesetiaan. Demikian juga dengan Yesus. Dia sangat takut. Dia gemetar. Tetapi Dia memiliki komitment.

Ya, kita melihat dgn jelas bhw Dia memiliki tekad. Dia memiliki kesetiaan. Komitment tersebut adalah taat dan setia sampai akhir. Dia taat kepada Bapa. Tetapi ketaatan itu bukanlah ketaatan yang terpaksa. Karena ketaatan itu juga didasari kasih. Yaitu kasihNya terhadap orang berdosa. KasihNya terhadap kita. Karena Dia tidak mau kita mengalami murka Allah yang akan datang. Murka yang amat mengerikan, yang tidak terbayangkan! Dia mau kita dilepaskan dari murka tersebut. Karena itu Dia memutuskan untuk taat dan berdoa: "Jadilah kehendakMu". Kalimat "Jadilah kehendakMu" tsb merupakan satu kalimat yang sungguh membahagiakan kita tetapi pd saat yg sama membahayakan Yesus. Ketika kemudian Dia ditangkap, dicemooh, diludahi, dicambuk dan dianiaya, dan ... bahkan ditinggalkan oleh BapaNya, maka itu adalah konsekuensi dari keputusan tersebut. Memang Dia telah rela untuk semua itu, meskipun Dia toh harus berteriak- teriak bagaikan anak kecil yang tak berdaya dan mengatakan: "Allahku Allahku mengapa Engkau meninggalkan Aku?" (Mat.27:46). Sungguh, seruan ini adalah seruan yang paling mengerikan dalam seluruh perenungan pribadi saya selama saya mengerti Alkitab, dan merenungkannya. Ketika saya masuk kepada perenungan ini, maka air matapun bercucuran tak tertahankan. Dalam pengalaman melayani, berkali-kali saya berkhotbah dengan bercucuran air mata, sampai tidak bisa melanjutkannya, bila mengkhotbahkan kalimat tersebut dengan kesediaan utk menghayatinya. Karena itu, kadang-kadang saya sengaja tidak merenungkannya sepenuhnya. Karena itu, saya sangat setuju kepada pernyataan Pdt. Dr. Bubby Ticoalu (Dosen SAAT) -dalam percakapan pribadi dengannya- yg mengatakan bahwa beliau tak pernah bisa mengkhotbahkan Kristus yang tersalib tanpa menangis!

Saudaraku, pernahkah Anda merenungkan betapa dalamnya arti keputusan di Getsemani itu? Pernahkah Anda merenungkan dan sungguh-sungguh menghayati betapa menderitanya Yesus demi keputusan tersebut? Bila pernah, dan bila Anda sungguh-sungguh menghayatinya, maka kami yakin, Anda tidak akan mau melupakan Getsemani dengan peristiwa yang amat ajaib tersebut.

Ketiga, kita memang tidak boleh melupakan Getsemani, bukan saja karena pergumulan sehebat itu, juga bukan saja karena keputusan sepenting itu, tapi juga karena di sana Yesus pun tidak melupakan kita.

Kami yakin, bahwa ketika itu wajah semua orang berdosa terpampang dihadapanNya, termasuk wajah Anda dan saya. Benarlah apa yang pernah dikatakan oleh DR. Eka Darmaputera bahwa yang membuat Yesus melekat di salib itu bukanlah paku yang besar dan panjang itu. Yang membuatNya tetap melekat di salib itu adalah kasihNya yang sedemikian besar dan sedemikian panjang kepada semua orang berdosa, termasuk Anda dan saya. Ada orang yg berkata, "Cinta itu buta". Tetapi bagi Yesus, cinta itu tidak buta, cinta itu melihat. Justru karena Yesus melihat kita, maka Dia rela begitu menderita, hingga mati demi kita. Sungguh, segalanya telah Dia berikan untuk kita. Bukan saja Dia memberikan pengajaran-pengajaran yang hebat (sbgmn dilakukan theologians/philophers) atau mukjizat-mukjizat hebat (sebagaimana dilakukan nabi2), tetapi yang terutama dari semua itu, Dia pun telah memberikan diriNya sendiri kepada kita. Sungguh, ketika saya merenungkan kenyataan penyerahan dan pengorbanan diri tsb, di tengah2 deretan ratusan ribu buku yg demikian hebat yg ditulis oleh theologians/philosophers, saya melihat betapa bedanya Yesus dgn mereka itu semua! Mrk telah
menulis dan memberi pengajaran sedemikian hebat. Tapi apakah yg mereka lakukan bagi pembacanya? Apakah yg mereka lakukan dlm kehidupan sehari-hari? Hanya Tuhan yg tahu. Yg jelas tdk pernah mrk melakukan sebanding dgn T Yesus. Yesus sendiri pernah berfirman:

"Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yoh 15:13). Hal ini justru dikatakanNya dalam khotbah perpisahanNya, yaitu beberapa jam sebelum kematianNya. Dia sendiri menggenapi apa yang diajarkanNya.

Melihat semua itu, bagaimana respon kita terhadap semuanya itu? Saya sungguh khawatir dan takut bahwa respon kita justru seperti Petrus dan kedua temannya. Di tengah-tengah pergumulan Tuhannya yang begitu berat yang justru sebenarnya bergumul untuk mereka, malah mereka tertidur! Ironis bukan? Tapi itulah kenyataannya!

Saudaraku, marilah kita melihat kehidupan kita selama ini. Apakah yang selama ini kita lakukan? Izinkan saya memberi bbrp pertanyaan yg barangkali berguna bagi perenungan Anda sekalian. Apakah ambisi Anda, yang terus membara dalam hati Anda? Bagaimanakah Anda menggunakan waktu dan segala karunia yang telah Allah berikan? Kemanakah orientasi hidup Anda? Apakah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa Anda sedang tertidur atau sedang berjaga bersama Yesus? Semoga Anda dan saya, kita bersama senantiasa berjaga bersama Yesus. Untuk itu marilah kita serahkan segalanya yang mampu kita berikan kepadaNya: waktu, uang, karunia, dsbnya. Kiranya kita tidak menghitung-hitung apa yang telah kita berikan kepadaNya tetapi sebaliknya menanyakan apa yang belum kita berikan yang seharusnya kita berikan. Itulah semangat kasih. Rasul Paulus menulis: "Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. (2 Kor 5:15).

Sekali lagi kami serukan bersama pencipta lagu tersebut di atas, “Jangan lupa Getsemani, jangan lupa sengsaraNya, jangan lupa cinta Tuhan pimpin ke Kalvari”. Ya jangan lupa Getsemani!
(selesai)