QUO VADIS DOKTOR2? QUO VADIS STT? QUO VADIS GEREJA2?

1. Rekan2 ytk, mohon doa dan kerja-samanya untuk mutu pendidikan kita, khususnya dalam bidang teologia di Indonesia.
2. Mengapa  banyak kebingungan dalam diri jemaat saat ini? Hal itu wajar,  sudah lama saya amati bahwa terjadi kemerosotan mutu pendidikan di Indonesia. Maka berlaku apa yang dikatakan Firman Tuhan:
1 Timotius 1:7 (TB)  
Mereka itu hendak menjadi pengajar hukum Taurat tanpa mengerti perkataan mereka sendiri dan pokok-pokok yang secara mutlak mereka kemukakan.

3. Ayat di atas makin nyata, kini. Itulah yang terjadi dalam diskusi antara saya dengan beberapa netters di FB. Ada awam yang tidak mau belajar, tapi maunya ngajarin orang. Untuk itu, barangkali orang tidak terlalu ambil pusing. Tapi bagaimana jika dia mengaku diri sebagai doktor? Apalagi di profilenya ditulis jelas studi S3 berkali-kali di beberapa tempat? Lalu juga mengajar, dosen di beberapa Kampus? Terlebih lagi jika bidangnya adalah studi Biblika??? Kaum awam mana yang tidak kagum?
4. Itulah yang terjadi dengan saya menghadapi pak Bernike Sihombing. Di tengah2 diskusi alot yang sedang berjalan di lamannya rekan Albert Rumampuk, dia tiba2 muncul bagai sang guru di tengah arena. Diapun mulai mengolok dan mengejek sambil bernyanyi "Heli guk guk guk...". Lalu datang dengan pertanyaan yang menguji! Maklum, pak dosen di beberapa tempat! Lihat profilenya. Lihat tempat studi S3 di mana saja.
Melihat pertanyaannya yang sangat mendasar, sederhana, saya tidak tanggapi. Lalu dia pun muncul memberi semacam pengajaran tentang Injil Yohanes.
5. Intinya, dia menulis, Sabbelianisme itu tidak salah. Lalu dia katakan bahwa Yohanes juga mengajarkan "Jesus only". Sekalipun dia menulis cukup panjang, karena itu makin terlihat kesalahannya, saya hanya menjawab: "Bapak salah".  Tapi karena dia ngotot dan mengolok-olok pakai emoticon banyak, maka saya pun ladeni dengan pernyataan ini: Jika bapak paham Injil Yohanes, tidak mungkin menyimpulkan seperti itu. Saya memberi contoh nyata bahwa sudah sejak permulaan sekali, dalam ayat 1, rasul Yohanes menyatakan siapa Tuhan Yesus. Dia menulis 3 hal penting tentang Tuhan Yesus.

Pertama, keberadaan Logos. Dia sudah ada sejak kekekalan (Yoh.1:1a: en arkhè èn ho Logos).
Kedua, relasinya dengan Allah Bapa; oknum  pertama. 1:1b kai ho Logos èn pros ton Theon
(Firman itu bersama-sama dengan Allah).
Ketiga, siapa Dia sesungguhnya? Ayat 1:1c kai Theos èn ho Logos; "Firman itu adalah Allah").

6. Namun sayang sejuta sayang, sekalipun pak BS yth dosen Yunani, dia tidak memahami ayat penting dan sangat mendasar itu!!!
Saya coba menjelaskan bahwa Yoh.1: 1b  jelas mengatakan bahwa dengan adanya artikel the  (ho) di depan Logos dan artikel di depan Theos (ton Theon), itu telah menunjukkan adanya pribadi yang berbeda.
Terlebih lagi dengan adanya kata "pros" di antara the Logos dan the God. Terjemahan LAI: bersama.
7. Sekali lagi, sangat disayangkan, dia tetap ngotot dengan pemahaman Sabbelianisme yang telah ribuan tahun dinyatakan sebagai bidat itu (bidat = ajaran menyimpang dari ajaran utama; jadi bukan sekadar beda hal-hal minor, kecil).
8. Bukankah dia dosen Yunani? Seorang netter yang nampaknya mengenal beliau mengatakannya "Pakar Ibrani dan Yunani". Maklum, mungkin dia tidak paham. Belum memiliki kemampuan menilai.
9. Tapi sejujurnya, demi semua mahasiswa yang diajar bapak tsb, saya mau katakan, dari pernyataan2nya, dia bukan pakar. Maklum jika  pak Sal Sihombing
 dan Sartika Lumbantoruan
 menulis, "Jika bapak tidak paham hal-hal mendasar Yunani, bagaimana kita bisa melanjutkan diskusi?". Dengan nada yang sama, ibu Sartika mengatakan keluhannya. Ketika pak BS di atas tetap menolak bahwa adanya artikel "ho" di depan Logos BUKAN mengatakan oknum, jadi ton Logos pros ton Theon adalah mengacu kepada Allah yang satu2nya pribadi, ibu Sartika pun kecewa. Dengan tepat ibu Sartika menjawab: "Bagaimana bapak mengatakan itu bukan oknum/pribadi? Bagaimana bapak mengartikan Yoh.1:14 Kai ho Logos sarx egeneto?
10. Rekan2, bapak/ibu ytk, siapakah Pak Salomo dan Sartika? Keduanya marga Sihombing. Jadi satu marga dengan pak Bernike. Karena itu, ketika pak BS terus ngotot dan ingin mengajar saya, tiba2 terpikir melibatkan mereka. Saya pesankan, baik2lah kalian semarga. Benar, pak Salomo langsung menyapa dengan panggilan hormat, "Bapa..."
11. Membaca debat  mereka, saya terharu, sangat bersyukur. Bagaimana tidak? Mereka adalah lulusan S1 STT TRINITY PARAPAT
, tapi kecewa akan kemampuan S3 dari STT...
12. Satu kali, seorang calon dosen melamar ke STT Trinity. Saya senang, karena mau mengajar Yunani. Tepat, kita perlukan, begitu jawab saya. Mereka berdua saya minta menguji. Semula mereka sungkan. Maklum, mau menguji S2, mereka hanya S1. Tapi karena sibuk, saya minta mereka menguji. "Jika dia memang lebih mampu, di atas kalian,  serahkan kepada Bapak untuk menguji".
Hasilnya? Mereka pun kecewa! Sambil tersenyum sedih, mereka (juga Marito Silalahi) mengatakan: "Kami baru menanyakan bahan Semester 1 Yunani 1, tapi dia nggak bisa". (Cat. Di STT Trinity ada Yunani 1, 2). Diberi kesempatan ambil Yunani 3 tapi hanya untuk yang dapat nilai minimal B+).
13. Mengapa saya membiarkan mereka menguji S2? Sejujujurnya, saya telah mengajar di beberapa STT (sebelum mendirikan STT Trinity). Karena itu, saya tahu bahwa kualitas Yunani  mahasiswa Teol di Indonesia memang parah! Saya pun lama curiga bahwa jangan2 dosen pun memang lemah seperti pak BS di atas. Bukankah kualitas mahasiswa sangat tergantung dosennya?
14. Di sinilah masalahnya! Banyak STT berani membuka gelar doktor, padahal, guru besarnya berapa????
15. Satu kali saya tanyakan Dr. Agus Santoso tentang seorang pejabat tinggi Kristen yang telah doktor. Ketika itu dia memberikan kata sambutan pada saat wisuda. "Sejak kapan bapak itu doktor? Sejak kapan studi?". Bapak Agus, senyum dan dengan gaya lembutnya menjawab: "nggak tahu". Bukankah banyak seperti itu? Jika hanya menjabat kedudukan structural, masih 'maklum'. Tapi untuk jadi dosen???
16. Itu sebabnya beberapa waktu lalu saya protes kepada satu pejabat di Depag. Persyaratan tertulis membuat program doktor harus ada sekian professor (guru besar). Dengan melihat begitu banyak STT buka program S3, apakah persyaratan itu benar2 dipenuhi? Apakah sudah ada ratusan guru besar di STT di seluruh Indonesia? Yang saya tahu, sedikit. Kok bisa? Pejabat itu hanya tersenyum 🙁 Lalu menjawab: "Amang Sagala, kita sudah jauh ketinggalan dibanding sdr kita Islam". Lalu saya jawab: "Untuk mengejar itu, kita akan membiarkan Gereja MEMBUSUK DARI DALAM?".
Kiranya mukjizat Tuhan terjadi. Mohon doa yang serius dari Bapak/Ibu yang perduli terhadap kebenaran & Gereja Tuhan di Indonesia.