STUDI TEOLOGIA, PENTINGKAH? MEMBANGUN FONDASI. PENTINGNYA AJARAN (4)

Oleh: Pdt. Dr.Ir. Mangapul Sagala, M.Th

Adanya contoh negatif seperti di atas, tidak menjadi alasan yang cukup kuat untuk menolak fakta pentingnya studi teologia yang benar dan sungguh-sungguh. Mengapa? Dalam kenyataannya, banyak ahli teologia di bawah kolong langit yang tetap beriman walau telah belajar teologia. Mereka semakin mencintai Tuhan Yesus, juga semakin percaya dan menghargai Alkitab. Sebutlah misalnya, Prof. Graham Stanton, guru besar di Universitas Cambridge, Inggris yang sangat ternama itu. Dia juga pernah menjabat sebagai ketua Novum Testamentum Societas, yaitu sebuah perkumpulan para ahli Perjanjian Baru sedunia. Namun dalam beberapa kali pertemuan dan pengalaman penulis dibimbing olehnya, sangat terlihat sikap hormat dan kecintaannya kepada Alkitab.

Dan lagi, jika studi teologia tidak penting, mengapa Gereja-gereja dan umat Allah membangun sekolah-sekolah teologia dengan berbagai fasilitasnya? Lalu, mengapa harus menyekolahkan dosen-dosen ke jenjang yang lebih tinggi, hingga ke tingkat doktor, bahkan post doctorate? Demikian juga, mengapa jemaat atau institusi Kristen mengirim banyak hamba-hamba Tuhan untuk studi teologia, bahkan sampai ke luar negeri? Bukankah semua itu memerlukan biaya yang sangat mahal? Saya yakin, mereka melakukan semua itu demi memahami teologia yang semakin memadai. Dengan demikian, ibarat sebuah bangunan, mereka memiliki fondasi yang sangat kuat. Mereka tidak menjadi dosen yang mengajarkan hal yang aneh-aneh, atau tidak menjadi pendeta yang hanya mengkhotbahkan visi atau penglihatan dari surga atau neraka. Mereka juga tidak menjadi pendeta yang menipu jemaat dengan membujuk mereka untuk jalan-jalan ke tanah suci, Yerusalem dan menawarkan pemberkatan ulang di kota Kana, atau dibaptis ulang di sungai Yordan dan sejenisnya. Dosen atau pendeta yang tidak memiliki fondasi yang kuat, akan membangun murid dan jemaat yang dengan mudah dirubuhkan oleh berbagai angin pengajaran dan godaan.

Akhirnya, hal lain yang perlu kita perhatikan adalah agar kita berhati-hati dalam memberi pernyataan seolah-olah studi teologia tidak penting berdasarkan contoh rasul Petrus. Saya telah berkali-kali mendengar contoh ini diberikan, walau sebenarnya merupakan contoh yang salah. Kesalahan yang fatal. Mengapa mengatakan rasul Petrus tidak pernah belajar teologia? Jika teologia dipahami sebagai ilmu untuk mengenal Allah (Theos= Allah), justru rasul Petrus belajar teologia jauh lebih baik dan bermutu dibanding banyak orang yang belajar teologia pada saat ini. Dalam hal kwantitas, mereka bukan belajar dua atau empat jam sehari, atau satu bulan dalam satu semester, sebagaimana dilakukan oleh beberapa sekolah teologia sekarang ini. Akan tetapi, rasul-rasul diajar dari pagi hingga malam, selama kurang lebih tiga tahun penuh. Bukan saja demikian, dalam hal kwalitas, mereka dididik secara langsung oleh Yesus, yang adalah Allah sendiri. Mereka melihat dan mengalami langsung karya-karya Tuhan Yesus tsb. Jadi, mereka tidak sekadar belajar tentang Allah. Tapi, mereka mengalami Allah. Hal itulah yang ditegaskan dalam pernyataan berikut: “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami... itulah yang kami tuliskan” (1 Yoh.1:1-2). Jadi, bagaimana? Pentingkah studi teologia? Kita jawab dengan penting, bahkan sangat penting. Soli Deo gloria.-