STUDI TEOLOGIA, PENTINGKAH? PENTINGNYA PENGAJARAN (3)

Oleh. Pdt. Dr.Ir. Mangapul Sagala, M.Th

Pentingkah belajar teologia? Jika penting, sejauh mana penting? Cukup penting? Sangat penting? Jika sangat penting, mengapa ada sebagian orang yang meremehkannya? Barangkali, hal itu tidak dikatakan secara eksplisit, namun terlihat dari tindakannya. Itulah sebabnya, ada orang yang begitu berani menjadi gembala dari sebuah Gereja besar dan menjadi pengajar tanpa memiliki latar belakang studi teologia!

Di pihak lain, ada juga orang yang berani memberikan pernyataan-pernyataan yang bersifat teologis, namun orang tersebut juga tidak memiliki latar belakang teologia. Atau, ada juga orang yang dengan berani menaruh gelar-gelar akademis, seperti S.Th/M.Div/M.Th bahkan doktor, di belakang atau depan namanya, walau gelar itu tidak disertai studi teologia yang bertanggung jawab. Dengan perkataan lain, yang diperlukannya adalah gelar, pengakuan. Namun, bukan isi di balik gelar tsb. Tentu saja, hal seperti itu dapat disebut penipuan, yang disadari atau tidak, sangat berbahaya. Menipu diri sendiri, juga menipu orang lain yang mendengar khotbahnya atau membaca tulisannya.

Pada waktu yang lalu, seorang pengkhotbah dengan suara yang sangat lantang dan dengan cara yang meyakinkan memberikan sebuah pernyataan melalui sebuah siaran radio Kristen. Dengan bahasa yang dicampur dengan bahasa Inggris, orang tersebut mengatakan: “Saya mau mengatakan kepada Anda sekalian bahwa untuk menjadi hamba Tuhan, Anda tidak perlu belajar teologia, menjadi S.Th, atau M.Th atau bahkan doktor sekalipun. Untuk apa? Banyak orang, semakin belajar teologia, semakin tidak percaya Alkitab. Semakin belajar tinggi-tinggi, semakin tidak beriman”. Dia tidak berhenti di sana. Selanjutnya, untuk lebih meyakinkan pendengarnya, dia memberikan contoh Alkitab. “Perhatikan rasul Petrus. Dia adalah orang biasa, seorang nelayan dari Galilea, ordinari person, and yet, God has used him wonderfully”.

Saya tidak tahu bagaimana respons pembaca terhadap pernyataan tersebut di atas. Tapi yang jelas, kelihatannya, pengkhotbah tsb tidak sendiri dalam memberikan pandangan yang demikian. Cukup banyak pengikutnya. Dalam kenyataan praktis, sebagaimana saya sebutkan di atas, cukup banyak pelayan-pelayan atau pengkhotbah yang memiliki pandangan sejenis itu.

Menurut saya, pernyataan tsb di atas, ada benarnya, tapi tidak sepenuhnya benar. Barangkali, kita juga mengamati fakta adanya orang-orang yang semakin belajar teologia tinggi-tinggi, bukan semakin mencintai Tuhan dan Alkitab. Sebaliknya, semakin liberal. Meragukan dan menolak pernyataan- pernyataan Alkitab, yang oleh Gereja diterima sebagai kanon atau ukuran, standard kebenaran. Kenyataan seperti itu membuat seorang pernah menyindir: “Hati2, seminary berubah menjadi cemetery (kuburan)”.

Sebagai contoh, seorang rekan yang sedang belajar teologia, menolak peristiwa terbelahnya laut Teberau sebagai fakta sejarah. Dia bukan saja menolaknya, tapi juga menertawakan rekan-rekannya yang menerima hal itu sebagai fakta. Namun entah mengapa, ketika dia kembali ke Indonesia, dia kelihatannya mendadak menjadi orang beriman, percaya dan menerima mukjizat-mukjizat di dalam Alkitab sebagai fakta sejarah. “Kok bisa? Terjadi perubahan yang sungguh-sungguh, atau tidak jujur?” Barangkali itu reaksi Anda. Bisa juga karena perubahan, tapi bisa juga memang tidak jujur.

Dalam pengamatan saya, salah satu yang menyedihkan dari teolog- teolog liberal adalah dalam hal ketidakjujuran. Itulah sebabnya, jangan terkecoh – sebagaimana pernah saya alami- jika Anda mendengar mereka berkhotbah di atas mimbar. Mereka seolah olah mengimani apa yang mereka khotbahkan tsb. Pernah mendengar pernyataan berikut ini? “Tillich the preacher and Tillich the theologian are two different things”. Maksudnya, Paul Tillich, salah seorang teolog hebat tersebut, jika berkhotbah di atas mimbar, kedengarannya sangat Alkitabiah. Percaya dan mengimani pernyataan- pernyataan Alkitab.
Namun jika membaca tulisan-tulisannya, waw!... (Bersambung)