SERUAN PENDERITAAN ROHANI

PENDERITAAN YESUS & KEBAHAGIAAN KITA
Oleh. Pdt.Dr.Ir Mangapul Sagala, M.Th

"Eli, Eli, lama sabakhtani?"
Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? (Mat.27:46).

1. Sejujur-jujurnya, dari seluruh kalimat Yesus di kayu Salib, kalimat ke-4 di atas merupakan kalimat yang paling menyedihkan dan mengerikan. Itulah sebabnya, saya mengerti jika seorang hamba Tuhan yang sangat senior pernah berkhotbah, “Belum pernah saya mampu mengkhotbahkan ucapan keempat itu tanpa terharu dan mencucurkan air mata”.
Hal yang sama juga saya alami. Sering kali tidak berdaya melanjutkan khotbah ketika sungguh2 menghayati Sabda Tuhan tsb.

2. Bagaimanakah kita memahami seruan keempat tsb? Dengan jelas Dia memanggil Allah dengan “AllahKu, AllahKu”. Lalu dengan jelas pula dikatakan bahwa Allah meninggalkanNya. Akibatnya, tidak sedikit orang yang salah mengerti akan ucapan tsb.

3. Mengapa Dia menyapa dengan "Allahku?" Mengapa bukan dengan “Bapa” sebagaimana ucapan pertama dan terakhir?

4. Dari tujuh ucapan Yesus di atas kayu Salib, ada tiga yang berbentuk doa, yaitu: yang pertama, keempat dan ketujuh. Ucapan pertama dan ketujuh Tuhan Yesus menyapa dengan “Bapa”. Namun kali keempat ini Yesus memanggil dengan “AllahKu”.
Ini mengandung makna teologis yang dalam. Kita tidak boleh salahmengerti, seperti dilakukan aliran Saksi Jehova. Mereka menafsirkan bahwa itu membuktikan Yesus bukan Allah.

5. Tafsiran aliran SJ di atas jelas salah. Jikalau kita membaca Injil, khususnya Injil Yohanes, dengan sangat jelas diajarkan bahwa Yesus, atau Firman itu bukan hanya bersama Allah sejak kekekalan (Yun. kai ho Logos en pros ton Theon). Namun Yohanes juga menyatakan bahwa Firman itu adalah Allah sendiri (kai Theos en ho Logos; Yoh.1:1).
Jadi, apa yang menyebabkanNya memanggil dengan “AllahKU?” Sesungguhnya, dalam ucapan keempat itulah tercermin dengan sangat jelas peran Yesus yang menggantikan manusia berdosa. Saat itu, genaplah nubuatan para Nabi.

6. Sekitar tujuh ratus tahun sebelumnya, nabi Yesaya sudah menubuatkan:

“Dia tertikam karena pemberontakan kita, Dia diremukkan karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadaNya...” (Yes.53:5).

7. Jadi jelaslah, dosa & pemberontakan kita manusia yang membuat Allah meninggalkan Dia. Dengan perkataan lain, seluruh murka Allah akibat dosa-dosa manusia telah ditimpakan kepadaNya, sebagaimana dinubuatkan oleh nabi besar Yesaya tsb di atas. Hukuman yang seharusnya dialami oleh umat manusia berdosa –oleh kita semua- telah diderita, ditanggung oleh Yesus.

8. Nabi Yesaya menyerukan bahwa dosa memisahkan manusia dari Allah (Yes.59:1-2). Dan itulah yang terjadi di kayu salib. Akibat dosa-dosa manusia, akibat dosa-dosa kita semua, Allah yang mahasuci terpisah dari Yesus. Dengan demikian, kita dapat memahami pernyataan teolog besar Perjanjian Baru, yaitu rasul Paulus berikut:

"Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah. (2 Kor. 5:21)

9. Dari seruan di atas, kita melihat dengan jelas penderitaan rohani Yesus yang sangat dalam, terpisah dan ditinggalkan oleh Allah Bapa. (SeruanNya yang ke-5, yaitu "Aku haus" menunjukkan penderitaan jasmani). Hal itu, belum pernah terjadi di dalam hidup Yesus. Peristiwa itu, memang merupakan rahasia (musterion) yang tidak akan pernah dapat kita pahami sepenuhnya. Namun, meski kita tidak mampu memahaminya, mari kita menerima dan mengimaninya dengan segenap hati kita. Dengan mengimani rahasia penderitaan Yesus yang tidak terpahami itu, kita disadarkan bahwa seruan itu mengakibatkan berkat yang terindah & terbesar bagi kita.

10. Mari kita meyakini, tanpa sedikitpun ragu kenyataan penting ini: kita memang orang berdosa dan diperbudak dosa. Karena itu, seharusnya dimurkai oleh Allah.

11. Apakah Covid19 juga bentuk murka Allah? Apakah korban yang sudah ribuan orang di RI dan puluhan ribu orang di dunia, akibat dosa?
Sekalipun ada yang menganggapnya demikian, namun saya menolaknya.

12. Mengapa saya menolak Covid19 sebagai bentuk murka Allah?
Mari kita juga meyakini, bahwa sekalipun kita berdosa, namun, karena Yesus telah menanggung murka itu, kita tidak lagi menanggungnya; karena Yesus telah ditinggalkan, maka kita tidak perlu lagi ditinggalkan. PenderitaanNya adalah demi kebahagiaan kita, salibNya adalah demi mahkota kita. No crown, without cross, demikian ditegaskan teolog Jerman, Dietrich Bonhoeffer. Itu sebabnya, setelah sempurna penderitaan Yesus: penderitaan secara rohani (ke-4) dan jasmani (ke-5) pada ucapan ke-6 Yesus menyerukan: "Sudah selesai".

13. Akhirnya, di tengah2 penderitaan besar bahkan maut yang mengancam kita, mari kita lawan segala pemikiran & godaan jahat dengan Sabda Tuhan berikut:
“... Yesus yang melepaskan kita dari murka Allah yang akan datang” (1 Tes.1:10).

“Dia yang tidak mengenal dosa, dijadikan dosa karena kita” (2Kor.5:21).

Selamat memperingati Jumat Agung.
(Bersambung)
#StayHealthyStayHome
#DiRumahSaja