KELOMPOK KECIL & PEMBANGUNAN KERAJAAN ALLAH

Pdt. Dr. Ir. Mangapul Sagala, M.Th
#Gereja
#TetapTeguh
#KelompokKecil

1. Apa yang terjadi bila larangan untuk beribadah di gedung Gereja sampai berkepanjangan? Apakah Gereja akan hancur tercerai berai? Jawab saya, TIDAK.

2. Mengapa? Karena Allah telah membuktikan kuasaNya jauh lebih besar dari pada segala kuasa di bumi.
Matius 28:18 (TB) Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi.

3. Sebenarnya, Sejarah Gereja menunjukkan bahwa selama 250 tahun Gereja pernah dalam masa aniaya. Dimulai dari Kaisar Nero (tahun 64) yang membakar Gereja, sampai kepada Kaisar-Kaisar berikutnya (Antiokhus, dll), terus menerus umat Tuhan dikejar-kejar dan dianiaya! Akhir penganiayaan terjadi setelah pertobatan Kaisar Konstantin (312 M).

4. Apakah Gereja hancur? Nyatanya tidak. Sebagaimana saya tuliskan beberapa hari yang lalu, dokter Lukas menuliskan dengan sangat jelas bahwa yang bisa dihancurkan musuh hanya gedung Gereja, bukan iman orang2 percaya. Kisah Para Rasul 8:4 (TB) Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.

5 Apa rahasianya? Kelompok Kecil (KK). Mereka bertemu dan saling menguatkan dalam kelompok2 kecil di tempat2 tersembunyi. Sebenarnya, rahasia KK telah mulai dari Perjanjian Lama. Dapat kita baca jelas dalam Kitab Daniel bagaimana Daniel dan ketiga rekannya tetap bertahan dalam masa sulit (Daniel 2 dstnya).

6. Sejak tahun 1976, yakni 44 tahun yang lalu, saya dibina dalam Kelompok Kecil. Sebagai seorang anggota jemaat tradisional, HKBP, hal itu suatu yang aneh, asing bagi saya. Apalagi istilah2 yang perkenalkan, seperti HIDUP BARU, PENTINGNYA SAAT TEDUH serta mencatatnya... namun, karena yang membina saya adalah senior yang sangat saya hormati & kagum akan imannya, serta keberhasilannya di Kampus, saya ikuti juga.

7. Kelompok Kecil (KK) yang rutin dilakukan di Kampus terdiri dari 3-4 orang (paling banyak 7 orang). Kami bertemu secara teratur tiap Minggu selama kurang lebih 2 jam. Kami mulai dengan sharing singkat, bagi pengalaman di Minggu lalu, lalu puji2an (5 menit), doa pembukaan, pembacaan Alkitab serta pembahasannya (60-75 menit). Selebihnya adalah puji2an penutup, berbagi pokok doa dan saling mendoakan. Pembahasan yg dilakukan, mengikuti buku terbitan Perkantas: Memulai Hidup Baru. Setiap Minggu, juga diberikan ayat hafalan, yang akan diulang setiap pertemuan berikutnya. Setelah selesai KK, kemudian kami masuk KTB (Kelompok Tumbuh Bersama), juga KK tapi sama-sama belajar, saling mengajar, tidak lagi dibina. Anggota KTB saya adalah Prof.Dr. Sunarjo (guru besar UI sekarang), Ir. Rully Simanjuntak, M.Eng (mantan salah satu direktur PLN), Ir. Tadius Gunadi, MRE (?), dan saya sendiri.

8. Sejujurnya, KK itu membawa pemahaman baru bagi saya. Juga mengubah kerohanian & karakter. Sejak saat itu, saya makin menghayati apa yang disebut Kristen DAGING, BAYI & DEWASA (1Korintus 3:1-2; Efesus 4:13).

9. Sebelumnya, saya giat ke Sek Minggu di Gereja, lalu aktif di remaja (HKBP Balige) menjadi pemimpin koor (NHKBP Tanjung Pura). Tapi dalam semua kegiatan itu, tidak melakukan apa yg disebut Saat Teduh pribadi, tidak ada bimbingan membaca Alkitab tiap hari, membacanya dari Kejadian sampai Wahyu. Intinya, KETIKA ITU, KEROHANIAN = AKTIVITAS.

10. Setelah mengalami pembinaan tsb, saya kembali melihat ke belakang, betapa pentingnya pembinaan yang baik & benar. Di HKBP Kernolong Jakarta, saya tidak hanya terlibat koor (NHKBP), tapi juga mengambil bagian menjadi guru SM & membina guru2. Di sana juga kami (bersama Drs Robert Tobing, dkk) kami mengadakan pembinaan KK untuk remaja. Melalui KK tsb, Sek Minggu & Remaja Kernolong terus bertumbuh dan bertambah berlipat ganda. Akibatnya, Natal SM yg sebelumnya hanya satu kali (itupun tidak penuh Gereja), akhirnya harus diadakan dua kali. Terpujilah nama Tuhan.

11. Sebenarnya, Kelompok Kecil remaja Kernolong yang terus bertumbuh & berkembang itu ADALAH CIKAL BAKAL IBADAH PAGI BERBAHASA INDONESIA DI HKBP KERNOLONG.

12. Ketika remaja terus bertambah, maka majelis ketika itu mengusulkan agar ibadah mereka dipindahkan ke Gereja (Kramat IV) yang ketepatan berdekatan dengan tempat ibadah Sek Minggu di sekolah PSKD (nama ketika itu). Ternyata, anggota jemaat lain juga hadir pada jam 7.00 pagi itu. Tidak sampai dua tahun, ibadah itu resmi dilebur menjadi ibadah I berbahasa Indonesia, dan ibadah 2 berbahasa Batak (jam 10.00).

13. Peran KK juga sangat nyata dalam pembinaan di Kampus2. Dapat dikatakan, persekutuan Kampus ditopang oleh KK yang baik. Jika Persekutuan Mahasiswa di Kampus (PMK) hanya besar dalam jumlah, tapi tidak ditopang KK yang baik dan berlipat ganda, biasanya PMK itu bagai balon yang segera kempes!

14. Menarik sekali, di Kampus tidak ada pendeta (kecuali di Kampus Kristen). Kampus UI, di masa NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) melarang mengundang pendeta2 jadi pembicara. Bagaimana PMK bisa bertumbuh dan bertambah? Melalui orang-orang yang dibina di KK. Jadi, kami kehilangan para pendeta. Tapi kami tetap bertumbuh & dibina dalam KK. Sejak saat itu, kami TIDAK LAGI TERGANTUNG KEPADA PDT. Hasilnya, bukan hanya di Teknik UI. Kampus2 lain di UI juga mengalami dampak KK itu, juga PMK di luar UI, seperti di UKI, bahkan sampai ke Bandung (ITB). Walau di UKI ada pendeta, namun PMK di FT UKI dirintis oleh KK dari luar UKI (saya dan bbrp rekan). Maklum, banyak Pdt tidak terbiasa dengan KK, pelayanan mereka adalah khotbah. Mereka tidak diajar soal KK. Syukur, di STT Trinity, KK dan Pemuridan masuk ke dalam kurikulum. Kita juga mengadakan KK tiap Kamis. Dengan demikian, lulusan STT Trinity tidak disiapkan hanya jadi pelayan mimbar, tapi merintis umat melalui KK.

15. Itu sebabnya, jika Tuhan izinkan kondisi seperti sekarang, saya berdoa & berharap, jemaat terus maju dan bertambah banyak. Rahasianya, SETIA DALAM KK (ibadah keluarga di rumah).

16. Seperti sudah saya tuliskan berkali-kali, ibadah di rumah itu sah, sesuai janji Tuhan. Di mana 2 atau 3 orang berkumpul dalam namaNya, Dia hadir.

17. Apakah harus on line? TIDAK. Tapi boleh juga. Belajarlah jadi Gereja yang mandiri. Siapa tahu, satu kali, ibadah on line pun tidak memungkinkan. Faktanya, di banyak desa-desa, ibadah on line tidak memungkinkan. Seperti saya tulis sebelumnya, buat ibadah mulai dari sederhana: puji2an, doa pembukaan, baca Alkitab (Misalnya berurutan dari Injil Yohanes). Lalu, bagikan apa yg didapat dari ayat tsb. Pujian respons. Akhiri dengan syukur. Jangan lupa, tetap JAGA JARAK. Itulah yang kami lakukan di rumah. Salam akhir pekan. Segala Kemuliaan bagi Allah.-