SOAL PERSEMBAHAN ITU.

Oleh. Pdt. Dr.Ir. Mangapul Sagala, M.Th
#Persembahan
#Kolekte

1. Rekan2 ytk, ini jawaban saya sekaligus kepada penanya via japri, termasuk dalam group FB "Forum Warga Gereja".

2. Sejak awal saya antara setuju & tidak akan adanya ibadah on line. Banyak faktor untuk setiap jawaban. Saya bisa setuju, jika itu dilakukan dengan motivasi murni, mau setia melayani jemaat. Terlebih yang sangat memerlukan. Tapi bisa tidak setuju, karena mendidik anggota keluarga ibadah Mandiri. Ibarat bayi, jangan terus disuapi. Sebagaimana saya tuliskan, "Tidak akan selamanya jemaat bisa on line". Terlebih lagi, saya sangat tidak setuju JIKA IBADAH ON LINE DIUPAYAKAN BEGITU RUPA, AGAR JEMAAT BISA DITAGIH PERSEMBAHAN. Ini yang saya sebut, "Hati2 mengupayakan ibadah on line, tapi matanya ke duit".

3. Rupanya, jadi kontroversi juga soal persembahan itu. Ada yg dengan marah mengatakan, "Dari mana pendeta bisa makan jika persembahan TDK diberikan?"
Jadi, membaca jawaban saya inipun, saya siap jika harus pro-kon.

4. Saya tidak tahu apakah kalian Pdt atau anak Pdt. Tapi sebagai Pdt, saya sangat SEDIH jika konsep jemaat adalah memberikan persembahan buat makan Pdt.

5. Aduh...kok gitu ya pemahaman kita? Pantes banyak yang menghina & merendahkan pendeta.

6. Sesungguhnya, Pdt sejati itu dihidupi oleh Tuhannya, kepada siapa dia menyerahkan diri. Jadi, rekan Pdt jangan pernah mengemis kepada siapapun, apalagi orang2 kaya yang belum sungguh paham makna persembahan!

7. Sekalipun Tuhan dapat memakai uang persembahan buat keperluan GerejaNya, salah satu utk Pdt, namun janganlah sampai Pdt/imam mendatangi rumah2 utk kehidupan imam/pdt.

8. Saya melayani Tuhan, meniggalkan Ir dari Universitas bergengsi di Republik, juga jurusan sangat basah, istilah orang. Selain itu, karena abang ipar saya meninggal mendadak (jantung), saya harus mengambil alih tugasnya sebagai Direktur sebuah PT LT Jaya, yang saat itu sedang naik daun dengan berbagai proyek dari Pemprov. DKI. Namun demi taat kepada panggilanNya, saya tinggalkan semua.

9. Seorang teman baik (juga alumnus UI keberatan atas keputusan saya. Dia berkata begini (di awal saya mau jadi staf Perkantas/Pdt): "Sagala, nanti anakmu makan apa? Istrimu pakai lipstick apa?" Tetap saja kamu melayani Tuhan sambil megang PT tsb. Apalagi, keahlianmu adalah baja.

10. Sangat sedih mendengarnya. Tuhan tidak sanggup mendukung hambaNya? Tapi segera saya jawab: "Tuhanku yg kulayani, Dia akan mencukupi". Setelah masuk Perkantas, 'pemilik' Yayasan Perkantas tahu bhw gaji Perkantas sangat sedikit. Bahkan di kala itu TDK tentu jumlahnya & kapan dapatnya. Lalu beliau (Ir. Soen Siregar, alm), menawarkan pekerjaan rangkap, jadi staf Dale Carnegy International. Dia menjanjikan dapat gaji ... jika mau. Namun saya tolak! Saya mengatakan, "Saya menyerahkan diri kpd Tuhan di Perkantas. Biar Tuhan mengatur".

11. Dalam pergumulan selanjutnya, Tuhan bicara jelas. Saya mendapat Saat Teduh dari Maz.24. "Tuhanlah yg punya bumi dan segala isinya...". Saya pegang Firman itu.

12. Dalam perjalanan sebagai staf, dengan 5 anak, ada yg mengkhawatirkan: "Bgmn bisa jadi staf dgn 5 anak? Apa bisa sekolah?". Bagi yg mengenal saya dan keluarga, tentu tahu betapa hidup kami dipelihara Tuhan. Tidak kaya raya spt bbrp Pdt yg menjadikan persembahan miliknya! Tapi TDK pernah BERKEKURANGAN.

13. Jadi rekan2, mari kita jauhkan diri dan anak2 sampai cucu berharap kepada persembahan, karena itu TEGA menagih ke rumah-rumah, atau mengemis kepada jemaat, baik halus maupun kasar.

14. Tuhan tahu bagaimana mencukupi hamba2Nya. Belum tentu Dia memakai orang2 kaya. Mungkin bagaikan nabi Elia, kadang Dia pakai burung gagak, atau seorang janda miskin di Sarfat (1Raja-Raja 17:9dst).
Jgn kita menghina penyerahan hamba Tuhan & Tuhan, di mana seolah-olah kitalah yg bertanggung jawab melalui KOLEKTE yang ditagih ke rumah2.

15. Jika selama ini (di masa normal) pendeta-pendeta telah mendidik jemaat dengan benar, maka saatnya jemaat dewasa sadar apa tanggung jawabnya kepada Tuhan dan GerejaNya. Tapi jika pendeta-pendeta salah berkhotbah, tidak mendewasakan jemaat, maka mereka tidak akan memahami itu. Dikejar ke rumahpun, mereka bisa kunci rumah.

16. Di beberapa Gereja yang saya kenal, kantong persembahan TIDAK diedarkan, apalagi sampai 2-3 kantong! Di Gereja itu hanya ada peti persembahan di pintu masuk, di mana jemaat secara suka-rela memberikan kepada Tuhan. Ya, kepada TUHAN, bukan kepada pendeta.

17. Akhir kata, kiranya rekan2 paham esensi tulisan saya yg agak panjang. Anyway, thanks untuk rekan2 telah memikirkan hamba2Nya. Tapi biar kita lakukan bagian kita. Let God takes care His Servants.