TETAP TEGUH DI TENGAH BADAI

COVID19 PERSIAPAN MASA ANIAYA?
#HancurkanCovid19
#PutusMataiRantaiPenularan

1. Selamat beribadah saudara2ku semua, baik yang di rumah, maupun di mana saja.

2. Kemarin saya mengusulkan pembacaan Kisah Rasul 8:1-8. Kita akan merenungkan ini bersama Mat.14:22-33.

3 Inilah isi Kisah yang sangat mengerikan dialami oleh umat perdana.
Kisah Para Rasul 8:1-8 (TB) Saulus juga setuju, bahwa Stefanus mati dibunuh. (8-1b) Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.
Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.
Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.
Mereka yang tersebar itu menjelajah seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.
Dan Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias kepada orang-orang di situ.
Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu.
Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan.
Maka sangatlah besar sukacita dalam kota itu.
=========akhir kutipan====

4. Tema di atas, Tetap Teguh di Tengah Badai, pernah menjadi tema Seminar yang saya bawakan bersama Dr. SAE Nababan. Ketika itu, diadakan oleh Perkantas dengan mengundang para pendeta, jemaat antar Gereja di Palembang, yaitu 13 tahun yl, 31 Maret 2007. Tema itu makin relevan saat ini, ketika kita menghadapi virus maut.

5. Jika kita perhatikan bacaan di atas, terjadi aniaya yang sangat hebat terhadap umat Tuhan. Aniaya itu jauh lebih mengerikan & menakutkan dari Covid19. Aniaya itu bukan hanya mengancam dari luar (di dalam Gereja) tapi juga sampai ke rumah-rumah (ayat 3). Di hadapan umat, Stefanus baru dibunuh dan dihabisi (Kis.7), namun tidak berhenti di sana. Mari kita perhatikan bagaimana rasul Paulus "membinasakan" jemaat. Kata yang digunakan Penginjil Lukas, Yunani, elumaineto, adalah bagaikan tindakan singa melumat, memakan mangsanya.

6. Jadi, jika saat ini kita masih dapat beribadah di rumah, bersekutu dengan Allah Sang Penebus hidup kita, itu layak disyukuri.

7. Mengapa Allah mengizinkan aniaya terjadi?,Apakah Allah tidak sanggup menghancurkan musuh2, termasuk Saulus?
Jawabnya, sanggup, tapi itu diizinkanNya demi maksud & tujuannya! Kelak Allah menaklukkan Saulus dan membuatnya jadi rasul Paulus (Kisah 9)

8. Hal yang sama dengan Covid19. Virus ini terlalu kecil bagi Allah kita yang Mahakuasa. Hal ini harus kita YAKINI dengan teguh. Jangan biarkan iman kita goyah seakan-akan Tuhan meninggalkan kita. Atau Tuhan tidak berkuasa.

9. Tetapi sebagaimana pengalaman rasul Petrus (Mat.14), ketika mereka diombang- ambingkan angin sakal, Tuhan Yesus segera datang menghampiri mereka. Dia ada & hadir di tengah badai itu. Sayang sekali, rasul2 mengira Dia hantu, karena itu, berteriak-teriak ketakutan (Markus 6:49).

10. Syukur, Tuhan Yesus sanggup mengusir ketakutan mereka dan bersabda: "Tenanglah, Aku ini, jangan takut" (Mat.14:27). Dia juga sanggup menghentikan badai (Mat.14:32).

11. Kembali ke kisah penganiayaan umat perdana. Menarik mengamati kisah tsb. Akibat aniaya itu umat kucar kacir, melarikan diri, menyebar sejauh mungkin!
Namun, apakah iman mereka hancur? Apakah Injil disingkirkan?

12. Jawabnya, TIDAK. Kita perhatikan pada ayat 4 di atas, "mereka yg TERSEBAR itu menjelajah SELURUH NEGERI sambil MEMBERITAKAN INJIL".

13. Allah memberkati kesetiaan umat, Dia mengerjakan mujizat: roh2 jahat diusir, orang lumpuh & timpang disembuhkan (7). Lalu mereka juga dilukiskan "maka sangatlah besar SUKACITA dalam kota itu" (8).

14. Luar biasa, umat bersukacita di tengah aniaya! Mujizat Allah terjadi.

15. Bagaimana dengan kita, menghadapi covid19? Sudah siapkan kita? Apakah hari ini kita mengalami sukacita & damai sejahtera menikmati ibadah pribadi, keluarga di rumah? Apakah kita sanggup melihat tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam kesulitan, penderitaan bahkan maut yang sedang dialami? Apakah kita sanggup bersukacita karena sadar akan mujizatNya mengelilingi kita?

16. Atau, adakah yang kehilangan pegangan? Tidak bisa beribadah, kecewa, terus mencucurkan air mata dan kehilangan iman? Bagaimana jika aniaya seperti dialami Gereja mula-mula terjadi, di mana Anti Kristus mengejar umat sampai ke rumah2? Apakah sudah teguh berdiri? Atau mau bergantung kepada pendeta? Percayalah, jika saat itu terjadi, gembala2 upahan yang orientasinya uang, uang... & jabatan, pasti lebih dulu lari. Nubuatan Tuhan Yesus akan terjadi lagi. (Yoh.10:12).

17. Adakah Gembala seperti itu, di tengah2 ancaman maut & larangan pemerintah, tetap MENGHIMBAU ANDA dengan cara sehalus apapun untuk beribadah DI GEREJA HARI INI? Lupakan & tinggalkan. Saya ragukan motivasinya: mungkin bukan jiwa dan dirimu, tapi demi dompetmu!

18. Saya sangat yakin, kondisi ini Allah izinkan dengan tujuan penting. Dia menyuruh seluruh dunia, bangsa-bangsa besar, termasuk kita, merenungkan betapa rapuhnya kita sebenarnya. Bisa hilang lenyap sekejap (Maz.73:19).

19. Akhirnya, mari berdiam diri, beribadah SEJATI denganNya, bukan rame-rame, bukan ikut2an. Allah memerlukan jiwamu, bukan duitmu, juga bukan nama besarmu. Untuk jiwamu, hidup kekalmu Tuhan Yesus tersiksa, berdarah-darah...mati di kayu Salib.

20. Bagi para pendeta, yang menipu dan munafik, saatnya BERTOBAT! Jangan bermain- main, yang kau tabur pasti akan kamu tuai (Gal.6:7-8).

Akhir kata, kita harus maju bersama, saling mendoakan dan membangun. Kiranya ini semua membawa kemajuan Injil. Badai ini pasti berlalu, reda, sepasti yang dialami Petrus di Galilea. Saulus yang ganas pasti diubahkanNya jadi rasul Paulus.
Soli Deo gloria.-