IBADAH DI RUMAH

KE GEREJA BELUM TENTU = BERIBADAH

1. Bagi yang terbiasa beribadah di Gereja, memang merasa sesuatu yg kurang jika tidak ke Gereja.

2. Namun demikian, perasaan, bukan iman. Perasaan harus dilatih agar tunduk kepada iman.

3. Satu kisah nyata. Ketika saya bertahun-tahun melayani di HKBP Singapura (selama studi di sana), ada yang mengeluh. "Amang, bagaimana pendapat Amang, kata si X di sini dia TDK MERASAKAN ada Roh Kudus. Karena itu, dia pindah ke Gereja Y". Saya menjawab, "Hadirnya Roh bukan karena perasaan. Itu janji Tuhan, di mana 2 stay 3 orang berkumpul DALAM NAMANYA Dia hadir. (Mat. 18:20).

4. Contoh lain, bila orang Batak mengadakan pesta Bonataon (awal tahun) atau pertemuan lain, walaupun di sana didahului dengan ibadah, ada saja mengatakan: "Saya belum ke Gereja" .

5. Tentu saja, dia belum ke Gereja, karena ibadah itu diadakan di rumah atau gedung pertemuan. Namun, sebenarnya sudah beribadah. Mana lebih penting, ke Gereja atau beribadah? Saya malah mengamati ada orang ke Gereja sikap ibadahnya tidak nampak. Ketika puji2an, dia sama sekali tidak ikut. Ketika khotbah, bisik2 mengacaukan konsenterasi!

6. Sebenarnya, BERIBADAH BISA DI MANA SAJA. YANG PENTING, HATI YANG SUNGGUH2. Meminjam istilah tokoh refornasi Luther: BERIBADAH ADALAH KETIKA TERJADI PERTEMUAN ANTARA DUA PRIBADI: PENYEMBAH & YANG DISEMBAH. (Bandingkan dgn penegasan Tuhan Yesus pada Yoh.4:21,24).

7. Jadi, dengan kondisi mengancam akibat Covid19, bagi rekan2 yang mau beribadah di rumah, silakan lakukan dengan sangat baik. Beribadah di rumah itu sangat sah. Bukankah umat mula-mula beribadah di rumah-rumah?

8. Namun, jangan heran, sekalipun mereka beribadah di rumah, namun, Alkitab (R. Paulus) tetap menyebut mereka Gereja (Yunani, Ekklesia). Terjemahan Alkitab, "jemaat".

9. Mari kita perhatikan ayat berikut:
Roma 16:3, 5 (TB) Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila,... Salam juga kepada jemaat di RUMAH mereka. (Jemaat, Ekklesia).

10. Jadi berhentilah terikat pada gedung Gereja. Milikilah kesungguhan hati, jiwa & Roh untuk beribadah kepada Tuhan.

11. Lalu bagaimana liturginya? Tata ibadahnya? Mohon maaf, lupakan semua ikatan tata liturgi & keterikatan kepada liturgi formal. Tata ibadah yg bagus, memang baik, tapi memiliki itu TIDAK SAMA dengan beribadah. Tata liturgi itu sesuai kondisi, pemahaman teologi, dll. Singkat & panjang, sesuai penghayatan, kesungguhan, sikon.

12. Tapi seperti apakah tata liturgi yg diajarkan Alkitab? Tidak ada.
Sebagaimana dikatakan M. Luther, pertemuan dgn Sang Pencipta, itu yg penting.

13. Apakah harus ada persembahan, KOLEKTE DALAM BENTUK UANG?

14. TIDAK!!!!!

15. Silakan ahli Sejarah Gereja menyebut abad berapa persembahan (uang) mulai masuk dalam ibadah. Yang jelas, persembahan pujian, persembahan hati, persembahan buah tangan, atau apapun bawalah ke pada Tuhan.

16. SAYA SANGAT SEDIH KETIKA ORANG MENGATAKAN GEREJA TERTENTU TETAP MENGADAKAN IBADAH TGL 22 DSTNYA KARENA KOLEKTE! Jika itu penyebabnya, maka celakalah pelayan2, gembala di sana yang membiarkan umat melawan himbauan pemerintah dan membiarkan kesempatan penularan terbuka lebar...

17. Jadi, mari beribadah di rumah seperti anjuran pemerintah. Dari rumah, kita doakan agar Allah menghancurkan 'tulah', penyakit sampar, covid19. Sesungguhnya, Allah kita jauh lebih besar dari covid19. Allah mengizinkan ini terjadi demi maksud & tujuanNya yang mulia. Acaranya? Buat sederhana: 1. Pujian 2. Doa pembukaan 3. Pujian lagi. 4. Baca Alkitab (sesuai Almanak, sesuai bahan penuntun. Jika belum ada, saya usul Kisah 8:1b-8). 5. Sharing respons pribadi kepada ayat itu (jika ada). 6. Pujian & doa penutup. Setelah itu, rasakan dan imani ibadah yang sah.
Selamat beribadah.