MEREMEHKAN MASALAH (COVID19)? BODOH, NEKAD & BUKAN TINDAKAN ORANG BERIMAN

1. Serius, saya TDK anggap enteng terhadap COVID19. Hanya orang bodoh, nekad dan TDK beriman yang bertindak demikian. Jika saya melangkah dengan tegak, itu karena karunia Tuhan.

2. Silakan tanya semua jemaat GBI Kalvari Cirebon. Dalam 3 kali ibadah, 8 Maret lalu kami belajar hal penting dari Mat.14:22-33. Ada dua sikap SALAH menghadapi masalah.

3. Pertama, ANGGAP REMEH.
Inilah versi Goliat. Jangan pernah menganggap enteng masalah. Tidak sedikit orang tersandung karena batu kecil. Goliat yg merasa hebat, mati di tangan Daud yang dianggapnya remeh, bagaikan anjing. (Baca 1Samuel 17:42-44).

4. Kedua, PANIK & MERASA TIDAK BERDAYA.
Ini versi 10 mata2 yang diutus Musa untuk mencintai tanah Kanaan. Mereka menghadapi masalah dengan panik, ketakutan. Akibatnya, mereka membesar-besarkan masalah, sehingga melihat diri seperti belalang!

Bilangan 13:31, 33 (TB) Tetapi orang-orang yang pergi ke sana bersama-sama dengan dia berkata: "Kita tidak dapat maju menyerang bangsa itu, karena mereka lebih kuat dari pada kita."
Juga kami lihat di sana orang-orang raksasa, orang Enak yang berasal dari orang-orang raksasa, dan kami lihat diri kami seperti belalang, dan demikian juga mereka terhadap kami."

5. Jika kita seperti ini menghadapi masalah, termasuk Covid19, maka wajar jika tanpa sadar, energi kita terkuras, pikiran cemas... kekuatan tubuhpun digerogoti...daya tahan tubuh menurun dan...

6 Itu juga yang terjadi dalam peristiwa di danau Galilea lebih 2000 tahun lalu. Ketika murid2 diombang-ambingkan angin Sakal, Tuhan Yesus segera datang ke tengah2 badai itu. Namun sayang, kepanikan membuat Petrus dkk TIDAK SANGGUP MELIHAT HADIRAT TUHAN. Mereka malah mengira hantu telah datang (ayat 26). Merekapun berteriak-teriak ketakutan.

7. Syukur, Tuhan yang sangat baik, bersabda dengan kuasaNya:
"TENANGLAH, AKU INI, JANGAN TAKUT" (ayat 27).

8. Mari kita perhatikan Sabda Tuhan tsb.
Mengapa Tuhan mengatakan agar mereka tenang? Apa dasarnya?
Bukan karena anggap remeh masalah. Ombaknya sangat besar. Mereka sudah sangat ketakutan.
Bukan karena Petrus dkk hebat, terbiasa dengan badai di danau Galilea. Sekalipun biasa, faktanya mereka sangat ketakutan.

9. Tuhan mendasarkan PERINTAH UNTUK TENANG, DENGAN MENUNJUK KEPADA DIRINYA. "Aku ini", demikian Tuhan menegaskan.

10. Dalam dua kata itu (Yunani, Ego eimi) Tuhan Yesus sedang menyatakan (reveal) siapa diriNya.

11. Dia adalah Allah yang Mahakuasa yang sanggup MENGONTROL SEMUA KEADAAN. Jawaban seperti ini (Ego Eimi) sama dengan cara Allah YHWH, ketika memperkenalkan diriNya kepada Musa (Kel.3:14). Terbukti, Tuhan Yesus yang adalah Allah oknum kedua Tritunggal langsung membuat badai angin sakal REDA (ayat 32)

12. HADAPI BERSAMA ALLAH.
Inilah sikap yang benar ketika badai topan, angin sekal mengancam!
Artinya, berjalanlah di tengah2 kesulitan dan ancaman maut itu dengan mata TERTUJU KEPADA TUHAN YESUS. Itulah yg dilakukan Petrus. Mari kita perhatikan dialog ini:

Matius 14:28-29 (TB) Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air."
Kata Yesus: "Datanglah!"

13. Apa yang terjadi?
"Maka Petrus turun dari perahu dan berjalan di atas air mendapatkan Yesus" (29b).

14. Apakah rekan2 percaya ayat itu suatu fakta? Historis? Maaf saya bertanya demikian, karena TDK sedikit ahli yang tidak percaya, bbrp teman2 saya bergelar doktor menolak itu (meski di Gereja TDK berani jujur).

15. Bagi kita yang percaya, maka tenanglah hati kita. Kita dapat bersyukur di rumah atas kuasa Allah tsb. Jika harus dan terpaksa harus keluar mencari nafkah, melangkahlah dengan mata yang tertuju kepada Yesus. Andalkan Tuhan, maka kita akan diberkati (Yer.17:7).

16. Sejujurnya, karena peristiwa Covid 19 banyak pertemuan saya batalkan. Ada dua berita duka membuat saya bergumul dalam doa, hadir atau tidak. Saya ikuti kata & keyakinan hati. Saya terus menikmati Sabda Tuhan Sang Ego Eimi: TENANGLAH, AKU INI, JANGAN TAKUT.

Soli Deo gloria.