MENGAPA MEMBANGUN MAKAM ATAU TUGU? (1)

#PembangunanMakamTugu

1. Mission Trip ke-X KBD Komunitas Bonapasogit Diaspora ke desa-desa di Samosir telah usai September lalu. Namun, salah satu pemandangan yang menyolok mata, masih terus ‘terlihat’ dan terbayang adalah begitu banyaknya makam, tugu berdiri dengan megah.

2. Percaya atau tidak, jika dihitung biaya yang dihabiskan untuk membangun makam atau tugu di kabupaten Samosir dan Toba, bisa sampai ribuan milyar, atau trilyunan rupiah. Satu tabloid menulis dana pembangunan satu tugu saja mencapai 2 milyar, belum lagi biaya pesta!

3. Lalu, untuk apa melakukan hal itu?
Ada beberapa alasan yang diberikan. Kita mulai dengan alasan pertama, menghormati orang tua, atau leluhur.
Tindakan mangongkal holi (menggali tulang belulang) dan membangun makam atau tugu dilihat sebagai ungkapan penghormatan kepada orang tua. "Asa sangap natua-tua i", demikian sering alasan yang diberikan. Bagi sebagian Batak Kristen, itu diyakini juga untuk melaksanakan perintah “hormatilah ayah dan ibumu” (Hukum Taurat ke-5).

4. Karena itu, wajar jika banyak anggota keluarga dengan segenap kemampuan mengeluarkan dananya, sekalipun mungkin harus meminjam. Siapakah yang mau dituduh tidak menghormati orang tua atau leluhur?

5. Namun, benarkah demikian?
Jika diperhatikan lebih teliti, ada ironi dalam ungkapan menghormati dan pasangap orang tua tsb. Tidak jarang ditemukan orang tua kesepian dan terlantar di masa hidupnya, bahkan ada yang ditemukan meninggal membusuk di rumahnya. Mengapa setelah meninggal diberikan 'penghormatan' itu? Wajar jika mengamati kenyataan itu, ada pencipta lagu mengingatkan agar para keturunan melakukan segala tindakan kasih kepada orang tua SELAMA HIDUP MEREKA DI DUNIA INI. “Uju di ngolungkon ma amang/inang, baen sude na tama...so marlapatan nauli na denggan na binahenmu....marembas, marpesta...molo dung mate au”.

6. Hal lain yang perlu dipertanyakan dengan kritis adalah, apakah benar tindakan membangun makam yang begitu megah sesuai HT ke-5? Semua perintah Tuhan pada Hukum Taurat diberikan Allah agar tercipta relasi kasih antar sesama SELAMA HIDUPNYA. Alkitab dengan jelas menyampaikan bahwa tidak ada relasi antara yang hidup dan yang mati. Itu sepenuhnya urusan Allah. Tentu saja, itu tidak berarti orang yang telah meninggal dibiarkan begitu saja. Sebagai keturunan yang benar, tentu saja akan menguburkannya dengan layak, sebagaimana seharusnya.

7. Karena itu, perlu didoakan dan dipikirkan sungguh-sungguh cara lain yang sesuai Alkitab dalam rangka menghormati orang tua, baik ketika hidup dan setelah itu. Salah satu misalnya adalah menerapkan nasehat-nasehatnya yang baik selama hidupnya. Termasuk merawat dan mengurus anak-anak, keturunan orang tua yang telah meninggal itu. Jika memang kasih dan penghormatan yang tulus yang akan diberikan kepada orang tua dan leluhur tsb, buat apa menghabiskan banyak dana membangun makam, sementara keturunannya hidup dalam kemiskinan?

8. Sebenarnya, itulah salah satu pelajaran penting yang kita peroleh dalam persahabatan Daud dan Yonatan, anak Raja Saul. Setelah raja Saul dan Yonatan meninggal, Daud menyatakan kasih dan penghormatannya kepada keluarga Saul. “Tidak adakah lagi orang yang tinggal dari keluarga Saul? Aku hendak menunjukkan kepadanya KASIH yang dari Allah” (2Sam.9:3). Lalu, raja Daud mencari dan menjemput anak Yonatan, cucu Saul yang cacat, yiatu Mefiboset. Itu dilakukannya bukan basa-basi. Setelah bertemu dengannya, raja Daud berkata kepada Ziba hamba raja Saul, “...Mefiboset cucu tuanmu itu, akan tetap sehidangan dengan aku” (ayat 10).
(Bersambung)